Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Profil

Soekarni, Anak Keluarga Jagal Sapi yang jadi Tokoh Penggerak Kemerdekaan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Heryanto

12 - Nov - 2019, 00:51

Placeholder
BLITARTIMES saat berkunjung ke rumah orang tua Soekarni di Kel Sumberdiren Garum.(Foto : Team BlitarTIMES)

Soekarni Kartodiwirjo menjadi salah seorang tokoh pejuang dari Jawa Timur yang mendapat penghargaan gelar pahlawan nasional dari Presiden Joko Widodo. 

Gelar pahlawan itu diberikan Presiden kepada Pria kelahiran Blitar ini pada tahun 2014. 

Sukarni merupakan sosok yang memiliki peran penting di balik sejarah proses pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI.

Saat prosesnya, Soekarni adalah sosok yang mewakili kelompok muda agar pasangan Soekarno-Hatta secepatnya memproklamasikan kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945. 

Dia tidak menginginkan pasangan itu terlalu berpikir lama menyatakan kemerdekaan negara.

Sejarah ini yang membuat kelompok pemuda harus melakukan ‘penculikan’ terhadap kedua pemimpin itu ke Rengasdengklok, Jawa Barat.

Sosoknya sejak kecil digambarkan sebagai orang yang membenci Belanda. 

Lahir di Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916, Soekarni punya catatan gemar berkelahi dengan anak-anak Belanda. Hal ini dilakukannya hampir setiap hari. 

Pola pikir membenci Belanda ini karena tertanam oleh gurunya yang juga tokoh pergerakan Indonesia saat itu, Mohammad Anwar.

Pihak keluarga mengaku, butuh waktu bertahun-tahun agar Soekarni mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah.

"Keluarga sangat senang dengan pemberian gelar tersebut. Ini semua berkat perjuangan anak terakhir Soekarni. Saya tidak tahu kenapa bisa selama itu. Mungkin politik ya, tapi kami tidak ingin berspekulasi lebih jauh terkait hal itu. Yang penting saat ini keluarga sudah tenang. Dia (Soekarni)itu berjasa terhadap bangsa Indonesia. Dia perumus teks proklamasi. Bagaimanapun dia pantas mendapatkan gelar itu," ungkap Kiswoto, salah satu keluarga Soekarni di Kelurahan Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

Kiswoto ialah keluarga Soekarni yang bertempat tinggal tidak jauh dari rumah orang tua Soekarni, hanya beberapa meter saja jaraknya. 

Di rumah itulah Soekarni menghabiskan masa kecilnya. 

Dari kunjungan ini BLITARTIMES berkesempatan melihat-lihat rumah orang tua Soekarni.

Rumah itu masih nampak asli, berarsitektur joglo klasik dan memiliki hamparan halaman yang cukup luas. 

Di depan rumah bercat putih itu berdiri tiang bendera, dimana setiap tanggal 16 Agustus sore di tempat ini digelar Upacara Mapak Proklamasi oleh para pemuda dan budayawan Blitar, upacara ini untuk mengenang perjuangan Soekarni.

Menurut Kiswoto, rumah itu dulu pernah dipugar namun tidak sampai menghilangkan bentuk aslinya.

"Paling waktu itu hanya mengganti atap yang roboh akibat dampak letusan gunung Kelud. Jadi, atapnya diganti tapi tetap dengan model yang sama," terang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ini.

Di sebelah timur bangunan rumah utama terdapat bangunan garasi. 

Tempat itu dulu dimanfaafkan oleh keluarga Soekarni untuk menyimpan mobil. 

Masuk rumah Soekarni langsung disambut sebuah tulisan. 

"Ndalem Soekarni" lalu di bawahnya diterjemahkan dengan aksara Jawa. Kondisi pintu, jendela, hingga tiang penyangga atau saka. "Semua masih asli. Kayu saka juga masih asli dari Jati," terangnya.

Bagian depan rumah Soekarni terdapat ruang utama atau bale. 

Kemudian ada ruang bagian tengah, ruang keluarga dan dapur. 

Di ruang utama itu terdapat sejumlah foto Soekarni dan keluarganya. 

Selain foto ada juga barang-barang lawas peninggalan keluarga Soekarni. Ada juga patung Soekarni ukuran besar dengan bentuk setengah badan.

Sementara itu,di ruang keluarga, terdapat meja dan kursi lawas. Di ruang keluarga juga terdapat dua ruang kamar tidur. 

"Yang ini tempat tidur Soekarni," kata Kiswoto sembari menunjukkan bagian dalam kamar yang masih utuh itu.

Di ruang keluarga itu dipajang foto-fofo kenangan keluarga Soekarni. 

Ada foto orang tua Soekarni, foto saudara-saudaranya hingga foto keluarga Soekarni bersama Presiden pertama RI Soekarno.

"Ini semua saudaranya," ujar pria sepuh itu sambil menunjukkan satu persatu saudara Soekarni di foto itu.

Kemudian, di bagian belakang rumah terdapat halaman dan di sekelilingnya terdapat dapur.

"Dulu sini tempat jagal (sapi). Memang orang tua Soekarni dulu seorang jagal. Jagalnya itu terkenal se-Kabupaten Blitar," ungkapnya.

Namun lanjut dia, usaha jagal milik keluarga Soekarni itu tutup. 

Hal ini disebabkan tidak adanya keturunan keluarga yang meneruskan jejak sebagai jagal.

"Sebenarnya saya dulu diminta untuk meneruskan. Tetapi, saya sibuk di luar," ujar pria ramah ini.

Rumah peninggalan Keluarga Soekarni saat ini dikelola dan dirawat oleh Kiswoto dan beberapa saudaranya. 

Setiap malam, rumah itu dijaga oleh seorang utusan Kiswoto. 

Rumah Soekarni itu kini menjadi tempat belajar sejarah para pelajar. 

Mereka datang untuk belajar sejarah tentang kehidupan Soekarni dan keluarganya.

Kini rumah Soekarni juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan khususnya oleh masyarakat Kelurahan Sumberdiren. 

Mulai acara rapat RT, malam tirakatan, peringatan hari pahlawan hingga posyandu lansia. 

Para pemuda dan warga setempat yang menggerakkan.

Di samping itu, rumah tersebut juga digunakan untuk acara pribadi keluarga Soekarni. 

"Setiap Lebaran semua keluarga ngumpUlnya di sini. Jadinya rame. saudara-saudara yang ada di luar daerah pulang ke sini ngumpul," papar Kiswoto.(*)


Topik

Profil blitar berita-blitar Soekarni-Kartodiwirjo pahlawan-nasional Upacara-Mapak-Proklamasi-oleh-para-pemuda-dan-budayawan-Blitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Heryanto