JATIMTIMES - Di balik patung yang ramai diperbincangkan warganet karena bentuknya yang dinilai tak lazim, di Desa Balongjeruk Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri mengusik sineas muda Kediri Harianto untuk diangkat ke layar lebar.
Harianto dikenal sebagai sineas yang kerap kali konsisten menghadirkan gagasan-gagasan segar yang berangkat dari realitas sosial dan kekuatan lokal.Kini ia bersiap untuk membuat gebrakan baru. Yaitu, memproduksi film layar lebar mengangkat fenomena Patung Macan Putih yang viral.
Baca Juga : Jawa Timur Masuk Zona Merah Konflik Agraria 2025, Sektor Perkebunan dan Fasilitas Militer Jadi Pemicu Utama
Dengan ide kreatifnya Harianto siap untuk membuat sebuah lompatan besar yang diwujudkan awal dalam bentuk narasi, menceritakan tentang hubungan manusia yang dikaitkan dengan nilai nilai warisan leluhur yang kini mulai tergerus oleh jaman.
Narasi tersebut kemudian dibingkai dalam sebuah film yang sarat akan nilai budaya leluhur dan pesan moral di dalamnya.
“Viral itu hanya pintu masuk. Yang ingin kami bangun adalah karya yang bertahan lama, punya nilai budaya, pesan moral dan berdampak ekonomi,” ungkap Harianto yang pernah menyutradarai film Pejuang Kampung 1 dan 2 tersebut
Film ini diproyeksikan tidak hanya sebagai tontonan. Tetapi juga ikon baru pariwisata dan ekonomi kreatif Kediri.
Dengan pendekatan sinematik modern, cerita yang kuat, serta visual yang mudah diterima lintas generasi, proyek film ini memiliki daya tarik dengan format yang fleksibel untuk bioskop, dan distribusi internasional.
Baca Juga : Malang Disebut Gudangnya Freelancer IT, Nongkrong di Kafe tapi Kerja di Mana-Mana
Seluruh pengembangan film ini disiapkan dengan konsep matang, visi jangka panjang, dan strategi distribusi yang jelas, relevan dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar film, proyek Patung Macan Putih ini adalah investasi pada cerita lokal yang berpotensi menjadi legenda nasional.
Saat layar mulai menyala, Macan Putih bukan hanya akan berdiri sebagai patung—tetapi bangkit sebagai simbol, cerita, dan peluang besar.
