JATIMTIMES - Batuk dan pilek menjadi keluhan yang cukup sering dialami anak. Belakangan, resep ramuan dari bahan dapur yang dibagikan dokter umum sekaligus konselor ASI dan MPASI, dr Anissa Florence, ramai dibagikan di media sosial.
Resep tersebut memanfaatkan bawang merah, bawang putih, jahe, jeruk nipis, dan madu. Bahan-bahannya mudah ditemukan dan cara membuatnya juga sederhana.
Salah satu orang tua yang mencoba resep itu membagikan pengalamannya melalui Threads. Akun @frahmatunisa mengaku memberikan ramuan tersebut kepada anaknya saat mengalami flu.
"Alhamdulillah anakku sembuh dari batuk pilek pake resep dari dr Nisa. Emang gak aku biasain minum obat kalo sakit, qodarullah malah lebih cocok dan manjur pake herbal," tulisnya.
Ramuan tersebut diklaim dapat membantu mengeluarkan dahak saat anak mengalami batuk. Meski begitu, orang tua tetap perlu melihat kondisi anak karena batuk dan pilek bisa disebabkan berbagai jenis infeksi.
Bahan yang diperlukan untuk membuat ramuan ini cukup sederhana, yakni:
• 2 siung bawang merah ukuran besar atau 5 siung jika ukurannya kecil
• 2 siung bawang putih
• 1 ruas atau 1 jempol jahe
• 1 buah jeruk nipis atau 3 sendok makan air asam jawa
• Madu murni secukupnya
Cara membuatnya, iris tipis bawang merah, bawang putih, dan jahe. Kemudian peras jeruk nipis di atas bahan tersebut.
Masukkan semua bahan ke wadah tertutup. Tuangkan madu hingga seluruh bahan terendam.
Setelah itu, diamkan selama 5-8 jam pada suhu ruang. Ramuan kemudian disaring dan ampas rempahnya dibuang.
Cairannya bisa disimpan di dalam chiller. Dalam resep yang beredar, ramuan dapat bertahan sekitar tiga hari.
Untuk penggunaannya, ramuan diberikan satu sendok makan pada pagi dan sore hari setelah diendapkan dan disaring.
"Rasa ramuan saat baru dibuat belum terlalu kuat. Namun, setelah disimpan lebih dari sehari di dalam kulkas, rasa bawang dan rempah akan terasa lebih hangat atau pedas," tulisnya.
Ada satu hal yang perlu diperhatikan sebelum memberikan ramuan tersebut kepada anak. Kandungan madu membuat resep ini tidak diperuntukkan bagi bayi berusia di bawah 1 tahun.
Baca Juga : Anak Terserang Influenza A, Ini Saran Dokter yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah
Madu tidak boleh diberikan kepada bayi karena berisiko menyebabkan botulisme.
Orang tua juga tidak disarankan mengandalkan ramuan rumahan jika kondisi anak memburuk. Bila batuk atau pilek disertai demam tinggi, sesak napas, anak tampak lemas, sulit makan dan minum, atau keluhan tidak kunjung membaik, anak sebaiknya segera diperiksa ke dokter.
Sebagai informasi, ramuan ini ramai dibicarakan di media sosial saat kasus influenza di Indonesia meningkat. Data Kementerian Kesehatan hingga 19 September 2026 mencatat positivity rate influenza mencapai 46%, naik dari 35% pada pekan sebelumnya.
Anak usia 0-4 tahun menjadi salah satu kelompok yang perlu diperhatikan. Dari kasus influenza yang terdeteksi, 42% berada pada kelompok usia tersebut.
Pada minggu ke-36 atau periode 13-19 September 2026, Kemenkes memeriksa 185 spesimen dan menemukan 86 di antaranya positif influenza.
Sebagian besar kasus yang ditemukan merupakan influenza A(H1N1)pdm09. Selain itu, terdapat influenza A(H3N2) dan influenza B Victoria.
Kasus influenza tersebut ditemukan di 13 provinsi. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan proporsi kasus H3N2 Subclade K terbanyak, masing-masing 24%.
Meski positivity rate meningkat, Kemenkes masih mencatat aktivitas influenza secara keseluruhan berada pada kategori rendah.
Karena itu, orang tua tetap perlu memperhatikan kondisi anak. Menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta segera memeriksakan anak jika muncul gejala berat tetap menjadi langkah penting.