MALANGTIMES – Menurut Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya (EM UB), Reza Adi Pratama, seluruh proses perlombaan rancang maskot diselenggarakan secara terbuka dan melibatkan tim ahli. Dalam kondisi ini, jajak pendapat dalam penentuan maskot menjadi tak benar-benar diperlukan.
Baca Juga : Gegara Ahok Diskon BBM untuk Ojol, Said Didu dan Arsul Soni Malah 'Perang' di Twitter
Sebelumnya diberitakan oleh MALANGTIMES, sejumlah kritik bermuculan terhadap maskot baru UB, Brone. Maskot yang resmi diluncurkan pada 21 Desember 2015 silam ini mengambil bentuk robot.
Perupaan tersebut dinilai dapat ditafsirkan sebagai simbol produksi robot-robot yang berfungsi menunjang efisiensi dan mental mesin kapitalisme. Sebagian yang lain juga menyayangkan ketiadaan unsur Prabu Brawijaya di dalam maskot.
Menurut Reza, terdapat setidaknya empat kriteria yang menjadi dasar bagi pemilihan maskot UB. Keempatnya adalah kreativitas dalam memvisualkan desain, kesesuaian dengan deskripsi dan filosofi branding UB, menarik untuk dilihat dan relevan untuk direalisasikan dalam bentuk boneka.
Baca Juga : Suasana Pelantikan Riza Patria, Pakai Protap Covid-19, Pejabat yang Hadir Kenakan Masker
“Hal tersebut yang menjadi dasar pemilihan Brone karya Onny Herlambang Putra Wardhana, mahasiswa Fakultas Ekonomi, sebagai pemenang,” Maskot ini dianggap mewakili semangat berinovasi dan daya saing.
Untuk menentukan juara, dilaksanakan penjurian dua tahap. Tahap pertama dipilih 3 besar dari 29 karya pendaftar yang masuk oleh dewan juri dari jurusan ilmu komunikasi, seni rupa dan desain komunikasi visual. “Selanjutnya, tiga besar mempresentasikan karyanya dihadapan rektor dan jajanrannya,” jelas mahasiswa angkatan 2011 ini. (*)
