Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Manisnya Ghibah dalam Tipu Daya Iblis

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

11 - Apr - 2026, 12:00

Placeholder
Ilustrasi ghibah yang terasa ringan tersembunyi tipu daya iblis. (ist)

JATIMTIMES - Dalam sebuah kisah yang sering dinukil dalam literatur tasawuf, Nabi Isa AS pernah berjumpa dengan Iblis yang membawa dua benda di tangannya: madu dan abu. Pertemuan itu menyimpan pelajaran yang dalam tentang cara keburukan bekerja dalam kehidupan manusia, bukan dengan paksaan, tetapi dengan rasa.

Nabi Isa bertanya, “Apa yang akan engkau lakukan dengan madu dan abu itu?”

Baca Juga : Jejak Penanganan Kekerasan Seksual di Masa Rasulullah SAW dan Umar RA

Iblis menjawab, “Madu ini akan kuoleskan ke bibir orang-orang yang gemar berbuat ghibah, agar mereka merasakan manisnya dan semakin suka melakukannya. Adapun abu ini akan kutaburkan ke wajah anak-anak yatim, supaya manusia membenci mereka.”

Jawaban itu sederhana, tetapi maknanya luas. Ia menunjukkan bahwa keburukan tidak selalu datang dalam bentuk yang menakutkan. Ia bisa terasa nikmat, ringan, bahkan menyenangkan. Sementara kebaikan bisa dibuat tampak berat dan tidak menarik.

Gambaran itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal ghibah. Banyak orang tidak merasa sedang melakukan kesalahan ketika membicarakan keburukan orang lain. Obrolan terasa mengalir, suasana terasa akrab, bahkan sering diselingi tawa. Tanpa disadari, yang sedang terjadi adalah membuka aib orang lain.

Padahal, Al-Qur’an telah memberi peringatan yang jelas: “Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.” (QS. Al-Hujurat: 12). Larangan ini bukan sekadar etika, tetapi bentuk penjagaan terhadap kehormatan manusia.

Rasulullah SAW pun menjelaskan batasannya dengan tegas. Ketika ditanya tentang ghibah, beliau bersabda, “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.” Lalu beliau menambahkan, “Jika benar, maka engkau telah mengghibahnya. Jika tidak benar, maka engkau telah memfitnahnya.” Dari sini jelas bahwa kebenaran isi ucapan tidak menjadikannya boleh, selama itu menyakiti orang yang dibicarakan.

Sering  ghibah muncul dalam hal-hal kecil. Menyinggung fisik, kebiasaan, atau keadaan seseorang bisa dianggap sepele. Namun dalam sebuah riwayat, ketika Siti Aisyah menyebut seorang wanita bertubuh pendek, Nabi langsung menegur dan menyatakan bahwa itu termasuk ghibah. Ini menunjukkan bahwa ukuran ghibah bukan pada besar kecilnya ucapan, tetapi pada dampaknya bagi orang lain.

Baca Juga : Khutbah Jumat 10 April 2026: Saatnya Muhasabah, Sudahkah Ibadah Kita Tetap Terjaga?

Kisah Nabi Isa dan Iblis tadi seperti membuka tabir mengapa ghibah begitu mudah dilakukan. Ia tidak terasa sebagai dosa karena telah “dimaniskan”. Orang tidak merasa berat, bahkan bisa merasa puas saat melakukannya. Di situlah letak bahayanya. Ketika sesuatu yang salah terasa menyenangkan, seseorang bisa terus mengulanginya tanpa sadar.

Sebaliknya, apa yang dilakukan Iblis dengan abu dalam kisah itu juga memberi gambaran lain. Anak-anak yatim yang seharusnya mendapat perhatian dan kasih sayang justru dibuat tampak tidak menarik di mata manusia. Ini menunjukkan bahwa keburukan tidak hanya memperindah dosa, tetapi juga menjauhkan manusia dari kebaikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, dua hal ini sering berjalan bersamaan. Seseorang bisa ringan dalam membicarakan keburukan orang lain, tetapi berat untuk berbuat baik kepada sesama. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena rasa dalam dirinya telah dipengaruhi. Karena itu, yang perlu diwaspadai bukan hanya perbuatannya, tetapi juga perasaan yang menyertainya. 


Topik

Agama Ghibah kajian Islami manisnya ghibah godaan iblis



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy