JATIMTIMES - Dunia konten kreator terus berkembang pesat. Jika dulu hiburan dan lifestyle dianggap paling menjanjikan, tren terbaru justru menunjukkan arah berbeda. Pada 2026, konten kreator edukasi, khususnya di bidang finansial dan bisnis, disebut sebagai yang paling cuan dan paling kaya.
Hal itu diungkapkan oleh Samuel Christ, yang dikenal sebagai edukator finansial sekaligus konten kreator. Ia menilai bahwa di era sekarang, kreator yang membahas edukasi keuangan memiliki nilai ekonomi jauh lebih besar dibandingkan niche lain.
Baca Juga : Video Lama atau Fakta Mengejutkan? Ricky Harun Terseret Isu Karaoke Bareng LC
“Di zaman sekarang memang content creator yang paling cuan pasti content creator edukasi. Pasti, apalagi kalau kita ngomong edukasinya di sini, edukasi finance, bisnis, itu pasti paling kaya,” ujar Samuel dalam podcast @kaisartv, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Samuel, kekayaan para kreator edukasi finansial tidak lepas dari kekuatan pasar yang mereka miliki. Audiens yang spesifik, berdaya beli tinggi, serta relevan dengan produk-produk bernilai besar membuat tarif endorsement mereka melesat jauh.
“Itu pasti. Kenapa? Dari sisi endorsement aja nih, yang endorse mereka-mereka ini itu perusahaan-perusahaan raksasa loh,” jelasnya.
Samuel menyebut, sektor perbankan menjadi salah satu penyumbang terbesar pemasukan para kreator edukasi finansial. Bahkan, satu kali kerja sama iklan bisa bernilai fantastis.
“Contoh perbankan, semua perbankan di Indonesia itu kasih duit untuk satu endorse 200 juta aja kecil bagi mereka kan,” katanya.
Ia pun mencontohkan sejumlah bank besar yang rutin menggandeng kreator finansial untuk kampanye produk mereka. “Oh betul juga. Kayak BCA, BNI, Mandiri itu semua mereka kaya-kaya,” ucap Samuel.
Tak hanya perbankan, Samuel mengungkapkan ada sejumlah sektor lain yang menjadi ‘langganan’ endorsement kreator edukasi finansial. Sektor-sektor ini memiliki modal besar dan agresif dalam promosi digital.
“Kedua broker forex, ketiga broker kripto, keempat broker saham, kelima broker asuransi, Aksa, Prudential, Zurich, itu semua perusahaan besar,” paparnya.
Dengan daftar klien sebesar itu, tak heran jika para kreator edukasi finansial masuk jajaran 5 konten kreator terkaya di 2026. Nilai kerja sama yang tinggi membuat penghasilan mereka sulit ditandingi oleh kreator di bidang lain.
Baca Juga : Kampus Swasta Berperingkat Dunia Jadi Alternatif Strategis di Tengah Ketatnya SNBP 2026
Samuel lalu membandingkan kondisi tersebut dengan konten kreator fashion atau lifestyle. Menurutnya, meski memiliki popularitas tinggi, tantangan monetisasi di sektor ini jauh lebih besar.
“Sedangkan kalau kita ngomongin content creator fashion misalnya ya, berapa banyak brand fashion yang bisa bayar mereka dengan harganya ini kita ngomong mega content creator ya,” ujarnya.
Ia menilai hanya segelintir brand besar yang mampu membayar mahal kreator fashion papan atas. Selebihnya, mayoritas berasal dari pelaku usaha kecil dan menengah.
“Seberapa banyak sih (brand fashion), paling kayak cuma Uniqlo atau apa. Sisanya kan UMKM, kebanyakan,” lanjut Samuel.
Kondisi UMKM yang memiliki margin tipis membuat mereka berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan dana untuk endorsement besar. “Dan UMKM untuk mengeluarkan uang endorsement akan mikir lebih lama. 3 juta, 5 juta aja udah kayak 3 juta, 5 juta,” kata Samuel.
Ia menegaskan bahwa perbedaan skala bisnis sangat berpengaruh terhadap nilai kerja sama dengan kreator. “Betul. Betul, betul, betul. Karena kan marginnya tipis,” pungkas Samuel.
Fenomena ini menunjukkan perubahan besar dalam industri kreator digital. Edukasi finansial bukan lagi sekadar berbagi ilmu, tapi telah menjadi ladang cuan paling menjanjikan, sekaligus mengantarkan para kreatornya masuk jajaran terkaya di 2026.
