JATIMTIMES - Orientasi Studi dan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Oshika Maba) 2026 Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) menjadi momentum penguatan orientasi akademik sekaligus nilai yang harus dibawa mahasiswa selama menempuh pendidikan, Jumat, (2/10/2026) di gedung Pascasarjana Unisma. Kegiatan dengan tema “Anfa’ for the World” ini diikuti mahasiswa program magister, doktor, hingga Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Rektor Unisma Prof. Drs. Junaidi Mistar, Ph.D. mengatakan, kehadiran Menteri Agama dalam rangkaian OSK Pascasarjana memberikan penguatan penting bagi mahasiswa baru. Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya menata niat sebelum memulai perjalanan akademik.
“Beliau mengharapkan mahasiswa menata niat yang benar untuk kuliah di Unisma,” kata Junaidi, Jumat, (2/10/2026).
Menurutnya, pesan tersebut tidak terlepas dari sejarah Unisma sebagai perguruan tinggi yang didirikan para ulama. Karena itu, kuliah di Unisma tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh pengetahuan dan gelar akademik.
“Ke Unisma itu sebagai institusi yang didirikan oleh para ulama. Jadi bukan sekadar untuk mencari ilmu, tetapi ada keberkahan di sana,” ujarnya.
Junaidi menambahkan, Menteri Agama juga mengingatkan mahasiswa untuk memperluas pemaknaan tentang guru. Dalam lingkungan perguruan tinggi yang berada dalam kultur Nahdlatul Ulama, proses belajar tidak hanya berlangsung melalui interaksi dengan dosen di ruang kuliah.
“Guru tidak hanya dosen yang hadir, tetapi guru bisa juga para pendiri Unisma. Belajar dari semangat beliau, ilmu beliau,” katanya.
Ia menyebut salah satu sosok yang menjadi teladan adalah almarhum Prof. KH Tolchah Hasan, salah satu tokoh penting dalam sejarah Unisma.
Penguatan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa baru Pascasarjana Unisma yang berasal dari berbagai latar belakang akademik dan profesional.
“Insyaallah dengan penguatan tadi mahasiswa Pascasarjana Unisma, S1, S2, dan juga mahasiswa rekognisi pembelajaran lampau sudah tertata niatnya,” kata Junaidi.
Unisma saat ini juga tengah memproses pembukaan sejumlah program studi baru di jenjang Pascasarjana. Tiga program yang disebut sedang berproses yakni Program Doktor Ilmu Pemerintahan, Doktor Pendidikan Bahasa Inggris, dan Magister Akuntansi.
Pada Oshika Maba 2026 Pascasarjana kali ini, total mahasiswa yang tercatat mencapai 810 orang. Namun, tidak seluruhnya mengikuti kegiatan secara fisik di kampus karena mahasiswa RPL mengikuti kegiatan secara daring.
“Yang kalau total itu 810. Cuma memang terutama yang RPL mengikuti secara online. Ini mahasiswa S2, S3 yang hadir secara fisik,” ujar Junaidi.
Mahasiswa RPL memiliki karakteristik berbeda karena sebagian besar telah bekerja. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola pelaksanaan kegiatan orientasi mahasiswa baru.
Junaidi menjelaskan, agenda yang semula dijadwalkan Sabtu dimajukan menjadi Jumat untuk menyesuaikan dengan agenda Menteri Agama.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana Unisma Prof. H. M. Mas’ud Said, M.M., Ph.D. membekali mahasiswa baru dengan sejumlah hal yang perlu diperhatikan sejak awal masa studi.
Ia menempatkan manajemen waktu sebagai salah satu kunci utama menyelesaikan pendidikan Pascasarjana. Mahasiswa dituntut mampu mengatur waktu antara perkuliahan, penyelesaian tugas, penelitian lapangan, hingga penyusunan tesis dan disertasi.
“Time management, pengaturan waktu kuliah, menyelesaikan tugas, penelitian lapangan, tesis, disertasi adalah kunci keberhasilan,” ujar Mas’ud Said.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan kemampuan akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Menurutnya, mahasiswa Pascasarjana memiliki kapasitas masing-masing yang perlu dikelola dengan baik.
“Enggak ada yang enggak pintar, semuanya hebat,” katanya.
Mas’ud juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga administrasi dan keuangan selama menjalani studi. Disiplin dalam urusan administrasi dinilai menjadi bagian penting agar proses pendidikan tidak terganggu persoalan teknis.
“Amankan administrasi dan keuangan. Disiplin administrasi jadi administrasi adalah kunci sukses studi,” ujarnya.
Bekal berikutnya adalah pengayaan diri. Mahasiswa diminta tidak berhenti pada materi yang diberikan selama perkuliahan, tetapi aktif mengikuti perkembangan keilmuan melalui buku, jurnal, informasi akademik, serta karya-karya dosen.
Ia bahkan mendorong mahasiswa mengenali karya akademik setiap dosen yang mengajar.
“Jadikan setiap dosen itu satu file besar,” katanya.
Mahasiswa, lanjut dia, dapat menelusuri karya ilmiah dosen, memahami bidang keahliannya, hingga menjadikan referensi tersebut sebagai bagian dari pengembangan penelitian tesis maupun disertasi.
“Prof. Nurhayati langsung dibrowsing, karyanya apa, dikutip nanti ketika di tesis,” ujarnya memberikan contoh.
Hal serupa juga disampaikan untuk dosen dari bidang keilmuan lain. Mahasiswa diminta mengikuti perkembangan penelitian dosen dan menjadikan lingkungan akademik sebagai sumber pengayaan keilmuan.
Selain itu, Mas’ud menekankan pentingnya penguasaan informasi kampus. Mahasiswa Pascasarjana perlu aktif memantau pengumuman dari program studi dan informasi akademik agar tidak tertinggal agenda penting selama menjalani studi.
“Tidak ada orang pintar kecuali dia bagus mencari informasi tentang kuliah dan pengumuman dari prodi,” katanya.
Ia menegaskan kembali empat hal tersebut, manajemen waktu, disiplin administrasi dan keuangan, pengayaan diri, serta penguasaan informasi kampus, perlu menjadi perhatian mahasiswa sejak awal perkuliahan.
Baca Juga: Refleksi Setahun Mengabdi, Rektor UIN Malang Laporkan Capaian di Hadapan Menteri Agama
Baca Juga: MAESTRO 2026 UIN Maliki Malang Satukan Riset, Expo Haji-Umrah hingga Job Fair