JATIMTIMES - Kekeringan masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Jawa Timur hingga September 2026. Sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status darurat kekeringan, dengan wilayah Madura tercatat sebagai daerah yang mengalami dampak cukup berat.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyebut Pamekasan dan Sampang menjadi dua daerah yang mengalami dampak kekeringan cukup parah.
Baca Juga : Korban Keracunan MBG di Batang Tembus 300 Orang, Ada Bayi 10 Bulan hingga Lansia
"Wilayah Madura masih menjadi daerah dengan dampak terparah, salah satunya di Pamekasan, Sampang," kata Gatot, dikutip dari detik Kamis (24/9).
Berdasarkan data BPBD Jatim, Pamekasan mencatat 5.994 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan. Jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk, sebanyak 18.631 jiwa di wilayah tersebut terdampak.
Sementara itu, jumlah warga terdampak di Sampang jauh lebih besar. BPBD Jatim mencatat sebanyak 67.203 jiwa terdampak kekeringan di Kabupaten Sampang sepanjang 2026.
Bangkalan juga masuk dalam daftar wilayah dengan jumlah warga terdampak cukup tinggi. Sebanyak 17.623 jiwa di kabupaten tersebut tercatat terdampak kekeringan.
Selain tiga wilayah tersebut, sejumlah daerah lain juga mengalami dampak kekeringan dengan jumlah warga yang cukup besar.
Gatot merinci jumlah warga terdampak di beberapa daerah, yakni:
1. Sampang: 67.203 jiwa
2. Pamekasan: 18.631 jiwa
3. Bangkalan: 17.623 jiwa
4. Pasuruan: 14.752 jiwa
5. Trenggalek: 11.625 jiwa
6. Bojonegoro: 11.400 jiwa
7. Bondowoso: 9.960 jiwa
8. Pacitan dan Tuban juga menjadi wilayah yang terdampak kekeringan.
Secara keseluruhan, BPBD Jatim mencatat 153.971 jiwa terdampak kekeringan di Jawa Timur. Sementara jumlah kepala keluarga yang terdampak mencapai 37.585 KK.
Baca Juga : Pemdes Panjunan Gelar Musdes Bahas Polemik TKD, Penyewa Lahan Akan Dipanggil
Untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih, distribusi air terus dilakukan ke sejumlah wilayah terdampak.
Hingga saat ini, sebanyak 18.548.700 liter air bersih telah disalurkan ke 23 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Menurut Gatot, BPBD Jatim masih memiliki persediaan air bersih yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah yang membutuhkan.
Bantuan air bersih tersebut tidak hanya berasal dari satu sumber. Distribusinya didukung melalui APBD Pemerintah Provinsi Jawa Timur, APBD pemerintah kabupaten/kota, CSR BUMD dan pihak swasta, serta bantuan dari PMI Jawa Timur.
"Jadi bantuan distribusi air bersih itu berasal dari APBD Pemprov Jatim, APBD Pemkab/Pemkot setempat, CSR BUMD, swasta, hingga dari PMI Jatim," ujar Gatot.
Untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih yang masih berlangsung, BPBD Jatim juga menyiapkan sejumlah sarana pendukung distribusi.
Gatot mengatakan BPBD Jatim memiliki 13.835 ritase air bersih. Setiap ritase memiliki kapasitas sekitar 5.000 liter air.
Selain persediaan air, BPBD Jatim juga menyiapkan perlengkapan untuk menunjang penyaluran di lapangan. Di antaranya 1.400 tandon, 5.000 jirigen, 500 tandon lipat, serta 17.500 terpal.
"Untuk BPBD Jatim kami sedia 13.835 ritase air bersih, masing-masing ritase berisi 5.000 liter air bersih. Kami juga siapkan 1.400 tandon, 5.000 jirigen, 500 tandon lipat, dan 17.500 terpal," tandas Gatot.
Dengan puluhan kabupaten/kota masih berstatus darurat kekeringan, distribusi air bersih menjadi salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk membantu warga memenuhi kebutuhan air selama kondisi kemarau masih berlangsung.