JATIMTIMES - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Senin (12/10/2026). Sempat dibuka menguat, indeks saham Indonesia justru terkoreksi lebih dari 1% menjelang pertengahan sesi I.
Pada pukul 10.42 WIB, IHSG berada di level 6.032,32 atau melemah 61,44 poin setara 1,01% dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.093,76. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 6.128,72 sebelum berbalik turun hingga menyentuh posisi terendah harian 6.029,80.
Pergerakan tersebut menunjukkan penguatan pada awal perdagangan tidak bertahan lama. IHSG dibuka di level 6.109,32 pada pukul 09.00 WIB, tetapi tekanan jual kemudian meningkat dan membawa indeks masuk ke zona merah.
Pelemahan IHSG pada perdagangan pagi terutama dibayangi koreksi sejumlah sektor saham. Sektor infrastruktur menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 4,2%.
Tekanan berikutnya datang dari sektor energi yang melemah 2,2% dan sektor material dasar yang terkoreksi 1,3%.
Sejumlah saham yang menjadi penekan IHSG antara lain:
• PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
• PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
• PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
• PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
• PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
Di tengah pelemahan pasar, terdapat sejumlah saham yang menahan laju koreksi IHSG. Saham-saham tersebut meliputi PT Astra International Tbk (ASII), PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Pergerakan pasar keuangan Indonesia sepanjang pekan ini berpotensi dipengaruhi sejumlah agenda ekonomi global. Investor akan mencermati perkembangan geopolitik, pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, serta rilis data ekonomi dari China dan Amerika Serikat (AS).
Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia berlangsung di Bangkok, Thailand, pada 12-18 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan pejabat pemerintah, bank sentral, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan untuk membahas prospek ekonomi global, stabilitas keuangan, investasi, utang, serta penciptaan lapangan kerja.
Berikut sejumlah sentimen yang perlu diperhatikan investor pada pekan ini.
1. Ketegangan Timur Tengah dan Potensi Keterlibatan AS
Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko yang dapat memengaruhi sentimen pasar, terutama melalui pergerakan harga energi dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman setelah serangan mematikan di Bandara Riyadh.
"Kami mungkin akan melakukannya. Kami akan mempertimbangkannya," kata Trump, seperti dikutip Reuters.
Jika ketegangan meluas, investor akan mencermati dampaknya terhadap harga minyak, inflasi, serta aset-aset berisiko. Perubahan sentimen global dapat merembet ke pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.
2. Pertemuan IMF dan Bank Dunia pada 12-18 Oktober
Pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia menjadi salah satu agenda utama pekan ini. Forum yang digelar di Bangkok tersebut berlangsung ketika perekonomian dunia menghadapi tekanan dari konflik geopolitik, biaya energi, beban utang, dan ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Sejumlah isu yang dibahas mencakup prospek pertumbuhan ekonomi, stabilitas keuangan, pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, serta peran investasi swasta dalam mendorong pembangunan.
Investor juga akan mencermati pernyataan para pejabat ekonomi dan keuangan dunia karena dapat memberikan gambaran mengenai risiko serta arah perekonomian global ke depan.
3. Inflasi China Jadi Perhatian pada Rabu, 14 Oktober
China dijadwalkan merilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) dan inflasi produsen atau Producer Price Index (PPI) untuk September 2026 pada Rabu (14/10).
Dalam data Agustus yang tercantum pada bahan berita, inflasi konsumen China mencapai 0,8% secara tahunan, meningkat dari 0,5% pada Juli. Sementara itu, inflasi produsen tercatat 3,8%, naik dari 3,5%.
Data terbaru akan menjadi petunjuk bagi investor untuk menilai perkembangan permintaan domestik dan tekanan biaya produksi di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Perkembangan ekonomi China juga penting bagi Indonesia. China merupakan mitra dagang utama Indonesia dan menjadi pasar penting bagi sejumlah komoditas ekspor nasional. Perubahan permintaan dari negara tersebut berpotensi memengaruhi prospek sektor komoditas dan saham terkait.
4. Neraca Perdagangan China Dirilis Bersamaan
Selain inflasi, pasar juga menantikan data perdagangan China untuk September 2026 yang dijadwalkan pada Rabu (14/10).
Pada Agustus, China mencatat surplus perdagangan sebesar US$119,09 miliar. Ekspor dilaporkan tumbuh 25% secara tahunan menjadi US$401,44 miliar, sedangkan impor meningkat 28,2% menjadi US$282,36 miliar.
Investor akan melihat apakah pertumbuhan perdagangan tersebut berlanjut atau justru menunjukkan perlambatan.
Kinerja impor China menjadi salah satu indikator yang diperhatikan Indonesia karena peningkatan permintaan dari negara tersebut dapat membuka peluang bagi ekspor nasional, terutama komoditas yang dibutuhkan industri China.
5. Data Inflasi AS Bisa Memengaruhi Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Data inflasi AS untuk September 2026 juga dijadwalkan terbit pada Rabu (14/10). Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencantumkan jadwal rilis CPI pada pukul 08.30 waktu setempat.
Angka tersebut akan menjadi salah satu acuan pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Masih dilansir dari Reuters, inflasi tahunan AS pada Agustus disebut berada di 3,4%, sedangkan inflasi bulanan meningkat 0,4%, terutama dipengaruhi kenaikan harga bensin.
Apabila inflasi kembali menunjukkan tekanan yang kuat, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat semakin terbatas. Sebaliknya, data yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga.
Dampaknya bisa menjalar ke pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, nilai tukar rupiah, hingga pasar saham negara berkembang.
6. Pernyataan Pejabat The Fed Turut Dicermati
Selain data ekonomi, investor akan mengikuti pernyataan pejabat The Fed selama rangkaian agenda pekan ini.
Dalam jadwal yang menjadi acuan berita ini, Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan Michelle W. Bowman dijadwalkan menghadiri agenda di Bangkok pada 14 Oktober. Ketua The Fed Kevin Warsh juga dijadwalkan berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada 16 Oktober.
Jadwal resmi IMF mencantumkan agenda diskusi Georgieva dengan Ketua The Fed Kevin Warsh pada 16 Oktober dalam rangkaian pertemuan tahunan tersebut.
Investor akan mencermati pandangan para pejabat tersebut mengenai inflasi, kondisi ekonomi, dan prospek kebijakan moneter AS.
Tak hanya faktor ekonomi dunia, agenda ekonomi dalam negeri juga berpotensi menjadi katalis pasar relatif lebih terbatas dibandingkan rangkaian data dan pertemuan global pekan ini. Salah satu faktornya adalah perkembangan politik menjelang peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Investor akan mencermati apakah perkembangan politik domestik memengaruhi persepsi terhadap stabilitas kebijakan dan iklim investasi.
Baca Juga: Cara Cek Penerima BSU Rp 900 Ribu Lewat JMO, Simak Tahapannya
Baca Juga: Bank Jatim Sasar Mahasiswa dan Pelaku UMKM UM lewat JConnect Weekend