Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

Mengejar Jabatan dalam Islam, Bolehkah? Hadis Nabi dan Kisah Nabi Ini Memberi Penjelasan

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

14 - Sep - 2026, 11:53

Placeholder
Ilustrasi sebuah ambisi mengejar jabatan dan bolehkah seseorang mengejar jabatan dalam Islam (ist)

JATIMTIMES - Jabatan dalam Islam tidak semata-mata dipandang sebagai kedudukan yang memberikan kewenangan. Amanah kekuasaan juga membawa tanggung jawab besar yang akan dipertanggungjawabkan, sehingga keinginan memperoleh jabatan perlu dilihat dari niat, cara, serta kemampuan orang yang bersangkutan.

Peringatan mengenai ambisi terhadap kekuasaan disampaikan Rasulullah SAW melalui hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. Nabi SAW bersabda: 

Baca Juga : 7 Peristiwa Penting di Bulan Rabiul Akhir, Ada Perang Jamal hingga Penaklukan Damaskus

“Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba mendapatkan jabatan, padahal kelak di akhirat akan menjadi sebuah penyesalan.” (HR Bukhari).

Hadis tersebut memberikan peringatan tentang beratnya tanggung jawab sebuah kekuasaan. Jabatan bukan sekadar perkara memperoleh posisi atau kehormatan, tetapi juga menyangkut amanah yang harus dijalankan dengan benar.

Namun, hal itu tidak serta-merta berarti seorang Muslim sama sekali tidak boleh menginginkan atau mengajukan diri untuk menduduki sebuah jabatan. Dalam kondisi tertentu, keinginan tersebut dapat dibenarkan apabila didasari kebutuhan untuk menjalankan kemaslahatan dan orang yang bersangkutan memang memiliki kapasitas untuk mengemban tanggung jawab tersebut.

Gambaran mengenai hal itu dapat ditemukan dalam kisah Nabi Yusuf AS. Ketika berada di Mesir, Nabi Yusuf melihat persoalan yang berpotensi mengancam kehidupan masyarakat. Pengetahuan dan kemampuannya membuat beliau memahami pentingnya pengelolaan sumber daya secara tepat untuk menghadapi masa sulit yang akan datang.

Dalam konteks tersebut, Nabi Yusuf AS menyampaikan kesediaannya untuk mengemban tugas yang berkaitan dengan pengelolaan perbendaharaan negara. Pernyataan tersebut tercantum dalam Al-Qur'an Surat Yusuf ayat 55:

“Dia (Yusuf) berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.’”
(QS Yusuf: 55).

Baca Juga : Haji Pakai Uang Pinjaman, Sah atau Justru Jadi Beban? Ini Penjelasannya

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi Yusuf AS menyampaikan kapasitas dirinya ketika menawarkan diri untuk mengemban sebuah tanggung jawab. Ada dua kualitas yang disebutkan, yakni kemampuan menjaga amanah dan pengetahuan yang diperlukan untuk menjalankan tugas.

Karena itu, persoalan mengejar jabatan dalam perspektif Islam tidak hanya dapat dilihat dari tindakan seseorang mencalonkan atau menawarkan dirinya. Niat dan tujuan di balik keinginan tersebut juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Keinginan memperoleh kedudukan yang ditempuh melalui persaingan yang sehat, tidak menghalalkan segala cara, serta didukung kompetensi dan integritas memiliki konteks yang berbeda dengan ambisi kekuasaan yang semata-mata mengejar kepentingan pribadi.

Dalam kisah Nabi Yusuf AS, pengajuan diri berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan adanya kemampuan untuk menjalankan tugas tersebut. Sementara hadis Nabi SAW mengingatkan bahwa kekuasaan dapat berubah menjadi sumber penyesalan apabila seseorang tidak mampu mempertanggungjawabkan amanah yang diterimanya.


Topik

Pendidikan jabatan jabatan dalam islam



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana