Dari Prestasi, Event, Fasilitas, hingga Sport Tourism: Mas Ibin Siapkan Arah Baru Olahraga Kota Blitar
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
A Yahya
12 - Sep - 2026, 07:25
JATIMTIMES – Pemerintah Kota Blitar mulai menata olahraga dalam spektrum yang lebih luas. Bukan semata mengejar medali, tetapi juga membangun regenerasi atlet, memperbaiki fasilitas, membuka ruang olahraga yang inklusif, hingga menjadikan event sebagai pintu masuk sport tourism yang mampu menggerakkan ekonomi kota.
Arah itu mengemuka dalam Ngobras Haornas, Ngobrol Bareng Asik Santai Spesial Hari Olahraga Nasional 2026, di Litera Coffee and Space, Perpustakaan Kota Blitar, Jumat (11/9/2026) malam. Forum bertema Sport Policy, Future Glory: Kebijakan Berdampak, Prestasi Nyata tersebut mempertemukan Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin dengan atlet, pelatih, pegiat olahraga, serta masyarakat.
Baca Juga : Kasek SMAN 2 Kota Malang Dinobatkan sebagai Kepala Sekolah Penggerak Moderasi Beragama
Mas Ibin mengatakan Ngobras sengaja ditempatkan sebagai ruang komunikasi dua arah. Pemerintah tidak hanya menjelaskan kebijakan, tetapi juga mendengar langsung persoalan yang dihadapi insan olahraga.
“Problem-problem yang ada di dunia olahraga juga dikupas pada Ngobras kali ini. Tentunya untuk memberikan semangat kepada seluruh insan olahraga, baik olahraga atletik, olahraga prestasi, maupun olahraga masyarakat yang semuanya sedang dibangun dan dikembangkan oleh Pemerintah Kota Blitar,” kata Mas Ibin.
Sejumlah persoalan pun muncul tanpa sekat. Mulai kesiapan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), kebutuhan lapangan basket, pembinaan atlet, fasilitas bagi penyandang disabilitas, hingga tata kelola anggaran olahraga.

Fasilitas, Regenerasi, dan Atlet Jadi Titik Perhatian
Mas Ibin memastikan persiapan Popda telah berjalan. Dukungan anggaran maupun persiapan teknis mulai ditangani Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Pada saat yang sama, pemerintah secara bertahap memperluas pembangunan sarana olahraga.
Sejumlah lapangan di tingkat kelurahan, misalnya, mulai dilengkapi jogging track. Pengembangan sport center juga diarahkan semakin luas ke kawasan selatan. Pemerintah bahkan merencanakan pembangunan sirkuit pada tahun depan.
“Seluruh cabang olahraga yang potensial, tetapi sarana prasarananya masih kurang dan perlu dikembangkan, supaya berkoordinasi dengan Dispora. Biar perencanaan penganggarannya bagus dan kami akan berusaha mencari anggaran untuk memenuhi fasilitas yang kurang,” ujarnya.
Suara dari lapangan ikut mempertajam persoalan. Pipit, peserta Ngobras yang pernah menjadi atlet basket pada era 1980-an, meminta pembinaan dikembalikan kepada kepentingan paling mendasar: atlet dan regenerasi.
“Kalau memang yang dibahas adalah prestasi anak-anak Blitar, regenerasi, fokuskan, perhatikan anak-anaknya,” katanya.
Menurut Pipit, Blitar memiliki bibit basket yang mampu berkembang hingga tingkat nasional. Yang dibutuhkan tidak selalu bantuan uang, tetapi ruang latihan yang memungkinkan anak-anak dari berbagai latar belakang memperoleh kesempatan yang sama.
“Berikan kami tempat atau lapangan untuk bisa merangkul anak-anak ini. Di sini pencetak prestasi basket juga. Untuk Wali Kota Cup basket juga belum ada. Saya mohon itu bisa menjaring anak-anak yang berprestasi,” ujarnya.
Kebutuhan serupa disampaikan atlet sekaligus aktivis disabilitas Budi Prasetyo. Menurut dia, prestasi atlet paralimpik dibangun melalui proses panjang. Karena itu, sarana-prasarana yang aksesibel dan kesinambungan pembinaan menjadi kebutuhan mendasar.
“Harapannya bukan hanya akses sarana, tetapi juga program pembinaannya. Keinginannya sama dengan olahraga non-disabilitas, pembinaannya juga sama, agar berprestasi,” kata Budi.
Ia berharap pembangunan fasilitas olahraga Kota Blitar bergerak menuju prinsip inklusif. “Di mana pun, di olahraga maupun tempat-tempat umum, fasilitas umum bisa kami gunakan sama. Jadi kita menjadi kota yang inklusif,” ujarnya.
Mas Ibin menegaskan perhatian terhadap atlet dan pelatih juga menyangkut mekanisme dukungan anggaran. Pemkot, kata dia, menginginkan skema yang memastikan manfaat pembinaan dan penghargaan benar-benar sampai kepada mereka yang berprestasi. Salah satu langkah yang telah diterapkan ialah penyaluran penghargaan Porprov melalui Dispora langsung kepada atlet dan pelatih.
Pada 2026, Pemkot Blitar menyiapkan Rp1,042 miliar untuk penghargaan atlet dan pelatih. Dari jumlah tersebut, Rp946,975 juta diberikan kepada 80 atlet dan 17 pelatih Porprov IX 2025. Penghargaan juga diberikan kepada enam atlet dan satu pelatih Fornas VIII senilai Rp51,25 juta, serta lima atlet dan satu pelatih Peparpeda sebesar Rp39,062 juta. Secara keseluruhan, penghargaan menyasar 91 atlet dan 19 pelatih.
“Pada intinya pemerintah mengupayakan mekanisme yang paling gampang supaya atlet dan pelatih ini maksimal, supaya prestasi-prestasi itu maksimal,” katanya.
Baca Juga : Hari Keempat Pencarian 5 Jurnalis, Rompi Pelampung Dipastikan Bukan Milik Korban
Lebih lanjut, di tengah persoalan kelembagaan KONI Kota Blitar, Mas Ibin memastikan perhatian terhadap atlet dan pelatih tidak boleh terhenti. Pemkot terus mencari mekanisme yang paling tepat agar pembinaan, dukungan, dan penghargaan benar-benar menyentuh atlet dan pelatih secara langsung.
“Ketika KONI tidak kunjung selesai legalitasnya di persoalan hukum, maka kami mengusulkan opsinya dikelola oleh Dispora. Pemerintah memang melindungi seluruh potensi atlet, pelatih, dan sebagainya untuk mendapatkan perhatian lebih,” kata Mas Ibin.
Menurut dia, skema penyaluran langsung bukan hal baru. Pola tersebut telah diterapkan ketika Pemkot Blitar memberikan bonus Porprov melalui Dispora langsung kepada atlet dan pelatih.

