JATIMTIMES - Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Timur diselenggarakan di Trawas, Kabupaten Mojokerto. Tujuh Presidium terpilih kemudian akan mengemban amanah memimpin KAHMI Jawa Timur periode 2026-2031.
Ketujuh Presidium tersebut dipilih melalui mekanisme suara terbanyak dalam forum Muswil. Sebelumnya, proses penjaringan bakal calon Presidium dilakukan melalui sistem zonasi yang membagi wilayah Jawa Timur menjadi tujuh zona.
Hasil pemilihan menempatkan Lutfi J. Kurniawan sebagai peraih suara terbanyak dengan 30 suara. Posisi berikutnya ditempati Aan Eko W. dengan 29 suara. Sementara Ahmad Riyadh dan Nur Muhyidin masing-masing memperoleh 28 suara.
Selanjutnya, Agus Mahfudz Fauzi memperoleh 27 suara, disusul Robbah F. dengan 24 suara. Adapun H. Nyak Din menjadi peraih suara terbanyak ketujuh dengan 21 suara.
Hasil tersebut menjadi salah satu keputusan penting dalam Muswil VI KAHMI Jatim yang mengusung tema “Reposisi Paradigma KAHMI Jatim Menuju Gerbang Baru Nusantara.”
Ketua OC Muswil VI KAHMI Jatim, Ulil Hartono, mengatakan hasil tersebut menjadi salah satu capaian penting dari seluruh rangkaian Muswil yang dimulai dari lomba logo dan karya tulis ilmiah, sosialisasi, penjaringan bakal calon melalui zonasi, hingga pelaksanaan Muswil.
Menurut Ulil, tujuh Presidium terpilih memiliki latar belakang profesi yang beragam. Keragaman tersebut diharapkan menjadi kekuatan KAHMI Jatim dalam menjawab persoalan organisasi dan kebangsaan.
“Jawa Timur berpotensi menjadi barometer atas contoh baik pelaksanaan Muswil yang inovatif berbasis zonasi yang tetap berpegang teguh pada AD/ART organisasi,” kata Ulil, Minggu, (27/9).
Ulil menjelaskan, sistem zonasi memberikan ruang besar kepada Majelis Daerah (MD) untuk melakukan penjaringan dan musyawarah lebih dahulu sebelum mengusulkan bakal calon Presidium. Meski demikian, forum Muswil tetap menjadi forum tertinggi dalam pemilihan.
Ulil mengakui sistem tersebut masih memiliki kekurangan. Namun, dia menilai inovasi organisasi selalu memiliki tantangan ketika pertama kali diterapkan. Bagi dia, pengalaman Muswil VI menjadi pembelajaran penting bagi KAHMI Jatim untuk terus menyempurnakan mekanisme organisasi.
"Model pemilihan Presidium konvensional yang ‘itu-itu saja’ dan menghasilkan komposisi profesi cenderung homogen, dikreasikan melalui sistem zonasi yang memberi ruang lebih kepada Majelis Daerah untuk bermusyawarah lebih dulu,” kata Ulil.
Sementara itu, Ketua SC Muswil VI KAHMI Jatim, Mufid Dahlan, mengatakan tema “Reposisi Paradigma KAHMI Jatim Menuju Gerbang Baru Nusantara” bukan berarti paradigma lama keliru. “Bukan salah paradigma, tetapi lebih menajamkan peran strategis KAHMI Jawa Timur,” kata Mufid.
Menurutnya, KAHMI memiliki potensi SDM dari berbagai profesi yang perlu dioptimalkan untuk mengambil bagian dalam perubahan nasional, termasuk industrialisasi, teknologi, transportasi, serta transformasi sosial.
"KAHMI dengan potensi SDM berbagai profesi harus dapat mengambil bagian dalam proses Gerbang Baru Nusantara,” ujarnya.
Mufid menilai KAHMI Jatim juga perlu mengambil peran strategis dalam mengawal pembangunan, termasuk program-program pemerintah Jawa Timur. Kata Mufid, model kepemimpinan KAHMI adalah Presidium dengan prinsip kolektif-kolegial, bukan presidensial atau ketua umum.
Baca Juga: Distribusi Bantuan Air Bersih Dampak Kekeringan di Malang Capai 2,8 Juta Liter
Baca Juga: Aktivitas Semeru Meningkat, 4 Kali Erupsi hingga Pagi dengan Kolom Abu 1,3 Kilometer