JATIMTIMES - Di balik sosoknya yang tegas dan dikenal sebagai pemimpin Bani Israel, Nabi Musa AS menyimpan satu kelemahan yang ia sadari betul: lidahnya tidak selalu berjalan secepat pikirannya. Kekurangan dalam berbicara itu bukan disembunyikan, justru diabadikan dalam Al-Qur’an, ketika ia bermunajat agar diberi kemudahan menyampaikan pesan Tuhan (QS. Taha: 27–28). Doa yang sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna: Nabi Musa ingin ucapannya mudah dipahami.
"Wahlul 'uqdatam milli saanii"
"dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku" (ayat 27).
"Yafqahuu qawlii""agar mereka mengerti perkataanku" (ayat 28).
Baca Juga : Siapa yang Berhak Melunasi Biaya Haji 2026 Tahap Pertama? Berikut Daftar Jemaahnya
Para ulama tafsir klasik, di antaranya Ibnu Katsir dan Asy-Syaukani, mengaitkan kesulitannya berbicara dengan peristiwa masa kecil. Dalam riwayat yang banyak dikutip, Musa kecil pernah memasukkan bara api ke mulutnya. Ibnu Katsir menuliskan bahwa bara itu mengenai lidah, meninggalkan bekas yang kemudian memengaruhi kefasihannya.
Menariknya, menurut penjelasan Ibnu Katsir, Nabi Musa tidak meminta agar kekurangannya itu dihapus total. Ia hanya memohon bantuan secukupnya, sebatas agar kaumnya dapat memahami risalah yang ia sampaikan. Prinsipnya jelas, para nabi tidak meminta sesuatu yang berlebihan dari yang mereka butuhkan. Musa hanya ingin bisa menyampaikan pesan dengan jelas, tidak lebih.
Hasan Basri, dalam riwayat yang juga dibawakan Ibnu Katsir menegaskan hal serupa. Ia menyebut, permintaan Musa semata untuk urusan tertentu. “Seandainya ia meminta lebih, niscaya Allah akan memberikannya,” ujar Hasan Basri.
Kecemasan itu semakin terasa ketika Musa diutus kembali menghadapi Fir’aun. Ibnu Abbas menggambarkan, rasa kurang percaya diri itu muncul karena Musa tidak selalu lancar berbicara. Kekakuan lidahnya membuat ia khawatir tidak dapat mengungkapkan banyak hal di hadapan penguasa yang terkenal keras kepala itu.
Dari situlah muncul permintaan tambahan: ia memohon agar saudaranya, Nabi Harun, dijadikan pendamping. Harun dikenal lebih fasih dan tenang saat berbicara, ketenangan yang mampu melengkapi keterbatasan Musa. Dengan kefasihan Harun, pesan yang dibawa wahyu dapat tersampaikan tanpa tersandung.
Baca Juga : Apakah Jalan Kaki Pagi Hari Tanpa Alas Kaki Aman? Ini Manfaat, Risiko, dan Penjelasannya
Kisah serupa muncul dari catatan Ibnu Abi Hatim mengenai Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazi. Suatu ketika, seorang kerabat bertanya mengapa ia tampak kesulitan berbicara di depan banyak orang.
Al-Qurazi balik bertanya, “Jika aku bicara padamu, apakah kamu mengerti?” Kerabat itu mengangguk. Ia lalu mengingatkan, Nabi Musa pun hanya meminta kelancaran sebatas agar Bani Israel memahami ucapannya, tidak lebih.