Sport Tourism, Ketika Olahraga Menggerakkan Kota
Di luar prestasi, Pemkot Blitar mulai melihat olahraga sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi. Mas Ibin menyebut sport tourism sebagai salah satu fokus yang akan diperkuat melalui ruang publik dan penyelenggaraan event.
Car Free Day (CFD), lomba lari, hingga rencana penyelenggaraan MMA menjadi bagian dari arah tersebut. Event berskala besar diharapkan membawa peserta dan penonton dari luar daerah, kemudian mengalirkan belanja ke sektor kuliner, UMKM, transportasi, dan akomodasi.
“Olahraga betul-betul bisa menyatukan seluruh masyarakat, bisa mendatangkan banyak massa ke Kota Blitar yang akan menimbulkan efek domino ekonomi di Kota Blitar. Itu yang mulai kita dorong,” kata Mas Ibin.
Perubahan budaya berolahraga itu telah terlihat. Daniel Lim, pegiat olahraga sekaligus pembina Patria Run, mengingat bagaimana komunitas lari Kota Blitar masih relatif kecil ketika Patria Run berdiri pada 2016. Kini, pemandangannya berbeda. Pelari mudah ditemui pagi, sore, bahkan malam hari.
Daniel menilai perubahan semakin terasa setelah pandemi Covid-19. Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan tumbuh, termasuk di kalangan generasi muda. Bersamaan dengan itu, komunitas lari di Kota Blitar semakin beragam.
“Kalau dulu mungkin cuma satu. Sekarang sudah banyak sekali komunitas-komunitas lari,” kata Daniel.
Menurut dia, kebijakan pemerintah menyediakan ruang aktivitas publik ikut memperbesar ekosistem tersebut. CFD di Jalan Merdeka menjadi salah satu contoh. Ruang kota yang biasanya dilalui kendaraan berubah menjadi arena bersama bagi pelari, pesepeda, keluarga, anak-anak hingga warga lanjut usia.
“Peran pemerintah cukup krusial untuk mendorong lagi supaya kepedulian tentang olahraga ini bisa menjadi kebiasaan yang lebih hidup,” ujarnya.

Dari forum Haornas itu, arah pembangunan olahraga Kota Blitar mulai terlihat: prestasi membutuhkan atlet yang terurus, atlet membutuhkan pembinaan dan fasilitas, sementara olahraga masyarakat membutuhkan ruang untuk tumbuh. Ketika seluruh mata rantai itu bertemu dengan event yang mampu mendatangkan orang dari luar daerah, olahraga tak lagi berhenti di podium.
Ia menjadi bagian dari denyut kota yang membentuk masyarakat lebih sehat sekaligus membuka peluang baru bagi pergerakan ekonomi.
