Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Karhutla Masih Terjadi, Pernyataan UAS soal Tak Pernah Mau Imami Salat Istisqa Viral Lagi

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

05 - Sep - 2026, 08:28

Placeholder
Ulama Indonesia Ustaz Abdul Somad (UAS). (Foto: YouTube)

JATIMTIMES - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah. Di tengah kondisi tersebut, pernyataan ulama Indonesia Ustaz Abdul Somad (UAS) soal alasannya tak pernah mau menjadi imam salat Istisqa kembali viral di media sosial.

Pernyataan tersebut sebenarnya disampaikan UAS dalam forum keagamaan di Mapolda Riau bertajuk "Kajian Subuh Ilmiah: Alam dan Kita dalam Perspektif Agama dan Sains" pada 9 Mei 2025.

Baca Juga : Kejar Target Wajib Halal Oktober 2026, LPH Universitas Brawijaya Perkuat Kompetensi Auditor

Dalam video yang kembali beredar, UAS menjelaskan alasan dirinya tidak pernah mau mengimami salat Istisqa untuk meminta hujan saat terjadi kebakaran hutan dan lahan.

"Saya seumur-umur hidup tak pernah sholat istisqa. Tak pernah. Sekalipun tak pernah," ujar UAS dalam video tersebut.

Ia kemudian menjelaskan alasan di balik sikapnya. Menurut UAS, persoalan yang terjadi bukanlah bencana kebakaran yang membutuhkan hujan, namun ada dugaan tindakan manusia yang sengaja membakar hutan dan lahan.

"Karena saya tahu ini bukan kebakaran. (Tapi) Dibakar. Ini kejahatan. Data. Real. True story. Kisah nyata," katanya.

UAS menilai kerusakan lingkungan akibat pembakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak pada alam. Masyarakat juga menjadi pihak yang merasakan langsung dampaknya, terutama akibat buruknya kualitas udara.

"Gara-gara rahmat dicabut. (Kok ada) Sanggup orang membakar hutan. 6,7 juta orang menghirup udara kotor. Rahmat (pelaku) dicabut dari dalam hati," tuturnya.

UAS kemudian mengungkap alasan lain yang membuatnya enggan memimpin salat Istisqa. Ia menyoroti kemungkinan orang yang melakukan pembakaran justru ikut dalam salat untuk memohon hujan.

"Yang membakar itu pula ikut sholat istisqa. Ya Allah. Turunkan hujan ya. Yang membakar kan ente," ucapnya.

Menurut UAS, memohon hujan tanpa terlebih dahulu mengatasi tindakan manusia yang menjadi penyebab kebakaran merupakan persoalan moral yang perlu diperhatikan.

Baca Juga : Cara Top Up ML Anti Ribet, Diamond Masuk dalam Hitungan Menit

"Karena saya tahu ini bukan kebakaran. Dibakar. Ini kejahatan. Saat mendoakan orang jahat, kok didoakan?" katanya.

Pernyataan tersebut kemudian kembali menjadi perhatian ketika kasus karhutla terjadi dan kabut asap kembali mengancam sejumlah daerah. Potongan video UAS beredar di media sosial dan memunculkan beragam tanggapan dari warganet.

Apa Itu Salat Istisqa?

Salat Istisqa merupakan salat sunah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan. Salat ini umumnya dilakukan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan, kemarau panjang, atau sumber air mulai mengering dan kondisi tersebut mengancam kehidupan masyarakat.

Salat Istisqa termasuk salat sunah muakkadah atau salat yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan ketika terjadi kekeringan.

Pelaksanaannya dilakukan pada siang hari setelah matahari terbit. Tata caranya terdiri dari dua rakaat secara berjemaah, umumnya di tanah lapang, kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

Dalam khutbah Salat Istisqa, jemaah dianjurkan memperbanyak istigfar dan doa untuk memohon turunnya hujan. Selain berdoa, pelaksanaan salat tersebut juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi dan memperbanyak istigfar.


Topik

Peristiwa kebakaran hutan salat istisqa salat memohon hujan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri