JATIMTIMES - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut kerap sulit dipadamkan meski sudah diguyur air dalam jumlah besar. Salah satu penyebabnya, api tidak selalu berkobar di permukaan. Bara bisa merambat di lapisan tanah gambut dan bertahan meski api yang terlihat dari luar sudah padam.
Fenomena ini dikenal sebagai subsurface smoldering, yakni proses pembakaran membara di bawah permukaan tanah. Berbeda dengan kebakaran yang menghasilkan kobaran api tinggi, pembakaran gambut dapat berlangsung perlahan tanpa nyala api yang mencolok.
Penjelasan mengenai karakteristik kebakaran gambut ini juga dibahas dalam unggahan akun Instagram @/ipungpurwandono. Dalam unggahan tersebut, dijelaskan bagaimana gambut yang mengering dapat menjadi bahan bakar dan memungkinkan api bertahan di bawah tanah.
1. Gambut Menyimpan Banyak Air dan Karbon
Lahan gambut terbentuk dari timbunan sisa tumbuhan yang mengalami penguraian tidak sempurna selama waktu yang sangat panjang, umumnya dalam kondisi basah. Dalam keadaan alami, gambut memiliki kandungan air tinggi sehingga membantu menghambat terjadinya kebakaran.
Gambut juga menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Namun, ketika lahan dikeringkan dan kelembapannya turun, material organik di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar.
Karena itu, kondisi hidrologi gambut berperan penting dalam menentukan tingkat kerawanan kebakaran. Gambut yang tetap basah cenderung lebih sulit terbakar dibandingkan gambut yang telah mengering.
2. Kanal Pengeringan Membuat Gambut Lebih Rentan Terbakar
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kebakaran adalah pengeringan lahan melalui pembangunan kanal atau saluran air. Kanal yang mengalirkan air keluar dari kawasan gambut dapat menurunkan muka air tanah.
Jika pengeringan berlangsung terus-menerus, lapisan gambut menjadi semakin kering dan rentan terbakar. Penurunan muka air juga dapat memicu pemadatan dan amblesnya permukaan tanah, atau dikenal sebagai subsidence.
Dalam unggahan @ipungpurwandono, kondisi tersebut digambarkan sebagai perubahan gambut yang semula menyerupai spons penyimpan air menjadi material organik kering yang mudah terbakar.
3. Api Bisa Menjalar di Bawah Permukaan Tanah
Inilah salah satu alasan utama kebakaran gambut sulit dipadamkan. Api dapat merambat melalui lapisan organik di bawah permukaan, bahkan ketika tidak terlihat kobaran besar dari luar.
Proses pembakaran membara tersebut dapat menyebar secara horizontal maupun vertikal. Asap yang keluar dari permukaan tanah bisa menjadi petunjuk adanya titik panas di lapisan bawah, meski kondisi setiap lokasi perlu diperiksa secara langsung.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Fire Safety Journal pada 2017 menjelaskan bahwa pembakaran membara pada gambut dapat bertahan meski sudah disiram air dalam waktu singkat. Panas yang masih tersimpan di bagian dalam gambut dapat memicu kebakaran kembali atau re-ignition. .
4. Mengapa Water Bombing Belum Tentu Mematikan Seluruh Bara?
Pemadaman melalui udara atau water bombing dapat membantu menjangkau area kebakaran yang luas dan menekan api di permukaan. Namun, metode ini belum tentu mampu memadamkan seluruh bara yang tersembunyi di lapisan gambut.
Air yang dijatuhkan dari helikopter atau pesawat dapat membasahi permukaan, tetapi belum tentu meresap sampai ke titik panas di bawah tanah. Efektivitasnya bergantung pada kedalaman api, kondisi gambut, jumlah air, serta ketepatan penanganan.
Penelitian yang diterbitkan di Alexandria Engineering Journal pada 2022 menemukan bahwa penyuntikan air langsung ke titik panas di bawah permukaan lebih efisien dibandingkan penyemprotan air dalam pengujian laboratorium. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya menjangkau sumber bara, meski penerapannya di lapangan memerlukan pertimbangan teknis tersendiri.
Jadi, bukan berarti water bombing tidak berguna. Pemadaman dari udara dapat menjadi bagian dari penanganan, tetapi kebakaran gambut sering membutuhkan upaya lanjutan untuk menemukan dan mendinginkan bara di bawah permukaan.
5. Api Bisa Menyala Kembali Setelah Permukaan Tampak Padam
Permukaan tanah yang tidak lagi memperlihatkan kobaran api belum tentu menandakan kebakaran benar-benar selesai. Bara yang masih tersimpan di lapisan dalam dapat terus membara dan kembali memicu api ketika mendapat pasokan oksigen atau kondisi yang mendukung.
Itulah sebabnya pemadaman karhutla gambut membutuhkan pemeriksaan berulang terhadap titik panas, pembasahan yang memadai, serta pemantauan setelah api terlihat padam. Upaya pencegahan juga penting, termasuk menjaga muka air gambut agar tidak terlalu rendah dan mengurangi aktivitas yang berisiko memicu kebakaran.
Karakteristik tersebut membuat karhutla gambut menjadi tantangan besar bagi petugas pemadam. Penanganan tidak cukup hanya mengandalkan hilangnya kobaran di permukaan, tetapi perlu memastikan bara di dalam tanah benar-benar padam.
Baca Juga: Kapan Jawa Timur Mulai Hujan? Ini Prediksi BMKG untuk Wilayah Barat dan Selatan