JATIMTIMES - Bentrokan antara pasukan keamanan Suriah dan loyalis Bashar Assad dalam dua hari terakhir telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. Eskalasi kekerasan ini menjadi salah satu insiden paling mematikan sejak perang Suriah dimulai 14 tahun lalu.
Lembaga pemantau perang Syrian Observatory for Human Rights pada Sabtu (8/3) mencatat korban jiwa meliputi 745 warga sipil, 125 anggota pasukan keamanan Suriah dan 148 anggota kelompok pendukung Bashar Al Assad, Alawite.
Baca Juga : Lama Vakum, Ikadin Jatim Akan Gairahkan Kembali Advokat
Reuters yang memberitakan informasi ini menyatakan belum bisa memverifikasi jumlah korban jiwa secara independen.
Kepala observatorium, Rami Abdulrahman, mengatakan bentrokan yang terjadi di Jableh, Baniyas dan wilayah sekitarnya itu merupakan kekerasan terburuk dalam konflik sipil Suriah selama 14 tahun terakhir. Pasalnya, para korban termasuk perempuan dan anak-anak.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Hassan Abdul Ghani mengatakan pasukan keamanan telah "menerapkan kembali kendali" atas wilayah-wilayah yang telah menjadi sasaran serangan oleh para loyalis Assad.
"Dilarang keras mendekati rumah mana pun atau menyerang siapa pun yang berada di dalam rumah mereka," tambahnya dalam sebuah video yang diunggah oleh SANA.
Menteri Pendidikan Nazir al-Qadri mengumumkan bahwa sekolah-sekolah akan tetap tutup pada hari Minggu dan Senin di provinsi Latakia dan Tartus karena "kondisi keamanan yang tidak stabil".
SANA juga melaporkan pemadaman listrik di seluruh provinsi Latakia karena serangan terhadap jaringan listrik oleh para loyalis Assad.
Pembunuhan tersebut menyusul bentrokan yang dipicu oleh penangkapan seorang tersangka yang dicari di sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah Alawite, demikian dilaporkan Observatory.
Sementara dikutip dari The Guardian pada Minggu (9/3/2025), pertempuran dimulai pada Kamis (6/3/2025) setelah pasukan yang setia kepada rezim Assad yang digulingkan menyergap pasukan keamanan di Jableh, di provinsi pesisir Latakia.
Baca Juga : Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol Bebas dari Penjara
Serangan terkoordinasi yang meluas itu merupakan tantangan terbesar bagi otoritas Islamis negara itu sejauh ini. Bahkan terjadi tiga bulan setelah pasukan oposisi yang dipimpin oleh kelompok pemberontak Hayat Tahrir Al-Sham menggulingkan presiden Suriah Bashar Al Assad.
Untuk menghancurkan pemberontakan itu, pemerintah Suriah meminta bala bantuan, dengan ribuan pasukan berkumpul di pantai Suriah dari seluruh negeri.
Meskipun pasukan secara nominal berada di bawah naungan pemerintah Suriah yang baru, milisi masih bertahan, beberapa di antaranya telah terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu dan relatif tidak disiplin.
Pemerintah Suriah bersikeras bahwa "tindakan individu" menyebabkan terbunuhnya warga sipil dan mengatakan masuknya pasukan dalam jumlah besar ke pantai menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia.
Diketahui, saat ini Suriah berada di bawah kepemimpinan Ahmed Sharaa usai Presiden Assad digulingkan pada Desember lalu. Assad dilengserkan setelah puluhan tahun dinasti keluarganya berkuasa, yang diwarnai berbagai represi dan kecamuk perang sipil.