JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Sandiaga Uno Jadi Pembicara Utama Konferensi Internasional FIA UB, Bahas Wisata Kesehatan

Reporter: Binti Nikmatur • Editor: Nurlayla Ratri
📅 14 Oktober 2026, 14:08 WIB • ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES - Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) melalui Departemen Administrasi Bisnis menyelenggarakan Business Innovation, Challenges, and Trends in Business and Tourism (BICBATT) 2026 pada Rabu, 14 Oktober 2026. Konferensi internasional tersebut digelar secara daring dengan menghadirkan akademisi dan praktisi dari berbagai negara untuk membahas tantangan serta peluang dalam pengembangan bisnis dan pariwisata berkelanjutan.

Sandiaga Uno menjadi pembicara utama (keynote speaker) dalam kegiatan ini. Ia membahas potensi wisata kesehatan atau health tourism, sektor yang mengintegrasikan pelayanan medis dengan kegiatan pariwisata.

Wisata kesehatan menghubungkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan dengan pengalaman perjalanan. Pengembangannya membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari penyedia layanan medis, pelaku industri pariwisata, dunia usaha, hingga pemangku kepentingan terkait.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengembangan sektor ini mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kualitas layanan dan keberlanjutannya.

Pembahasan wisata kesehatan dalam BICBATT 2026 menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai inovasi bisnis dan pariwisata. Konferensi ini juga mengangkat pentingnya transformasi berkelanjutan dalam menghadapi perubahan ekonomi, tantangan lingkungan, serta tuntutan terhadap tata kelola usaha yang bertanggung jawab.

Tema yang diusung pada BICBATT 2026 adalah “Driving Sustainable Transformation: Resilient Business, Responsible Taxation, and Regenerative Tourism for Accelerating the SDGs.” Tema tersebut menekankan tiga aspek utama, yakni ketahanan bisnis, perpajakan yang bertanggung jawab, dan pariwisata regeneratif sebagai bagian dari upaya mempercepat pencapaian SDGs.

Ketahanan bisnis menjadi perhatian karena pelaku usaha perlu mampu beradaptasi dengan perubahan dan berbagai tantangan. Sementara itu, perpajakan yang bertanggung jawab berkaitan dengan tata kelola yang mendukung keberlanjutan. Adapun pariwisata regeneratif menyoroti pengembangan pariwisata yang tidak berhenti pada pengurangan dampak negatif, tetapi juga berupaya memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Selain Sandiaga Uno, BICBATT 2026 menghadirkan empat pembicara dari bidang dan institusi berbeda. Kehadiran para narasumber tersebut memperluas pembahasan konferensi, mulai dari pariwisata, kebijakan perpajakan, administrasi bisnis, hingga keberlanjutan usaha.

Pembicara pertama adalah Associate Professor Ignatius Dwi Cahyanto dari University of Louisiana at Lafayette, Amerika Serikat. Ia akan membahas isu-isu di bidang pariwisata berdasarkan keahlian dan perspektif akademiknya.

Berikutnya, Dr. Aaron Tham dari University of the Sunshine Coast, Australia, dijadwalkan mengulas persoalan pajak karbon (carbon tax). Topik ini berkaitan dengan kebijakan perpajakan yang dapat menjadi instrumen dalam merespons tantangan lingkungan dan mendorong praktik ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pembicara lainnya adalah Professor Victor Matchekin dari Kutafin Moscow State Law University, Rusia. Ia akan membawakan perspektif mengenai administrasi bisnis. Sementara itu, Cacik Rut Damayanti, DBA, akan membahas keberlanjutan bisnis (business sustainability).

Keempat pembicara tersebut melengkapi pembahasan yang dibawakan Sandiaga Uno. Dengan latar belakang dan fokus keilmuan yang berbeda, diskusi dalam konferensi diharapkan dapat memberikan sudut pandang yang lebih luas mengenai hubungan antara inovasi bisnis, kebijakan, pariwisata, dan keberlanjutan.

Ketua Panitia BICBATT 2026, Annisa Samira Bafadal, mengatakan tantangan pembangunan membutuhkan pendekatan yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

"Tantangan pembangunan saat ini tidak cukup dijawab dengan pertumbuhan ekonomi semata. Dunia usaha harus semakin tangguh, kebijakan perpajakan perlu mendukung tanggung jawab terhadap lingkungan, dan sektor pariwisata harus mampu menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui BICBATT 2026, kami ingin mendorong pertukaran gagasan yang dapat mempertemukan ketiga perspektif tersebut dalam mendukung transformasi berkelanjutan," ujar Annisa.

Melalui penyelenggaraan BICBATT 2026, FIA UB mendorong diseminasi hasil penelitian sekaligus memperkuat pertukaran gagasan antara akademisi dan praktisi. Forum internasional ini juga membuka peluang kolaborasi lintas negara, sehingga temuan penelitian dan pengalaman dari berbagai bidang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan bisnis serta pariwisata.

Keterlibatan perguruan tinggi, dunia usaha, dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Sinergi antarpihak diharapkan dapat memperluas penerapan pengetahuan akademik, mendukung inovasi, dan mendorong praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab.

BICBATT 2026 juga menjadi bagian dari upaya internasionalisasi akademik FIA UB melalui penyelenggaraan forum ilmiah yang melibatkan narasumber dari berbagai negara. Pertemuan ini memberikan ruang untuk membandingkan perspektif, memperluas jejaring, dan membangun kerja sama dalam merespons isu-isu bisnis serta pariwisata yang terus berkembang.

Informasi lebih lanjut mengenai BICBATT 2026 dapat diakses melalui laman resmi FIA Universitas Brawijaya di https://fia.ub.ac.id/en/bicbatt/.

Baca Juga: Kejahatan Lintas Negara Kian Kompleks, Akademisi UB Soroti Keterbatasan KUHP dan Penelitian Hukum Normatif

Baca Juga: Jadi Dosen Praktisi, Kepala Bakorwil Bongkar Fondasi Malang Raya Megapolitan: Desa Harus Punya Daya Saing

Topik Terkait
# fia ub# bicbatt 2026# sandiaga uno

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap