Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Pendidikan

Serapan Kerja Tak Sampai 50 Persen Akibat Gap Mental di Industri Pariwisata, PHRI Batu: Perlu Digembleng BLK

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

24 - Jun - 2026, 09:34

Placeholder
Ilustrasi pekerja perhotelan di Kota Batu. Calon pekerja industri pariwisata di Kota Batu dari lulusan SMK banyak yang diakui belum memiliki mentalitas siap menghadapi dunia kerja, akibatnya serapan lulusan SMK di perhotelan Batu masih minim. (Foto: Prasetyo Lanang/ JatimTIMES)

JATIMTIMES – Relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri di Kota Batu menemui masalah krusial. Bukan soal kompetensi primer, melainkan kesiapan mental menghadapi dunia kerja dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diakui masih terjadi ketimpangan.

Hal ini dirasakan khususnya oleh para pelaku industri pariwisata dan perhotelan di Kota Batu. Persoalan mendasar di lapangan ternyata bukan lagi sekadar urusan hard skill atau ketertinggalan kurikulum berbasis teknologi.

Baca Juga : 10 Pejabat Tinggi Dinas Jalani Ujikom di BKD Jatim, Pemkot Batu Bersiap Bongkar Pasang Jabatan?0

Industri perhotelan secara blak-blakan menyebut adanya gap (jarak) yang sangat lebar pada aspek mentalitas, ketahanan terhadap tekanan kerja (pressure), serta karakter riil para lulusan saat diterjunkan ke ekosistem kerja profesional.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa secara teknis, kemampuan siswa SMK di Malang Raya sebenarnya sangat luar biasa. Dalam beberapa kasus, kecepatan kerja siswa SMK bahkan mampu menumbangkan catatan waktu karyawan hotel senior.

"Kami pernah mengirim siswa SMKN 1 Batu untuk kompetensi making bed (menata kasur) tingkat nasional, kecepatannya luar biasa. Saat profesional butuh 5 menit, anak sekolah ini bisa menyelesaikan dalam waktu 7 menit. Itu mengalahkan karyawan saya yang asli," ujar Sujud saat dikonfirmasi JatimTIMES, belum lama ini.

Namun, Sujud menggarisbawahi bahwa capaian mumpuni itu hanyalah kasus kasuistik yang mewakili satu atau dua siswa terbaik di sekolahnya. Secara makro, potret lulusan SMK yang masuk ke industri perhotelan justru berbanding terbalik. PHRI mencatat, angka keterserapan langsung lulusan SMK pariwisata ke dunia kerja riil di Kota Batu saat ini diperkirakan tidak sampai menembus angka 50 persen.

"Di Batu ini, yang terserap langsung saya yakin tidak ada 50 persen. Sebagian besar akhirnya memilih kuliah atau justru terpaksa bekerja di luar bidang keahliannya karena memang tidak siap kerja," ungkap Sujud.

Menurutnya, pemicu utama dari rendahnya serapan ini adalah rapuhnya mentalitas menghadapi tekanan dunia kerja nyata. Saat masih menyandang status magang atau trainee dengan seragam hitam-putih, para siswa masih berada di zona aman karena setiap kesalahan yang dibuat cenderung dimaklumi oleh manajemen maupun tamu hotel.

"Tapi begitu mereka lulus, memakai seragam resmi hotel, dan dihadapkan pada komplain konsumen, tekanannya berubah drastis. Di situlah letak gap-nya, banyak yang mentalnya tidak siap dan akhirnya tumbang," tuturnya.

Baca Juga : Tracer Study UIN Malang Dibuka, Data Karier Alumni Jadi Penopang Evaluasi Kampus dan IKU

Kondisi ini diperparah oleh adanya dikotomi pola didik SMK. Sujud mengkritik fenomena didikan SMK yang enggan memberikan tekanan disiplin kepada murid, salah satunya dilatarbelakangi karena keterbatasan fasilitas. Sedangkan SMK yang memiliki fasilitas laboratorium lengkap serta guru yang berani mampu menekan siswa demi pembentukan karakter kerja.

"Kalau sekolah yang alatnya lengkap dan gurunya berani menekan (pressure) murid agar berkembang. Sementara di SMK yang lain, ada guru cenderung mengalah, asal anak masuk sekolah. Padahal di dunia kerja, kedisiplinan dan karakter itu nomor satu, seharusnya sejak awal membentuk karakter anak secara keras dan disiplin," tegas pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta itu.

Guna memangkas gap kompetensi dan mentalitas yang menganga tersebut, PHRI Kota Batu mendesak adanya penguatan program jembatan berupa Balai Latihan Kerja (BLK) khusus perhotelan selama 6 bulan pasca-kelulusan SMK, seperti yang diterapkan Batu Hospitality Center. Pelatihan intensif di BLK dinilai menjadi instrumen wajib untuk mencuci mental manja lulusan baru sebelum dilepas ke industri.

Akibat meluasnya krisis karakter ini, manajemen perhotelan di Kota Batu kini mulai mengubah total strategi rekrutmen mereka. Lembar portofolio Curriculum Vitae (CV) yang indah maupun kepemilikan ijazah akademis tinggi seperti Sarjana (S1) tidak lagi menjadi jaminan dan acuan utama.

"Kami sekarang tidak pernah melihat CV. Jujur, kami 100 persen lebih memilih merekrut karyawan dari jalur anak magang atau pekerja harian (casual/daily worker) yang sudah kami pantau minimal setengah tahun. Karakter asli, apakah dia ketus, malas, atau tidak stabil, itu baru akan kelihatan setelah bulan ketiga. CV yang bagus di atas kertas sering kali menipu di lapangan," pungkas Sujud.


Topik

Pendidikan Serapan Kerjan Gap Mental Industri Pariwisata PHRI Batu BLK Kota Batu



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan