PBB Adopsi Peta Dunia Baru, Ini yang Berubah dari Peta yang Selama Ini Kita Lihat
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
12 - Sep - 2026, 02:28
JATIMTIMES - Peta dunia yang selama ini familiar ternyata tidak selalu menggambarkan ukuran wilayah sesuai kondisi sebenarnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini mendorong penggunaan proyeksi peta baru yang membuat perbandingan luas benua dan negara terlihat lebih proporsional.
Resolusi terkait penggunaan peta tersebut diadopsi PBB pada Jumat (4/9). Sebanyak 164 negara mendukung, sementara Amerika Serikat (AS) menolak dan enam negara memilih abstain, yakni Estonia, Georgia, Lithuania, Moldova, Serbia, dan Ukraina.
Baca Juga : Asesmen Akreditasi Tuntas, Unikama Siapkan Tindak Lanjut Catatan Tim Asesor
Lantas, apa yang sebenarnya berubah? Bukan ukuran benua atau luas negara di dunia, melainkan cara permukaan bumi digambarkan dalam sebuah peta.
Dilansir dari UN News, resolusi tersebut didorong oleh Togo yang mewakili Afrika. PBB mendorong pemerintah, sekolah, organisasi internasional hingga perusahaan teknologi untuk menggunakan proyeksi Equal Earth sebagai salah satu rujukan.
Namun, resolusi ini tidak dimaksudkan untuk melarang atau menghapus peta dengan proyeksi Mercator yang sudah lama digunakan.
Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey mengatakan peta memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia memahami dunia.
“Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia. Peta memandu pendidikan, menumbuhkan imajinasi, dan mempengaruhi persepsi kolektif,” ujarnya seperti dikutip dari UN News.
Apa Bedanya Peta Mercator dan Equal Earth?
Perbedaan utama kedua proyeksi tersebut terletak pada cara menggambarkan ukuran wilayah.
Proyeksi Mercator dipopulerkan oleh kartografer Flandria, Gerardus Mercator, pada 1569. Proyeksi ini dibuat untuk membantu kebutuhan navigasi maritim.
Mercator memiliki keunggulan dalam mempertahankan arah. Garis lurus pada peta dapat menggambarkan arah kompas secara konsisten sehingga memudahkan pelaut menentukan jalur pelayaran.
Namun, konsekuensinya adalah ukuran wilayah menjadi semakin terdistorsi ketika posisinya semakin jauh dari Khatulistiwa.
Sementara itu, proyeksi Equal Earth dirancang untuk memberikan gambaran luas wilayah yang lebih proporsional. Dengan pendekatan tersebut, perbandingan ukuran antarbenua menjadi lebih mendekati luas sebenarnya.
1. Afrika dan Greenland Terlihat Sangat Berbeda
Perbedaan paling mudah dilihat ketika membandingkan Afrika dengan Greenland.
Pada peta Mercator, Greenland tampak sangat besar hingga sekilas terlihat memiliki ukuran yang mendekati Afrika.
Padahal, luas Afrika sebenarnya jauh lebih besar. Dengan perbandingan luas wilayah yang lebih proporsional, Afrika sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.
Inilah salah satu contoh bagaimana proyeksi peta dapat memengaruhi persepsi manusia terhadap ukuran suatu wilayah.
2. Eropa Tidak Sebesar yang Terlihat
Perbedaan lainnya dapat dilihat pada Eropa dan Amerika Selatan.
Dalam peta Mercator, Eropa tampak lebih besar dibandingkan Amerika Selatan. Gambaran tersebut muncul akibat distorsi ukuran pada proyeksi Mercator.
Jika melihat luas sebenarnya, wilayah Eropa hanya sekitar setengah dari luas Amerika Selatan.
Proyeksi Equal Earth membuat perbandingan tersebut terlihat lebih sesuai dengan luas geografis masing-masing wilayah.
3. Wilayah Dekat Kutub Mengalami Distorsi Lebih Besar
Mercator juga membuat wilayah yang berada semakin jauh dari Khatulistiwa terlihat semakin besar.
Karena itu, kawasan di sekitar Kutub Utara maupun Kutub Selatan dapat terlihat jauh lebih luas dibandingkan ukuran sebenarnya.
Baca Juga : 6 Tahapan Pencairan Uang Saku Magang Nasional Batch 1 2026, Kapan Masuk Rekening?
Kondisi ini bukan berarti peta Mercator salah. Proyeksi tersebut memang memiliki tujuan tertentu, terutama untuk mempertahankan arah yang sangat berguna dalam navigasi.
Masalahnya muncul ketika peta tersebut digunakan untuk membandingkan luas wilayah tanpa memahami adanya distorsi.
4. Warna dan Penggambaran Wilayah Sengketa Ikut Berubah
Perubahan dalam peta tidak hanya menjadi perhatian karena ukuran benua. Penggunaan warna dan cara suatu wilayah digambarkan juga mendapat sorotan.
Ukraina, misalnya, mempermasalahkan tampilan Krimea dalam peta. Menurut pihak Ukraina, warna Krimea terlihat berbeda dari daratan utama Ukraina dan lebih mendekati warna yang digunakan untuk Rusia.
Krimea dicaplok Rusia pada Februari 2014. Langkah tersebut tidak diakui oleh PBB.
Perwakilan tetap Ukraina untuk PBB, Andrii Melnyk, memperingatkan bahwa perubahan penggambaran geografis dapat membuka ruang bagi “penyalahgunaan dan distorsi” peta dunia.
5. Kepulauan Kuril dan Kashmir Juga Disorot
Jepang yang termasuk negara pendukung resolusi juga menyoroti penggambaran Kepulauan Kuril.
Tokyo mempersoalkan penggunaan warna dan corak yang disebut sama dengan wilayah Rusia. Kepulauan tersebut memang masih menjadi wilayah sengketa antara Jepang dan Rusia.
Jepang menyebut kawasan tersebut sebagai Wilayah Utara, sedangkan Rusia mengenalnya sebagai Kuril Selatan.
India juga menyampaikan keberatan terkait penggambaran Jammu dan Kashmir.
Sebagian wilayah Kashmir dikuasai India, sebagian lainnya Pakistan, sedangkan China juga menguasai bagian tertentu dari kawasan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, mengatakan wilayah India, termasuk Jammu dan Kashmir serta Ladakh, harus digambarkan berdasarkan peta resmi India.
“Wilayah lokasi India, termasuk Wilayah Persatuan Jammu dan Kashmir serta Ladakh, harus digambarkan sesuai dengan peta resmi India. Penggambaran yang tidak akurat atau selimut tidak dapat diterima,” ujarnya.
Pada dasarnya, benua dan negara tidak berubah ukuran. Yang berubah adalah cara luas wilayah tersebut ditampilkan di atas bidang datar.
Peta Mercator tetap memiliki fungsi penting karena mampu mempertahankan arah dan telah lama digunakan dalam navigasi. Namun, untuk menunjukkan perbandingan luas wilayah, proyeksi seperti Equal Earth dapat memberikan gambaran yang lebih proporsional.
Karena itu, resolusi PBB bukan berarti seluruh peta dunia lama harus diganti. PBB justru mendorong penggunaan proyeksi yang lebih sesuai dengan kebutuhan, terutama ketika peta digunakan untuk pendidikan, informasi publik, dan membantu masyarakat memahami perbandingan luas wilayah di dunia.
Dengan kata lain, dunia tidak berubah karena resolusi PBB tersebut. Cara kita melihat dunia melalui peta-lah yang mulai diarahkan untuk berubah.
