JATIMTIMES - Ed Sheeran dilaporkan kehilangan lebih dari 439 ribu followers atau pengikut di Instagram dalam kurun waktu 30 hari. Penurunan jumlah pengikut tersebut terjadi di tengah kontroversi yang menyeret namanya setelah Macklemore tidak lagi menjadi bagian dari rangkaian tur konser Loop Tour.
Polemik bermula ketika Macklemore menyuarakan dukungannya kepada Palestina saat tampil di New Jersey pada awal September 2026. Sikap tersebut kemudian dikaitkan dengan keputusan untuk tidak lagi menghadirkan rapper bernama lengkap Benjamin Haggerty itu sebagai opening act dalam tur Ed Sheeran.
Baca Juga : Media Israel Sindir Prabowo usai Teriak “Free Palestine”, Setahun Lalu "Shalom"
Keputusan tersebut memicu reaksi dari sejumlah aktivis dan pendukung Palestina. Kritik terhadap Ed Sheeran pun bermunculan di media sosial. Seiring kontroversi semakin ramai, jumlah followers akun Instagram pribadi Sheeran juga mengalami penurunan cukup tajam.
Berdasarkan data analitik Social Blade, seperti diberitakan Newsweek, jumlah pengikut Ed Sheeran mengalami penurunan signifikan sepanjang September 2026.
Penurunan paling mencolok terjadi pada 15 dan 16 September. Pada 15 September, akun Instagram Sheeran kehilangan hampir 150 ribu followers. Sehari kemudian, jumlah pengikutnya kembali berkurang lebih dari 98 ribu.
Jika dihitung dalam rentang 30 hari, lebih dari 439 ribu followers dilaporkan meninggalkan akun Instagram Ed Sheeran.
Lonjakan unfollow tersebut terjadi ketika kontroversi mengenai Macklemore sedang menjadi sorotan. Namun, data Social Blade hanya menunjukkan perubahan jumlah followers dan tidak dapat memastikan bahwa setiap akun yang berhenti mengikuti Sheeran melakukannya karena persoalan Macklemore atau isu Palestina.
Dalam komunikasinya dengan Macklemore, Sheeran disebut mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan tur apabila rapper tersebut tetap tampil sebagai opening act.
Keputusan itu kemudian mendapat kritik dari sejumlah aktivis. Bahkan, beberapa musisi yang sebelumnya dijadwalkan menjadi pembuka konser turut memilih mundur sebagai bentuk solidaritas.
Ketika tekanan publik semakin besar, Ed Sheeran memberikan penjelasan mengenai persoalan tersebut.
Ia menekankan bahwa keputusan terkait siapa yang tampil dalam rangkaian konser berada di tangan promotor dan pemilik stadion. Salah satu nama yang ikut disebut dalam persoalan tersebut adalah pebisnis Amerika Serikat Robert Kraft.
Kontroversi itu kemudian ikut menyeret Sheeran ke dalam perdebatan politik mengenai Palestina. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Eric Schiffer, Ketua Reputation Management Consultants.
Schiffer menilai cara Sheeran menangani kontroversi tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap reputasinya.
"Ed Sheeran sangat konyol dalam cara dia mengelola kontroversi ini, dan ini menjadi bahaya bagi kariernya," ujar Schiffer, seperti diberitakan Newsweek.
Menurut Schiffer, Sheeran sebaiknya tidak semakin terseret dalam perdebatan politik dan kembali memusatkan perhatian pada musik.
Di tengah kontroversi tersebut, Ed Sheeran akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka ketika tampil di Lincoln Financial Field, Philadelphia, pada Sabtu (19/9).
Di hadapan puluhan ribu penonton, musisi berusia 35 tahun tersebut mengaku telah melakukan kesalahan ketika menghadapi situasi yang sulit.
"Saya harus mengambil keputusan-keputusan yang sulit, dan saya membuat kesalahan, dan saya sangat, sangat meminta maaf," tutur Sheeran.
Ia juga memahami bahwa sebagian penonton datang bersama keluarga dan anak-anak sehingga mungkin tidak mengira akan mendengar pembahasan mengenai persoalan politik di tengah konser.
"Dunia adalah tempat yang menakutkan saat ini; Amerika adalah tempat yang menakutkan saat ini. Ini memberikan harapan. Terima kasih banyak, Philadelphia," ucap Ed Sheeran.
Penurunan jumlah followers kemudian menjadi salah satu dampak yang ikut mendapat perhatian dalam polemik tersebut. Meski demikian, angka Social Blade tidak dapat memastikan bahwa seluruh pengikut yang melakukan unfollow memiliki alasan yang sama atau seluruhnya berkaitan dengan kontroversi Macklemore dan Palestina.