JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Menag di UIN Malang: Kampus Islam Tak Cukup Cetak Ilmuwan, Harus Lahirkan Cendekiawan Berdampak

Reporter: Anggara Sudiongko • Editor: Nurlayla Ratri
📅 2 Oktober 2026, 16:05 WIB • ⏱️ 6 menit baca

JATIMTIMES - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong perguruan tinggi Islam mengubah cara pandang dalam mengukur keberhasilan pendidikan. Menurut dia, keberhasilan kampus tidak boleh berhenti pada banyaknya mahasiswa yang diterima, jumlah lulusan, maupun deretan prestasi akademik.

Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah ilmu itu keluar dari ruang kampus: seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat, lingkungan, dan kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan arahan dalam Lustrum ke-XIII UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bertajuk "Refleksi 1 Tahun Mengabdi: Sinergi Mewujudkan UIN Malang Bereputasi Internasional" di kampus UIN Malang, Jumat (2/10/2026).

Nasaruddin menyebut terdapat tahapan yang perlu diperhatikan perguruan tinggi dalam melihat keberhasilan pendidikan. Pertama adalah input, yakni berapa banyak mahasiswa yang masuk. Berikutnya output, yaitu jumlah mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan. Namun, dua ukuran tersebut belum cukup.

"Input-nya berapa yang masuk, output-nya berapa yang keluar, outcome-nya berapa. Berapa keuntungan yang kita peroleh dengan mencetak sarjana yang sedemikian banyak?" ujar Nasaruddin.

Ia kemudian membawa ukuran tersebut ke tingkat yang lebih jauh, yakni impact. Dalam konteks perguruan tinggi Islam, kata dia, yang harus dihitung bukan semata-mata keuntungan materi atau capaian institusi, melainkan sejauh mana lulusan dan ilmu yang dihasilkan kampus benar-benar memberikan perubahan bagi masyarakat.

"Impact itu bukan hanya mengukur outcome-nya kita untung sekian secara materi. Impact itu adalah seberapa besar pendapatan itu dirasakan oleh masyarakat, seberapa besar outcome itu dinikmati oleh lingkungan hidup kita, oleh alam semesta," tuturnya.

Karena itu, Nasaruddin menilai perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab yang lebih luas dibanding sekadar mencetak tenaga akademik atau sarjana yang menguasai teori.

Ia membedakan tiga jenjang. Ilmuwan adalah orang yang memiliki penguasaan terhadap ilmu dan teori. Intelektual berada pada tahap berikutnya karena ilmu yang dimiliki juga diamalkan. Sementara cendekiawan, menurut Nasaruddin, harus membawa ilmu dan pengamalannya hingga menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

"Cendekiawan pintar, diamalkan kepintarannya, tapi kepintaran itu pun juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," katanya.

Nasaruddin mengaitkan pandangan tersebut dengan karakter pendidikan Islam. Menurut dia, perguruan tinggi Islam tidak boleh hanya berhenti pada pencapaian akademik dan produksi pengetahuan.

Ilmu yang dihasilkan harus berjalan beriringan dengan pengamalan. Ia mengutip prinsip unzur ma qala wa la tanzur man qala, yang secara sederhana mengajarkan agar seseorang melihat apa yang disampaikan, bukan semata-mata siapa yang menyampaikannya. Namun dalam konteks pendidikan Islam, prinsip itu menurutnya perlu berjalan paralel dengan keteladanan orang yang menyampaikan ilmu.

"Jangan hanya mencetak unzur ma qala, tetapi harus juga sekaligus unzur man qala. Lihat inilah karya saya, hasil penelitian saya, tapi lihat diri saya juga, saya mengamalkan apa yang saya tahu," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengetahuan yang hanya berhenti sebagai ucapan dan teori berisiko kehilangan makna. Nasaruddin mengutip Al-Qur'an, kabura maqtan 'indallahi an taqulu ma la taf'alun, sebagai pengingat agar apa yang dikatakan tidak bertentangan dengan apa yang dilakukan.

Menurutnya, jenjang tersebut menjadi pembeda penting antara ilmuwan, intelektual, dan cendekiawan. Ilmuwan menguasai pengetahuan. Intelektual mengamalkan pengetahuan tersebut. Sedangkan cendekiawan membawa pengetahuan dan pengamalannya untuk menghasilkan dampak sosial.

Nasaruddin bahkan mengaitkan gagasan tersebut dengan sejarah lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ia menceritakan bagaimana perdebatan mengenai istilah ilmuwan, intelektual, hingga cendekiawan pernah berkembang sebelum akhirnya lahir gagasan tentang organisasi yang menempatkan kebermanfaatan sosial sebagai salah satu cirinya.

