JATIMTIMES - Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Jumat (11/9/2026). Hingga pukul 16.36 WIB, tercatat delapan kali erupsi dengan amplitudo maksimum mencapai 25 mm.
Erupsi terakhir terjadi pukul 13.41 WIB. Letusan tidak teramati secara visual, tetapi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 105 detik.
Baca Juga : PKL Kucing-kucingan, Satpol PP Malang Siapkan Pos Pantau 10 Hari Nonstop
Sebelumnya, erupsi tercatat pada pukul 00.26, 04.27, 05.05, 06.16, 09.45, 10.09, dan 11.01 WIB.
Erupsi pukul 06.16 WIB memiliki amplitudo maksimum 23 mm dengan durasi 187 detik. Kemudian erupsi pukul 09.45 WIB tercatat dengan amplitudo 22 mm dan durasi 138 detik.
Pada pukul 10.09 WIB, erupsi memiliki amplitudo maksimum 22 mm dan berlangsung selama 113 detik. Erupsi pukul 11.01 WIB juga tercatat dengan amplitudo 22 mm dan durasi 113 detik.
Sementara itu, erupsi pukul 13.41 WIB menjadi yang terbesar dari delapan kejadian tersebut berdasarkan amplitudo yang terekam, yakni 25 mm.
Sebagai informasi, status Gunung Semeru saat ini berada pada Level III (Siaga). Aktivitas vulkanik gunung di Jawa Timur ini juga masih tinggi dengan dominasi gempa letusan serta beberapa gempa guguran dan hembusan.
Petugas Pantau Semeru Sigit Rian Alfian melaporkan aktivitas Gunung Semeru pada periode pengamatan Jumat (11/9/2026) pukul 06.00-12.00 WIB.
"Kondisi gunung tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung dengan angin lemah menuju barat dan barat laut. Suhu udara sekitar 19-24°C," tulis Sigit dalam laporannya di laman resmi ESDM.
Selama periode tersebut, Sigit juga mencatat terjadi 32 kali gempa letusan. Amplitudonya berada pada kisaran 10-24 mm dengan durasi 78-201 detik.
"Dua kali gempa guguran dengan amplitudo 2-3 mm dan durasi 35-54 detik," tambah laporan Sigit.
Terjadi juga dua kali gempa hembusan dengan amplitudo 3-8 mm dan durasi 51-82 detik. Untuk gempa tektonik, tercatat satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 6 mm, S-P 6,71 detik dan durasi 16 detik.
Baca Juga : Titik Api Muncul di Gunung Kilap, Tim Gabungan Buat Sekat Bakar di Cikasur Gunung Argopuro Situbondo
"Gempa tektonik jauh tercatat satu kali dengan amplitudo 20 mm, S-P 16 detik dan durasi 42 detik," sambung keterangannya.
Dalam rekomendasinya, Sigit meminta masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 km dari puncak atau pusat erupsi.
Masyarakat di luar jarak tersebut juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Kawasan tersebut masih berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 km dari puncak.
"Waspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru," tulis Sigit.
Kewaspadaan terutama ditujukan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga perlu diperhatikan di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan.
Selain itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena kawasan tersebut masih rawan lontaran batu pijar.
