Mengapa Kalender Islam Disebut Hijriyah? Begini Sejarah dan Maknanya
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
05 - Sep - 2026, 03:00
JATIMTIMES - Nama Kalender Hijriyah tidak muncul begitu saja. Penamaan tersebut berkaitan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari Makkah menuju Madinah yang kemudian dijadikan titik awal perhitungan tahun dalam sistem penanggalan Islam.
Hijrah yang berlangsung pada 622 Masehi menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam. Meski demikian, Nabi Muhammad SAW tidak pernah menetapkan sistem kalender yang secara khusus disebut Kalender Hijriyah semasa hidupnya.
Baca Juga : Hari Ini IKA FH UB Gelar Sapa Alumni, Hadirkan Para Alumni yang Siap Berikan Motivasi untuk Maba FH UB 2026
Penggunaan tahun hijrah sebagai awal penanggalan Islam baru ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Penetapan tersebut dilakukan setelah Rasulullah SAW wafat melalui pertimbangan dan kesepakatan para sahabat.
Pemilihan hijrah sebagai titik awal memiliki kaitan erat dengan perubahan besar yang terjadi dalam perjalanan dakwah Islam. Perpindahan dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain, tetapi menandai dimulainya fase baru kehidupan umat Islam.
Di Madinah, Rasulullah SAW membangun komunitas Muslim yang lebih terorganisasi. Periode tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan umat Islam sekaligus memperkuat fondasi masyarakat Muslim.
Karena awal perhitungannya merujuk pada peristiwa hijrah, sistem penanggalan tersebut kemudian dikenal sebagai kalender Hijriyah.
Kalender Hijriyah juga memiliki fungsi langsung dalam pelaksanaan berbagai ibadah umat Islam. Penentuan Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, pelaksanaan ibadah haji, hingga puasa Asyura menggunakan sistem penanggalan Hijriyah sebagai acuannya.
Pergantian tahun dalam kalender tersebut juga membuat peristiwa hijrah tetap hadir dalam ingatan umat Islam. Maknanya tidak hanya berkaitan dengan perpindahan fisik Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, tetapi juga dengan perubahan dari suatu keadaan menuju kondisi yang lebih baik.
Al-Qur'an menyebut prinsip perubahan tersebut dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11:
“Innallaha la yugayyiru ma bi qaumin hatta yugayyiru ma bi anfusihim.”
Baca Juga : Cuaca Jatim Sabtu 5 September: Gresik-Sidoarjo 35°C, Malang hingga Batu Cerah Berawan
Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Dalam konteks sejarah Islam, hijrah menjadi batas antara fase dakwah Rasulullah SAW di Makkah dan periode baru di Madinah. Peristiwa tersebut kemudian ditempatkan sebagai titik awal era dalam penanggalan Islam.
Pemilihan hijrah juga membuat kalender Islam memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabat. Setiap bulan dan pergantian tahun dalam kalender Hijriyah sekaligus menjadi penanda perjalanan waktu yang berakar pada salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam.
Sejumlah momentum keagamaan pun mengikuti kalender tersebut. Ramadan berlangsung pada bulan kesembilan, sedangkan Idul Adha berkaitan dengan 10 Zulhijah dan rangkaian ibadah haji yang berlangsung pada bulan Zulhijah. Sementara itu, puasa Asyura berkaitan dengan 10 Muharram.
Dengan posisi tersebut, Kalender Hijriyah tidak hanya digunakan untuk mengetahui pergantian tanggal, tetapi juga menjadi sistem penanggalan yang menentukan waktu berbagai aktivitas ibadah umat Islam.
