JATIMTIMES - “Kenapa Islam di Indonesia saat ini tidak tenang seperti dulu?” ujar salah satu remaja yang sedang merenung duduk di ruang tamu rumahnya.
Di Indonesia, sejak Soeharto diangkat menjadi presiden, lebih tepatnya pada 1984, yang mana suasana politik yang tegang dan penuh kecurigaan, kehidupan beragama di Indonesia mulai menghadapi tekanan. Pemerintah Orde Baru gencar mengawasi aktivitas keagamaan, terutama Islam, karena dianggap berpotensi mengancam stabilitas negara. Di banyak tempat, simbol-simbol keislaman mulai dibatasi, dakwah dan pengajian diawasi, bahkan beberapa tokoh agama diajak untuk “dibina” oleh aparat demi menjaga ketertiban. Kondisi inilah yang sering disaksikan oleh seorang karakter remaja bernama Zudin.
Baca Juga : Diskon Akhir Tahun Graha Bangunan Blitar: Peralatan Tekiro RYU Turun Harga Hingga 10 Persen
Zudin adalah remaja bertubuh asal Bekasi dan kini menetap di Jakarta. Lebih tepatnya kawasan Sunter Agung yang tak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok. Sunter Agung. Wilayah ini sangat padat penduduk, truk-truk besar sering berlalu lalang keluar masuk pelabuhan, sehingga suara bising mesin dan juga aroma solar tercium sepanjang jalan utama.
Saat ini Zudin sedang duduk di bangku kelas 3 SMP, Zudin memiliki rencana untuk melanjutkan jenjang selanjutnya di sekolah negeri, akan tetapi kedua orang tuanya memberikan pilihan kepada Zudin untuk masuk dan belajar di pondok pesantren (ponpes). Tentu saja, mereka tidak memaksa anaknya untuk masuk ke ponpes. Mereka hanya berharap bahwa anaknya agar lebih mengenal agamanya ketika ia dimasukan ke ponpes.
Dari sini, Zudin harus segera mulai memikirkan keputusan yang akan ia ambil, karena kedua orang tuanya juga membutuhkan waktu untuk melakukan berbagai administrasi untuk pendaftaran masuk ke ponpes.
Selain itu, keadaan di luar rumah semakin mencekam. Akhir-akhir ini, aparat sering mondar-mandir di sekitar kawasannya, mengawasi kegiatan keagamaan warga. Beberapa masjid bahkan mulai dipasangi spanduk bertuliskan imbauan agar tidak membicarakan politik dalam ceramah.
Zudin keluar dari rumahnya, berjalan menyusuri jalan gang, mencari suasana lain yang cocok untuk merenungi keputusan yang akan ia ambil. Zudin terus berjalan dan berjalan, hingga ia sampai di sebuah angkringan yang biasanya ia dan ayahnya kunjungi, di sana. Tercium aroma kopi yang menyengat, angkringan tersebut menjual beberapa gorengan dan juga minuman hangat. Zudin duduk di atas tikar yang telah tersedia.
“Mas, saya mau pesan kopi susunya satu ya,” pesan Zudin ke penjual angkringan.
“Oke, Mas, bisa ditunggu sebentar,” jawab penjual angkringan sambil menyalakan kembali kompor kecil miliknya.
Sembari menunggu pesanan kopi susu, sejenak Zudin menghadap ke jalan utama yang diterangi dengan redupnya lampu jalan. Dari sana, ia juga dapat melihat gelap gulitanya langit malam Jakarta yang kelam namun indah. Meskipun suasana sedang mencekam di antara politik dan agama, Zudin mencoba untuk tenang menikmati indahnya malam.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Dari kejauhan, tampak warna merah memantul dari arah utara. Aroma terbakar mulai tercium samar-samar, terbawa angin yang berhembus pelan melewati jalan utama.
“Astaghfirullah,” ucap Zudin pelan.
Ia terkejut, matanya masih menatap ke arah langit, tapi pandangannya teralihkan oleh sepasang muda-mudi di seberang jalan. Mereka tertawa mesra seolah angin tidak membawa apa-apa. Si lelaki terlihat sedang membawa sebatang rokok yang menyala dan menghisapnya tanpa ragu. Asap rokok perlahan mulai mengepul di udara, bercampur dengan aroma terbakar dan dan wanginya kopi angkringan.