"Dalam Islam tidak hanya diminta mencetak orang menjadi ilmuwan, tapi intelektual. Intelektual itu lumayan, dia bisa mengamalkan ilmu yang dia temukan itu sendiri. Tetapi itu pun juga tidak cukup," ujarnya.

"Di atas segala-galanya, dia pintar dan dia mengamalkan kepintarannya, dan dia harus memberikan dampak terhadap masyarakat terhadap kepintaran itu," lanjutnya.

Di sisi lain, Menag mengingatkan bahwa pencapaian besar sebuah perguruan tinggi juga harus diikuti kemampuan sivitas akademik dalam mengelola rasa syukur. Ia mengapresiasi berbagai prestasi yang telah dicapai UIN Malang, tetapi meminta capaian tersebut tidak berhenti pada perayaan dan pujian.

Nasaruddin membedakan antara tahmid, syukur, dan syakur. Tahmid, menurut dia, adalah memuji Allah dengan ucapan yang juga lahir dari hati. Sementara syukur diwujudkan melalui tindakan sebagai bentuk ekspresi atas nikmat yang diterima.

Adapun syakur berada pada tingkatan yang lebih tinggi. Ia menjelaskan, syakur berarti kemampuan mensyukuri segala sesuatu yang datang dari Allah, termasuk sesuatu yang pada awalnya tidak dipahami manusia sebagai nikmat.

"Kalau syukur mensyukuri nikmat Allah, tapi kalau syakur, apa saja yang dari Allah itu kita syukuri, termasuk mensyukuri musibah," katanya.

Ia menilai pencapaian institusi seharusnya tidak membuat seseorang larut dalam pujian. Sebab, pujian yang berlebihan dapat menggeser orientasi dari hubungan dengan Allah kepada pengakuan manusia.

"Kalau kita masih menikmati dipuji orang, masih ada cacat akidahnya sedikit. Prestasi itu prestasinya, tapi kalau sudah sampai ke tingkat syakur, sedih pada saat dipuji orang," ujarnya.

Bagi Nasaruddin, rasa syukur juga berkaitan dengan kemampuan seseorang memperbesar kapasitas dirinya. Ia mengutip doa Rabbi zidni 'ilma, yang berarti "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku".

Namun, ia memberikan penekanan khusus pada kata zidni. Menurut dia, manusia tidak perlu khawatir terhadap luasnya ilmu Allah karena ilmu tersedia tanpa batas. Persoalannya justru terletak pada kemampuan manusia dalam menampung ilmu tersebut.

"Ilmu ada di mana-mana. Tetapi ember kita yang kecil, apa artinya ilmu banyak kalau hanya satu gelas, satu ember?" kata Nasaruddin.

Karena itu, doa Rabbi zidni 'ilma menurutnya juga dapat dimaknai sebagai permohonan agar Allah memperbesar kapasitas manusia dalam menerima ilmu.

"Ibaratnya tadinya hanya satu gelas menjadi ember, tadinya satu ember menjadi danau. Kalau perlu tadinya hanya satu ember, loncat menjadi samudra," tuturnya.

Ia kemudian mengaitkan kapasitas tersebut dengan perkembangan UIN Malang yang menurutnya telah menunjukkan lompatan besar. Nasaruddin menyampaikan apresiasi atas berbagai prestasi yang dicapai kampus tersebut dan menyebut capaian itu sebagai sesuatu yang patut disyukuri.

Namun, penghargaan terhadap prestasi tidak boleh membuat perguruan tinggi berhenti mengevaluasi diri. Jumlah mahasiswa, lulusan, kecepatan masa studi, prestasi akademik, hingga reputasi internasional tetap penting, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari ukuran yang lebih besar.

Pada titik itulah outcome dan impact menjadi penting. Kampus perlu mengetahui bukan hanya berapa banyak orang yang berhasil diluluskan, melainkan juga apa yang dilakukan para lulusan dengan ilmu yang diperoleh serta perubahan apa yang mereka hadirkan setelah kembali ke tengah masyarakat.

Nasaruddin berharap UIN Malang terus mengembangkan tradisi akademik yang menyatukan penguasaan ilmu, pengamalan, akhlak, dan kebermanfaatan. Dengan pola tersebut, perguruan tinggi Islam tidak sekadar menghasilkan orang berpengetahuan, tetapi melahirkan cendekiawan yang ilmunya hidup dan manfaatnya terasa.

"Jadi yang kita akan cetak di sini bukan hanya seorang ilmuwan, bukan hanya seorang intelektual, tapi juga seorang cendekiawan," tegasnya.

Baca Juga: Oshika Maba Pascasarjana Unisma, Rektor Tekankan Niat Kuliah dan Keteladanan Ulama

Baca Juga: Refleksi Setahun Mengabdi, Rektor UIN Malang Laporkan Capaian di Hadapan Menteri Agama

Topik Terkait
# uin malang# universitas islam negeri malang

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap