JATIMTIMES - Kota Malang berhasil menjaga laju inflasi tetap terkendali sepanjang tahun 2025. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Desember 2025 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,56 persen (month to month/mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,16 persen (mtm).
Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan (year on year/yoy) Kota Malang berada di angka 2,81 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi Provinsi Jawa Timur sebesar 2,93 persen (yoy) maupun inflasi nasional yang tercatat 2,92 persen (yoy). Angka ini menunjukkan inflasi Kota Malang masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah.
Baca Juga : Optimistis Kinerja Positif di Tahun 2026, Direksi Bank Jatim Borong Saham
Meski demikian, secara tahunan inflasi Kota Malang berada di angka 2,81 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi Jawa Timur maupun nasional. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Febrina menegaskan bahwa kondisi tersebut mencerminkan stabilitas ekonomi daerah yang tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang akhir tahun.
“Kenaikan inflasi di Desember masih dalam batas yang wajar dan terkendali. Ini menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga, sementara koordinasi pengendalian inflasi berjalan efektif,” ungkap Febrina, Selasa (6/1/2026).
BI Malang mencatat, tekanan inflasi pada Desember 2025 terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,36 persen. Sejumlah komoditas pangan strategis seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah menjadi penyumbang utama, seiring meningkatnya permintaan jelang Natal dan Tahun Baru serta gangguan pasokan akibat tingginya curah hujan.
Selain itu, kenaikan harga emas perhiasan dan bensin turut memberi tekanan inflasi. Harga emas terus mengalami tren kenaikan global, sementara penyesuaian harga BBM non-subsidi sejak awal Desember ikut memengaruhi biaya transportasi.
Meski demikian, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh turunnya harga sejumlah komoditas hortikultura. Cabai merah, kacang panjang, kentang, jeruk, dan buncis tercatat mengalami deflasi berkat pasokan yang relatif terjaga.
“Stabilitas pasokan menjadi kunci. Saat distribusi lancar dan stok mencukupi, tekanan harga bisa diredam meski permintaan meningkat,” jelas febrina.
Keberhasilan menjaga inflasi, lanjutnya, tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang yang konsisten menjalankan berbagai langkah konkret, mulai dari Gerakan Pangan Murah, Warung Tekan Inflasi, sidak pasar, hingga pemantauan harga bahan pokok secara rutin.
Memasuki tahun 2026, sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, daerah, dan Bank Indonesia akan terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) serta optimalisasi program 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
Baca Juga : Mau Beli Rumah di 2026? Ini Cara Dapat Bebas Pajak PPN Hingga Rp 2 Miliar
“Kami optimistis inflasi Kota Malang dapat terus dijaga dalam rentang sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Kuncinya adalah kolaborasi dan respons cepat terhadap dinamika di lapangan,” ujar Febrina.
Terpisah, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Umar Sjaifudin, menambahkan bahwa secara historis, inflasi Kota Malang pada 2025 menunjukkan tren yang masih terkendali meskipun lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Desember 2025, tingkat inflasi year on year dan year to date Kota Malang tercatat sebesar 2,81 persen.
“Angka ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2024 yang sebesar 1,36 persen, namun masih sejalan dengan pola inflasi Desember 2023 yang berada di angka 2,65 persen,” jelas Umar.
Menurutnya, kenaikan inflasi tahunan tersebut mencerminkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan permintaan masyarakat, khususnya pada kelompok konsumsi rumah tangga, terutama menjelang akhir tahun. Meski demikian, inflasi Kota Malang masih berada dalam rentang sasaran nasional dan relatif lebih rendah dibandingkan inflasi Provinsi Jawa Timur maupun nasional.
“Secara umum, inflasi Kota Malang masih dapat dikatakan terkendali. Dinamika harga yang terjadi lebih dipengaruhi oleh faktor musiman dan kondisi pasokan, terutama pada komoditas pangan,” ucapnya.
BPS Kota Malang menilai, dengan terjaganya ketersediaan pasokan dan koordinasi yang baik antarinstansi, tekanan inflasi ke depan tetap dapat dikelola secara optimal.
