JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Dibalik Ambisi UIN Malang Menjadi Kampus Global, Ada Persoalan Anggaran yang Disorot Rektor

Reporter: Anggara Sudiongko • Editor: A Yahya
📅 14 Oktober 2026, 21:35 WIB • ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES - Ambisi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang untuk memperluas reputasi internasional berhadapan dengan persoalan mendasar, yakni dukungan anggaran pendidikan yang dinilai belum proporsional. Di tengah upaya meningkatkan mutu akademik dan akreditasi internasional, perguruan tinggi keagamaan Islam juga menghadapi kebutuhan pengembangan infrastruktur, termasuk rumah sakit pendidikan untuk menunjang pendidikan dokter.

Persoalan tersebut disoroti Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, S.Ag., M.Si., dalam Sarasehan Nasional Dies Natalis ke-65 UIN Malang di Ruang Rektorat Lantai 5, Rabu (14/10/2026). Ia menilai, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan komitmen institusi, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan dan pendanaan yang sebanding dengan tanggung jawab lembaga pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bagaimana mungkin sama-sama mendidik anak bangsa, tetapi anggarannya sangat jauh berbeda?” tutur Ilfi.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi persoalan pemerataan dukungan bagi lembaga pendidikan di bawah kementerian yang berbeda. Menurut Ilfi, perguruan tinggi keagamaan Islam, madrasah, dan pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia. Namun, kesenjangan alokasi anggaran berpotensi membatasi ruang pengembangan lembaga-lembaga tersebut.

Ia menilai, kebijakan pendanaan yang lebih proporsional diperlukan agar peningkatan mutu pendidikan tidak hanya menjadi tuntutan, tetapi juga ditopang sumber daya yang memadai. Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperluas kapasitas akademik, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, serta memperkuat daya saing institusi di tengah kompetisi pendidikan tinggi.

“Sekalipun anggarannya sangat kecil, kami berkomitmen untuk tumbuh besar bersama PTN lainnya,” ungkapnya.

Di tengah keterbatasan itu, UIN Malang terus mendorong penguatan mutu program studi, peningkatan akreditasi internasional, pengembangan riset, publikasi ilmiah, kualitas sumber daya manusia, serta perluasan jejaring kerja sama. Universitas juga menargetkan peningkatan jumlah program studi yang memperoleh akreditasi internasional hingga 2027.

Lanjut Ilfi, penguatan reputasi perguruan tinggi tidak semata-mata ditentukan oleh capaian administratif. Kemampuan menghasilkan riset berkualitas, membangun kolaborasi akademik, dan meningkatkan kompetensi lulusan menjadi bagian penting dari upaya memperkuat posisi universitas di tingkat nasional maupun global.

Namun, agenda tersebut menuntut dukungan berkelanjutan. Pengembangan sumber daya manusia dan riset, misalnya, memerlukan pembiayaan yang konsisten agar peningkatan kualitas tidak berhenti pada target institusi.

Di bidang kedokteran, kebutuhan terhadap rumah sakit pendidikan menjadi salah satu tantangan yang turut disoroti. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Malang memerlukan fasilitas tersebut untuk menunjang pembelajaran klinis dan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan pendidikan dokter.

Keberadaan rumah sakit pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akademik universitas. Fasilitas ini juga memiliki kaitan dengan upaya memperluas akses pendidikan kedokteran dan mendukung pemenuhan kebutuhan tenaga medis di Indonesia, terutama di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.

Ilfi berharap dukungan pemerintah dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dapat membantu merealisasikan pengembangan fasilitas tersebut. Menurutnya, penguatan pendidikan kedokteran perlu ditempatkan dalam kerangka kebutuhan nasional, bukan semata-mata sebagai agenda pengembangan satu institusi.

Di luar penguatan infrastruktur dan reputasi akademik, UIN Malang tetap menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian dari identitas pendidikannya. Sistem ma’had menjadi salah satu instrumen pembinaan mahasiswa melalui pendalaman keagamaan, pembelajaran Al-Qur’an, dan penguatan nilai moral.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki kompetensi profesional, tetapi juga berintegritas serta memiliki landasan spiritual yang kuat. Integrasi ilmu dan nilai keislaman menjadi karakter pendidikan yang ingin dipertahankan di tengah tuntutan perguruan tinggi untuk semakin kompetitif.

Tanggung jawab pengembangan pendidikan juga diperluas melalui pendampingan terhadap madrasah dan pesantren. Keterlibatan dosen serta kolaborasi antarlembaga menjadi salah satu cara untuk membawa kapasitas keilmuan perguruan tinggi ke lingkungan pendidikan yang lebih luas.

Langkah ini menempatkan UIN Malang tidak hanya sebagai penyelenggara pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pendidikan Islam yang melibatkan madrasah dan pesantren. Peningkatan kualitas pada jenjang pendidikan tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan keberlanjutan pengembangan sumber daya manusia.

Memasuki usia ke-65, UIN Malang menghadapi dua agenda yang berjalan beriringan: memperkuat daya saing akademik di tingkat internasional dan memperluas kontribusi pendidikan di dalam negeri. Pencapaian keduanya bergantung pada kemampuan universitas mengembangkan mutu akademik, menjaga karakter keislaman, memperkuat fasilitas pendidikan kedokteran, serta memperoleh dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai.

Baca Juga: Torehkan 103 Poin, MIN 2 Kota Malang Runner-Up Lomba Paduan Suara Hymne DWP

Baca Juga: Sandiaga Uno Jadi Pembicara Utama Konferensi Internasional FIA UB, Bahas Wisata Kesehatan

Topik Terkait
# uin maliki malang# uin malang# prof ilfi nur diana# rektor uin malang

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap