JATIMTIMES - Informasi mengenai asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang disebut bergerak menuju Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur, ramai diperbincangkan di media sosial. Narasi tersebut bahkan menyebut sebagian wilayah Laut Jawa tertutup asap dan kondisi itu berpotensi membuat langit Surabaya terlihat sedikit berkabut.
Namun, masyarakat Jawa Timur tidak perlu terlalu khawatir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memastikan potensi asap karhutla dari Kalimantan mencapai wilayah Jawa Timur tergolong rendah.
Baca Juga : Harvest Moon Hiasi Langit Malam Ini, Catat Waktu Terbaik untuk Mengamatinya
Prakirawan Cuaca BMKG Juanda, Shanas Prayuda, menjelaskan bahwa pergerakan asap sangat dipengaruhi oleh arah angin. Berdasarkan pemantauan, asap dari sejumlah wilayah Kalimantan memang sempat bergerak hingga memasuki kawasan Laut Jawa.
Namun, arah pergerakannya tidak dominan menuju Jawa Timur. Asap dari wilayah Kalimantan, terutama Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah, lebih banyak terbawa angin ke arah barat daya, barat, hingga barat laut.
"Karena pergerakan asap kebakaran hutan dipengaruhi pergerakan angin, dan sejauh ini pergerakan asap dari wilayah Kalimantan, terutama dari Kalimantan Selatan, timur, dan tengah pergerakannya ke arah barat daya, barat, dan barat laut bahkan sempat memasuki wilayah Laut Jawa," jelas Shanas, dikutip dari detikJatim, Sabtu (26/9/2026).
Meski asap karhutla terpantau sempat berada di sekitar Laut Jawa, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat asap akan bergerak masuk ke Jawa Timur.
Shanas menegaskan, berdasarkan arah pergerakan angin saat ini, peluang asap karhutla dari Kalimantan mencapai wilayah Jawa Timur masih rendah. "Namun untuk memasuki wilayah Jawa Timur potensinya rendah," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Jatim tidak perlu langsung mengaitkan kondisi udara atau langit yang tampak berbeda dengan asap karhutla dari Kalimantan.
Isu mengenai kemungkinan langit Surabaya terlihat lebih gelap atau sedikit berasap akibat kiriman asap karhutla Kalimantan juga mendapat penjelasan dari BMKG Juanda.
Shanas memastikan tidak ada indikasi bahwa langit Jawa Timur, khususnya Surabaya, menjadi berkabut akibat asap karhutla tersebut. Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak berlebihan dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. "Iya, betul (langit Jatim, khususnya Surabaya tidak berkabut akibat karhutla dan warga tidak perlu khawatir," pungkasnya.
Dengan demikian, meski asap karhutla Kalimantan sempat terpantau bergerak hingga Laut Jawa, BMKG Juanda menyatakan potensi masuknya asap tersebut ke Jawa Timur saat ini masih rendah.
Meski demikian, kewaspadaan tetap penting mengingat arah angin dapat berubah. Masyarakat sebaiknya menjadikan informasi resmi sebagai acuan apabila nantinya terjadi perubahan kondisi.
Antisipasi Sebelum Asap Berpotensi Masuk Jatim
Walaupun BMKG menyebut potensi asap masuk Jawa Timur masih rendah, melakukan langkah antisipasi sejak awal tetap dapat dilakukan.
Terlebih, BMKG dalam prakiraan cuaca periode 22-28 September 2026 masih mencatat kondisi atmosfer relatif kering di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat:
Baca Juga : 152 Ribu Pekerja Informal di Kota Malang Belum Terlindungi, UMKM Jadi Salah Satu Sasaran
1. Pantau informasi kualitas udara
Jangan hanya melihat foto atau video yang beredar di media sosial. Jika muncul kabar mengenai asap menuju Jawa Timur, masyarakat dapat mengecek perkembangan kualitas udara dan prediksi sebaran partikulat melalui layanan resmi BMKG.
Hal ini penting karena keberadaan asap secara visual belum tentu menggambarkan tingkat pencemaran udara di suatu wilayah.
2. Kurangi aktivitas di luar ruangan jika kualitas udara memburuk
Apabila suatu saat kualitas udara di wilayah tempat tinggal menunjukkan kondisi tidak sehat akibat asap, masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik yang berat.
Langkah ini lebih penting bagi kelompok yang sensitif terhadap perubahan kualitas udara.
3. Siapkan masker untuk kondisi darurat
Masker dapat disiapkan sebagai salah satu perlindungan apabila kondisi udara benar-benar memburuk akibat kabut asap.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa masker atau respirator pada dasarnya dirancang untuk mengurangi paparan partikulat. Kemenkes juga menyebut respirator seperti N95 dapat memberikan perlindungan terhadap partikulat apabila digunakan dengan cara yang tepat.
Namun, jenis masker dan cara penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi serta kelompok yang menggunakannya.
4. Tutup akses udara dari luar jika asap mulai terdeteksi
Apabila kabut asap benar-benar masuk ke suatu wilayah, pintu dan jendela dapat ditutup untuk mengurangi masuknya udara dari luar. Aktivitas di luar rumah juga sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara memburuk.
Langkah ini baru diperlukan apabila memang terdapat indikasi peningkatan asap atau kualitas udara di wilayah tersebut, bukan semata-mata karena adanya kabar bahwa asap berada jauh di luar Jawa Timur.
5. Jangan membakar sampah atau membuka lahan dengan api
Antisipasi kabut asap tidak hanya berkaitan dengan asap yang datang dari daerah lain. Jawa Timur sendiri juga perlu mencegah munculnya sumber kebakaran baru.
BMKG mengimbau masyarakat tidak membakar sampah maupun membuka lahan secara sembarangan, terutama ketika kondisi lingkungan kering dan mudah terbakar. Jika menemukan indikasi titik api, masyarakat juga diminta segera melaporkannya kepada pihak terkait.