JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Pesan Tegas Menag RI: Kuliah di Unisma Jangan Sekadar Kejar Gelar

Reporter: Anggara Sudiongko • Editor: Dede Nana
📅 2 Oktober 2026, 18:26 WIB • ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES - Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA meminta mahasiswa baru Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) menata kembali niat sebelum memulai perjalanan akademik. Pendidikan tinggi, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada kepentingan memperoleh gelar dan capaian duniawi.

Pesan tersebut ditegaskan Nasaruddin saat hadir dalam rangkaian Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Oshika Maba) Pascasarjana Unisma 2026, Jumat (2/10/2026).

Nasaruddin menekankan bahwa mahasiswa yang memilih Unisma perlu memiliki niat luhur. Prinsip anfa’uhum linnas atau menjadi manusia yang memberikan manfaat kepada orang lain, menurutnya, harus menjadi bagian dari orientasi mahasiswa selama menempuh pendidikan.

“Karena masuk di Unisma niatnya harus luhur, bukan tujuannya untuk duniawi,” kata Nasaruddin.

Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk melihat Unisma tidak hanya sebagai institusi pendidikan yang memberikan pengetahuan akademik. Menurut Nasaruddin, sejarah Unisma yang berkaitan dengan tradisi keulamaan membuat mahasiswa memiliki ruang untuk menggali nilai-nilai yang lebih luas selama berada di kampus.

“Unisma ini peninggalan warisan para min auliyaillah. Jadi pasti ada berkah. Carilah berkah itu di Unisma ini,” ujarnya.

Pesan tersebut kemudian diperkuat Rektor Unisma Prof. Drs. Junaidi Mistar, Ph.D. Menurut Junaidi, kehadiran Menteri Agama memberikan penekanan penting mengenai fondasi yang perlu dibangun mahasiswa sebelum memasuki proses akademik.

“Beliau mengharapkan mahasiswa menata niat yang benar untuk kuliah di Unisma,” kata Junaidi, Jumat (2/10/2026).

Junaidi mengaitkan pesan tersebut dengan sejarah Unisma sebagai perguruan tinggi yang didirikan para ulama. Karena itu, menurutnya, orientasi pendidikan di Unisma tidak semata-mata diarahkan pada penguasaan pengetahuan dan perolehan gelar akademik.

“Ke Unisma itu sebagai institusi yang didirikan oleh para ulama. Jadi bukan sekadar untuk mencari ilmu, tetapi ada keberkahan di sana,” ujarnya.

Ada aspek lain yang ditekankan dalam pesan Menteri Agama, yakni cara mahasiswa memaknai sosok guru. Junaidi mengatakan, dalam kultur pendidikan yang tumbuh di lingkungan Nahdlatul Ulama, guru tidak selalu terbatas pada dosen yang mengajar secara langsung di ruang kuliah.

“Guru tidak hanya dosen yang hadir, tetapi guru bisa juga para pendiri Unisma. Belajar dari semangat beliau, ilmu beliau,” katanya.

Salah satu sosok yang disebut Junaidi adalah almarhum Prof. KH Tolchah Hasan, tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah Unisma. Keteladanan para pendiri, menurutnya, dapat menjadi sumber pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami bagaimana ilmu ditempatkan sebagai bagian dari pengabdian.

Perspektif tersebut menjadi penting karena mahasiswa Pascasarjana datang dengan latar belakang akademik dan profesional yang beragam. Pendidikan di jenjang ini tidak hanya berhadapan dengan tuntutan penguasaan keilmuan, tetapi juga bagaimana pengetahuan yang dimiliki dapat diterapkan dalam ruang profesi dan kehidupan sosial.

“Insyaallah dengan penguatan tadi mahasiswa Pascasarjana Unisma, S1, S2, dan juga mahasiswa rekognisi pembelajaran lampau sudah tertata niatnya,” ujar Junaidi.

Oshika Maba Pascasarjana Unisma 2026 sendiri mencatat 810 mahasiswa. Jumlah tersebut mencakup mahasiswa S2, S3, dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Tidak seluruh mahasiswa mengikuti kegiatan secara langsung di kampus karena peserta RPL mengikuti rangkaian orientasi secara daring.

Mahasiswa RPL yang sebagian besar telah bekerja, turut memengaruhi pola pelaksanaan orientasi. Unisma menyesuaikan agenda dengan kondisi peserta, termasuk memajukan agenda yang semula dijadwalkan Sabtu menjadi Jumat agar dapat menyesuaikan dengan kehadiran Menteri Agama.

“Yang kalau total itu 810. Cuma memang terutama yang RPL mengikuti secara online. Ini mahasiswa S2, S3 yang hadir secara fisik,” jelas Junaidi.

Di tengah pertambahan mahasiswa tersebut, Unisma juga tengah memproses pembukaan sejumlah program studi baru pada jenjang Pascasarjana. Tiga program yang sedang dalam proses adalah Program Doktor Ilmu Pemerintahan, Doktor Pendidikan Bahasa Inggris, dan Magister Akuntansi.

Pengembangan program tersebut berjalan beriringan dengan penguatan orientasi akademik mahasiswa. Pesan Menag.mengenai niat, kebermanfaatan ilmu, serta keteladanan ulama, lanjut Junaidi, menjadi bagian dari konteks pendidikan yang ingin dibangun Unisma di tengah perluasan program Pascasarjana.

Baca Juga: Menag di UIN Malang: Kampus Islam Tak Cukup Cetak Ilmuwan, Harus Lahirkan Cendekiawan Berdampak

Baca Juga: Oshika Maba Pascasarjana Unisma, Rektor Tekankan Niat Kuliah dan Keteladanan Ulama

Topik Terkait
# menteri agama# unisma# oshiba maba unisma

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap