JATIMTIMES - Riuh ratusan massa di Balai Kota Malang mendadak lenyap, Kamis (1/10/2026) malam. Tidak ada orasi yang terdengar. Yang tersisa hanya nama-nama yang dipanggil satu per satu dan doa yang mengiringinya.
Sekitar pukul 18.30 WIB, massa dari berbagai elemen berkumpul memperingati empat tahun tragedi Kanjuruhan. Poster bertuliskan “Justice for 135+” hingga “Stop Talking About Kanjuruhan” dibawa dalam aksi yang tidak sekadar menjadi ruang penyampaian tuntutan.
Lilin dinyalakan. Di tengah lingkaran cahaya itu diletakkan kaos bertuliskan “Justice For The 135+”. Kemudian satu per satu nama korban tragedi Kanjuruhan disebut. Setiap nama disusul lantunan Al-Fatihah.
Nama-nama tersebut kemudian ditempatkan dalam sebuah wadah berwarna hitam. Wadah itu diangkat boneka kayu dengan bagian tubuh yang dibuat tertancap, menjadi bagian dari aksi teatrikal yang berlangsung di hadapan massa.
Tidak ada suara keras dalam momen tersebut. Justru kesunyian menjadi bagian paling kuat dari aksi yang digelar empat tahun setelah tragedi yang merenggut lebih dari 135 nyawa itu.
Aksi tersebut menjadi simbol bahwa nama para korban tidak ingin dibiarkan hilang bersama perjalanan waktu. Empat tahun berlalu, ingatan tentang mereka masih dirawat keluarga korban, pendamping, Aremania dan kelompok masyarakat sipil.
Koordinator Aksi Kamisan, Eko, mengatakan peringatan tahun keempat sengaja membawa pesan agar pembicaraan mengenai tragedi Kanjuruhan tidak berhenti. “Don’t stop talking about Kanjuruhan,” kata Eko, Kamis (1/10/2026).
Bagi Eko, terus membicarakan Kanjuruhan menjadi bagian dari upaya menjaga tuntutan keadilan tetap berada di ruang publik. Sebab, menurutnya, waktu yang terus berjalan tidak semestinya membuat perkara tersebut ikut dilupakan.
Empat tahun terakhir, kata dia, berbagai langkah telah ditempuh keluarga korban dan pendamping. Jalur litigasi maupun nonlitigasi telah dijalankan, namun ia menilai proses yang diharapkan para korban belum mencapai pengusutan yang tuntas.
“Sepanjang empat tahun berlangsung banyak hal yang sudah terjadi. Teman-teman keluarga korban, pendamping korban, lembaga bantuan hukum sudah sangat berupaya melakukan segala macam upaya, baik litigasi maupun nonlitigasi. Namun, usut tuntas itu tidak pernah terjadi dan terealisasi,” ungkapnya.
Karena itu, aksi tahun keempat tidak berhenti pada mengenang mereka yang telah pergi. Ada pesan yang hendak dipertahankan, yakni agar Kanjuruhan tetap dibicarakan dan tuntutan keadilan tidak terkubur oleh waktu.
“Setiap kali kita membicarakan tentang Kanjuruhan, maka keadilan itu bisa segera kita tuntut dan penuhi,” ucapnya.
Empat tahun setelah malam kelam di Stadion Kanjuruhan, nama-nama itu kembali dipanggil. Satu per satu, disusul doa dan keheningan, menjadi pengingat bahwa bagi keluarga dan mereka yang terus mengawal perkara tersebut, tragedi Kanjuruhan belum selesai sebagai sebuah ingatan.
Baca Juga: Dorongan Mas Rio Jadi Gubernur Jatim Ramai, Warga Situbondo Lebih Banyak Pilih Lanjut 2 Periode
Baca Juga: Bakar Daduk Picu Kebakaran Lahan Tebu hingga Merembet ke Rumah Warga, Kerugian Capai Rp 300 Juta