JATIMTIMES – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Kota Malang kembali menunjukkan fenomena kuatnya preferensi masyarakat terhadap sekolah negeri. Di tengah keterbatasan daya tampung SMP negeri, puluhan sekolah swasta justru masih kesulitan memenuhi kuota peserta didik baru.
Data rekapitulasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP Swasta Kota Malang yang dihimpun Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kota Malang menunjukkan kesenjangan cukup tajam. Dari total sekitar 90 SMP swasta yang terdata, hanya 13 sekolah yang berhasil memenuhi kuota penerimaan siswa hingga 100 persen.
Baca Juga : Belajar dari Alam, Strategi MTsN 2 Kota Malang Bentuk Siswa Olimpiade Berdaya Saing
Sebanyak 9 sekolah mencatat keterisian antara 75 hingga 99 persen, 15 sekolah berada pada rentang 50 hingga 75 persen, 14 sekolah terisi 25 hingga 50 persen, sementara 37 sekolah hanya mampu mengisi kurang dari seperempat kuota yang tersedia. Bahkan terdapat enam sekolah yang hingga pendataan dilakukan belum memperoleh siswa sama sekali.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana SE MM mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari masih kuatnya pola pikir masyarakat yang memprioritaskan sekolah negeri.
"Kalau mutu itu kan sama ya, negeri maupun swasta. Cuma masyarakat itu masih kaitannya dengan negeri minded," ujar Suwarjana, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, banyak orang tua yang masih berupaya memasukkan anaknya ke sekolah negeri selama proses SPMB berlangsung. Akibatnya, sejumlah sekolah swasta baru akan menjadi pilihan setelah seluruh tahapan penerimaan di sekolah negeri berakhir.
"Saya yakin nanti akan terisi ketika SPMB SMP negeri itu selesai. Kalau sekarang masyarakat bagaimana caranya tetap masih di negeri," katanya.
Suwarjana menjelaskan, secara matematis jumlah lulusan sekolah dasar di Kota Malang jauh melampaui kapasitas sekolah negeri. Tahun ini jumlah lulusan SD mencapai lebih dari 14 ribu siswa, sedangkan daya tampung SMP negeri hanya sekitar 7.500 kursi.
"Menurut perhitungan kami, lulusan ini ada 14.000 sekian. Sementara daya tampung SMP negeri itu hanya 7.500-an. Berarti hampir separuh tidak tertampung. Tertampungnya di mana? Di MTs negeri hanya ada dua. Berarti nanti tertampungnya di MTs swasta dan SMP swasta," jelasnya.
Data MKKS SMP Swasta menunjukkan sekolah yang berhasil memenuhi kuota secara penuh terdiri dari SMP Aisyiyah Muhammadiyah 3 Malang, SMP Brawijaya Smart School, SMP Charis, SMP Insan Amanah, SMP Islam Paramitha, SMP Islam Sabilillah Malang, SMP Laboratorium UM, SMP NU Syamsuddin, SMP PGRI 04, SMP PGRI 3 Malang, SMP PGRI 6 Malang, serta SMPK Kolese Santo Yusup 1 Malang.
Di sisi lain, terdapat enam sekolah yang belum memperoleh peserta didik baru sama sekali, yakni SMP Ibnu Sina, SMP Islam Al Amin, SMP Islam Malang, SMP Taman Harapan, SMP NU Hasyim Asyari, dan SMP Kertanegara.
Baca Juga : Bawa Coban Sewu ke Asia, Kabupaten Malang Bidik Wisman
Sejumlah sekolah lainnya bahkan masih mencatat keterisian di bawah 10 persen. Di antaranya SMP Tamansiswa yang baru mendapatkan dua siswa dari kuota 192 siswa, SMP Shalahuddin dengan empat siswa dari pagu 165 siswa, SMPI Mutiara Hati satu siswa dari kuota 32 siswa, SMP Ardjuna Malang satu siswa dari pagu 30 siswa, serta SMP Sriwedari yang baru memperoleh tiga siswa dari kapasitas 64 siswa.
Kondisi serupa juga dialami SMP ASIFA, SMP Kartika IV-9 Malang, SMP Bhakti, SMP Muhammadiyah 4, SMP Nasional Malang, SMP Kartika IV-8, SMP Islam Ma'arif 02 Malang, SMP Islam Nurul Huda, SMP Annuriyah, hingga SMP PGRI 08 Malang yang seluruhnya masih berada di bawah 10 persen keterisian.
Meski demikian, terdapat pula sekolah swasta yang mampu menarik minat masyarakat cukup tinggi. SMP PJ Global School menjadi sekolah dengan tingkat keterisian tertinggi di kelompok belum penuh dengan capaian 79 siswa dari kuota 80 siswa atau 98,8 persen. Disusul SMP Kristen Kalam Kudus dengan keterisian 96 persen, SMPK Kolese Santo Yusup 2 sebesar 89,8 persen, SMP National Leader School Malang 87,9 persen, SMP Bina Bangsa Malang 83,3 persen, serta SMP Cor Jesu Malang yang mencapai 80 persen.
Laporan MKKS juga mencatat dua sekolah belum menyampaikan data PPDB, yakni SMP Tarbiyatul Huda dan SMP Kartini Yasri.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang optimistis keterisian sekolah swasta masih akan bertambah setelah seluruh tahapan SPMB SMP negeri selesai. Dengan selisih yang cukup besar antara jumlah lulusan SD dan daya tampung sekolah negeri, sekolah swasta diperkirakan tetap menjadi penopang utama akses pendidikan jenjang menengah pertama di Kota Malang.
"Mudah-mudahan terpenuhi. Kalau melihat jumlah lulusan dan sebarannya, serta daya tampung SMP negeri yang ada, nanti pasti akan terisi," pungkas Suwarjana.