“Permisi, Mas, ini kopi susunya sudah siap,” kata penjual angkringan sambil membawakan pesanan Zudin yang masih hangat.
“Oh ya, Mas, terima kasih,” ujar Zudin tersenyum tipis. Ia menerima gelas itu dengan kedua tangannya, lalu dengan perlahan ia meminum kopi tersebut. Rasa hangat yang hadir di tenggorokan menenangkan hati yang gundah.
Kopi pesanan Zudin akhirnya habis dan hanya menyisakan sedikit ampas hitam di dasar gelasnya. Ia pun bergegas meninggalkan angkringan. Setelah menyerahkan uang, ia mengucapkan terima kasih kepada penjual dan beranjak pergi pulang menuju kerumah.
Sesampainya di rumah, Zudin duduk di salah satu kursi kayu rotan yang terletak ditengah ruang tamu. Untuk sejenak ia menarik napas panjang, mencoba untuk melepaskan lelahnya hari. Dengan perlahan Zudin mulai menutup kedua kelopak matanya, bayangan sepasang muda-mudi di angkringan kembali terlintas di benaknya, tawa mereka dan kepulan asap rokok.
“Kenapa lelaki tadi merokok ya? Apakah mereka tidak kasihan dengan tubuh mereka? Kenapa mereka juga terlihat sangat mesra? Apakah mereka sepasang suami istri?” Ia kembali menghela napas panjang.
Tiba-tiba sentuhan kecil terasa di tangan kanan Zudin, ia segera kembali membuka kedua kelopak matanya, sedikit terkejut. Ternyata, sosok yang merabanya adalah ibunya sendiri.
“Zudin, kalau mau tidur pindah kamar aja, nanti kalau kamu tidur disini badan kamu akan sakit-sakit,” ujar Ibu Zudin dengan penuh perhatian.
“Iya, Ibu. Nanti Zudin akan pindah ke kamar. Tadi Zudin hanya istirahat sebentar, soalnya baru pulang dari angkringan.”
Ibunya mengangguk pelan, lalu duduk di sisi kiri kursi. “Ibu lihat kamu sedang memikirkan sesuatu ya? Memang kamu lagi mikirin apa?”
Zudin menatap ibunya lalu menjawabnya, ”Gak apa-apa, Bu. Hanya kepikiran sepasang muda-mudi yang lewat ketika aku berada di angkringan tadi.”
“Memang mereka kanapa?” tanya ibu Zudin dengan tatapan penasaran
Zudin menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Tadi mereka terlihat asyik bermesraan satu sama lainnya, akan tetapi aku heran kenapa pasangan dari lelaki itu suka sekali dengan rokoknya, dan apakah mereka pasangan sah. Kalau bukan, berarti gak boleh dong. Agamakan membenci hal-hal tersebut. Yang membuat aku lebih heran lagi, mereka itu sepertinya juga muslim.”
Ibu Zudin terdiam beberapa saat, lalu menatap anaknya dengan pandangan lembut. “Iya, Nak… memang sekarang ini banyak sekali anak muda yang seperti itu. Mereka mungkin belum benar-benar paham dan mengerti tentang agama. Mereka masih belum bisa membedakan yang mana boleh dan tidak boleh.”
Mendengar jawaban Ibunya, Zudin terdiam cukup lama. Tatapan kosong menatap lantai, seolah-olah ia juga ikut mengalir ke dalam perkataan. Tanpa ia sadari, dialog yang baru saja Zudin lakukan bersama Ibunya adalah salah satu kepingan puzzle yang kelak menentukan pilihannya - sekolah atau di mana ia akan melanjutkan jenjangnya pendidikannya.
Setelah itu, Ibu Zudin menyuruh anaknya untuk mengambil air wudhu dan bersiap untuk tidur. ”Ya udah, kamu sekarang ambil wudhu dan pergi ke kamar untuk tidur besok kan harus tetap bangun pagi untuk shalat Shubuh.”
Zudin mengangguk pelan. Ia bangkit dari dari duduknya, melangkah menuju arah kamar mandi, mengambil air wudhu, lalu pergi ke kamar untuk tidur.
