JATIMTIMES - Nasib tak mujur membayangi para petani selada keriting di Kota Batu. Momen yang seharusnya menjadi panen raya penuh berkah justru berubah menjadi pukulan telak.
Sejak awal tahun 2026, harga komoditas sayur andewi ini terjun bebas ke titik terendah, yakni hanya di kisaran Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kilogram di tingkat petani.
Baca Juga : Mutasi 15 Pejabat Tinggi, Pengamat Apresiasi Penyegaran Birokrasi di Pemkot Batu
Harga jual yang hanya menyentuh seribu per kilogram sangat jauh jika dibandingkan dengan harga ideal yang pernah menembus Rp 35 ribu per kilogram. Melimpahnya pasokan akibat pola tanam serentak yang tidak dibarengi lonjakan permintaan pasar disinyalir menjadi biang kerok anjloknya harga.
Krisdiantoro, salah satu petani asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyebut satu keranjang selada kini hanya dihargai Rp 25 ribu. Padahal, dalam kondisi normal, satu keranjang bisa mendatangkan uang hingga Rp 900 ribu.
"Biaya tanam dan perawatan itu jutaan rupiah. Mulai bibit, pupuk, sampai obat-obatan. Sekarang harganya segitu, jelas tidak sebanding. Ditambah curah hujan tinggi, banyak tanaman yang busuk di lahan," keluh Kris.
Rapuhnya sistem tata niaga hortikultura di Kota Batu pun dipengaruhi tidak adanya pengaturan pola tanam yang terintegrasi. Selain itu masih ada PR kepastian pasar dari pihak-pihak terkait. Alih-alih jadi berkah, panen raya malah berubah jadi masalah tahunan bagi para pejuang pangan di Kota Batu.
Situasi serupa terjadi di Desa Sumberejo, Batu, Yantoro, petani setempat, menilai anjloknya harga ini dipicu oleh euforia tanam serentak menjelang libur akhir tahun lalu. Banyak petani berspekulasi menanam selada dengan harapan permintaan melonjak saat momen tahun baru.
Baca Juga : Dugaan Keracunan MBG di SMKN 3 Boyolangu dan SMK Sore, SPPG Moyoketen Dihentikan Sementara
"Perkiraannya ramai, tapi kenyataannya zonk. Panen melimpah, tapi pembeli tidak sebanding. Saya jual 5 keranjang cuma laku Rp 100 ribu. Bahkan, ongkos panen saja kadang lebih mahal dari harga jualnya," ungkap Yantoro.
Dengan kondisi itu, petani memilih bertahan meski cenderung sulit untung bahkan merugi.
Tidak hanya menimpa selada keriting, beberapa komoditas lain seperti seledri juga merosot ke angka Rp 4 ribu dari harga normal Rp 10 ribu. Begitu pula dengan sawi pokcoy yang harganya terpangkas hampir separuh.