Esok harinya, pukul empat pagi Zudin terbangun dari tidurnya ditemani dengan cahaya remang-remang yang datang dari lampu kamarnya. Dari luar jendela, terdengar selawat tarhim yang berkumandang lembut dari masjid kompleks rumahnya. Tanpa menunda, Zudin bergegas untuk bersiap berangkat shalat shubuh. Ia mengenakan koko putih yang harum wangi kasturi. Dia mengambil air wudhu dengan hati-hati lalu mengenakan peci hitam favorit yang diberikan oleh ayahnya. Begitu seluruh persiapan telah siap, Zudin melangkah keluar dari rumahnya berjalan santai menyusuri jalan kompleks tempat tinggalnya menuju ke masjid.
Setibanya di masjid, Zudin melihat beberapa jamaah sedang melakukan shalat dua rakaat sebelum subuh, sekilas melintas perkataan ibu tentang shalat dua rakaat sebelum subuh. Ibu berkata bahwa kalau Zudin mendirikan shalat dua rakaat sebelum subuh, maka Zudin akan mendapatkan dunia dan seisinya. Dengan perlahan Zudin melangkah masuk ke dalam masjid, Zudin mengambil saf bagian belakang, mengangkat kedua tangannya lalu menunaikan shalat dua rakaat sebagaimana pesan ibunya.
“Allahu akbar.. Allahu akbar…” Iqomah berkumandang, para jamaah masjid mulai berdiri dan membuat barisan shaf yang rapat. Ketika semuanya sudah siap imam pun mengangkat kedua tangannya untuk takbiratul ikhram dan membaca surat Al-Fatiha dengan merdunya.
Usai shalat subuh, suasana masjid masih terasa khusyuk. Beberapa jamaah tampak duduk bersila, melanjutkan dzikir dan doa mereka. Tak berselang lama para jamaah bangun dari duduk mereka, pergi menuju pinggiran saf dan membuat sebuah lingkaran besar. Begitu juga dengan Zudin, ia pergi menuju shaf belakang tempat dimana ia tadi shalat dua rakaat sebelum subuh.
Baca Juga : Menggali Peringatan Al-Kabaair: Dosa yang Tidak Terdengar, Tapi Mematikan
Tiba-tiba seorang lelaki besar dengan jenggot tebal berdiri dan menuju ke tengah-tengah lingkaran jamaah. Suasana yang sebelumya tentang menjadi hening. Kini semua mata jamaah tertuju padanya. Dengan gamis abu-abunya, ia mulai mengucapkan kalimat pertamanya.
“Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.” Dengan lantang ia mengucapkan salam kepada para jamaah.
Jamaah pun menjawab salam tersebut dengan semangat, sehingga suasana masjid yang sebelumnya tenang berubah menjadi hangat.
“Para Jemaah sekalian, saya di sini tidak akan menyampaikan sebuah materi, amar ma’ruf nahi munkar - menyeru kepada kebaikan melarang kepada keburukan. Di zaman sekarang, banyak hal yang tak lagi mudah dibedakan. Yang salah tampak benar, yang benar sering disalahkan. Orang jujur hidup dengan waspada,sementara yang pandai berdusta justru dapat tempat di panggung besar,” ujar satu kalimat darinya sehingga membuat ruangan ibadah itu sunyi. Dia adalah ustadz pemberani sehingga ia dapat berkata demikian di era yang mana politik membungkamkan kebebasan suara di mimbar.
Ustadz itu melanjutkan ceramahnya. “Kita semua tahu, tapi jarang yang berani menyebutnya. Karena di masa seperti ini, kebenaran seringkali punya harga dan yang mampu membayarnya hanya mereka yang sudah tak takut kehilangan apa pun.”
Suasana semakin hening, Zudin tak menyangka bahwa masih ada seseorang yang berani untuk mengkritik pemimpin-pemimpin negeri ini.
Kajian akhirnya selesai, Zudin melangkahkan kakinya keluar dari masjid dan pergi menuju ke rumahnya.
“Sungguh berani sekali ustadz tadi. Bagaimana kalau aku juga jadi seperti ustadz yang tadi kajian? Belajar mengenai agama lalu aku ajarkan kepada lainnya,“ kata Zudin dalam hati.
Di tengah perjalanan, ia melewati Warung sayur, terdengar suara pria dari radio berita.
“Selamat pagi, pendengar, izinkan saya memberi laporan mengenai kondisi tempat kejadian kerusuhan Priok pada tanggal 13 September 1984.” Suara gemerisik mulai bermunculan dari radio.
“Situasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, pagi ini dilaporkan berangsur tenang setelah kerusuhan yang terjadi semalam. Aparat masih berjaga di beberapa titik, dan penyelidikan atas peristiwa tersebut terus dilakukan. Sejumlah korban luka masih dirawat, dan pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang serta tidak terpancing isu. Semoga keadaan segera pulih dan aktivitas warga kembali normal.” Begitu kata radio.
Tiba- tiba dari belakang seseorang menyerang dan menahan kedua tangan Zudin
“Hei, lepaskan aku! ” teriak Zudin.
“Sudah biarkan aku! Jangan kalian kejar-kejar aku, kalau tidak anak ini akan aku lukai!” Diketahui orang itu sedang dikejar-kejar oleh beberapa Polisi.
Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut panik dan khawatir, takut kalau Zudin dilukai.
“DAK.” Satu serangan empuk diluncurkan ke kepala orang yang menahan Zudin. Dia juga meluncurkan serangan susulan kepadanya untuk melepaskan kedua tangannya.
“ Mas, kamu gak apa-apa?” ternyata yang menolong Zudin adalah penjual angkringan semalam.
“Aman, Mas,” ucap Zudin sambil berterima kasih
Orang yang menahan Zudin akhirnya dapat diamankan oleh Polisi. Orang tersebut diduga salah satu buronan yang dicari oleh pihak militer karena ia terdakwa sebagai seorang yang memicu pecahnya kerusuhan di Priok yaitu dengan membagikan selembaran kertas anti-pemerintah palsu.
Kondisi kembali tenang, para polisi telah pergi membawa orang tersebut. Zudin kembali melanjutkan perjalanan pulang.
Dalam perjalanan pulang, dalam hati Zudin kembali bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa orang tadi? Kenapa ia harus bertindak sangat jauh? Untuk apakah semua itut?”
Langkahnya melambat, ia menatap sepanjang jalan dengan pandangan kosong. Ia mulai memahami bahwa orang tadi tidak seperti ustadz pemberani yang ia kagumi, melainkan seorang yang tergelincir ke dalam lubang kesesatan dan kebohongan.
Sejenak ia menghela napas panjang, ia juga paham bahwa untuk menjadi seorang yang berani bukan hanya bermodalkan sebuah nekat, akan tetapi juga harus berlandaskan dengan sebuah ilmu agama.
Kejadian tadi telah melengkapkan kepingan puzzle yang sedang Zudin susun. Pada akhirnya, ia mengambil sebuah keputusan, bahwa ia akan melanjutkan jenjang pendidikannya di ponpes. Ia ingin memperkuat ilmu agamanya agar menjadi ustadz yang pemberani seperti ustadz yang tadi pagi berceramah. Ia juga ingin memahami ilmu agama untuk menuntun dirinya dan orang lain agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang salah, menjaga kebenaran di tengah fitnah zaman, serta menegakkan ajaran Islam dengan ilmu dan akhlak yang benar sehingga tidak berakhir seperti orang tadi.
Sesampainya Zudin di rumah, ia menghadap ke kedua orang tuanya dan berkata. “Ayah, Ibu, Zudin sudah memutuskan… Bahwa Zudin siap untuk masuk pondok pesantren.”
Mendengar keputusan anaknya, ayah dan ibu Zudin saling bertukar pandang. Wajah haru tak bisa lagi disembunyikan dari mereka. Tanpa menunda waktu, kedua orang tua Zudin mengurus pendaftaran masuk pondok.
Dan Alhamdulillah di tahun berikutnya, Zudin bisa masuk ke sebuah ponpes di wilayah Jawa Timur. Di sana, Zudin dengan tekun mempelajari ilmu agama Islam serta mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dari sana, Zudin juga menyadari bahwa sebuah kebenaran harus dibela dengan cara yang jujur, bukan dengan buah kebohongan.
Penulis : Azhar Izzudin & Reghan Athaya Suandi, santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF)
