JATIMTIMES - Dalam sejarah peradaban manusia, ada satu nama wanita yang disebut memiliki kecantikan setara separuh keindahan dunia. Dia adalah Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim Alaihissalam, seorang muslimah saleha yang tak hanya memesona secara rupa, tetapi juga dikenal karena keteguhan iman dan kesetiaannya.
Riwayat-riwayat ulama menggambarkan betapa istimewanya sosok Sarah. Ibnu Asakir meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Yusuf dan ibunya, Sarah diberi separuh keindahan dunia. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa keindahan dibagi menjadi dua bagian: satu untuk Sarah dan Yusuf, dan satu lagi untuk seluruh manusia. Bahkan Ibnu Abbas menyebutkan pembagian dalam sepuluh bagian: tiga untuk Hawa, tiga untuk Sarah, tiga untuk Yusuf, dan hanya satu bagian untuk sisanya.
Baca Juga : Bedah Kurikulum PG-PAUD Unikama: Dari Malang Sentuh Isu Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
Keanggunan itu rupanya berjalan beriringan dengan ujian besar. Sarah tak hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi juga karena keberanian dan kesetiaan yang diuji dalam perjalanan dakwah bersama Nabi Ibrahim. Ketika dakwah di Babilonia ditolak, mereka hijrah ke Syam yang saat itu dilanda paceklik, lalu berpindah lagi ke Mesir. Di sinilah ujian berat menanti.
Seorang pejabat istana Mesir yang melihat Sarah langsung terpukau. Ia segera melapor kepada Fir’aun, raja yang terkenal zalim. “Wanita ini layak menjadi pendamping baginda,” katanya.
Fir’aun pun memanggil Nabi Ibrahim, menanyai siapa wanita tersebut. Demi melindungi istrinya, Nabi Ibrahim menjawab, “Dia adalah saudariku.”
Fir’aun kemudian memerintahkan agar Sarah dibawa ke istana. Ibrahim berpesan kepada Sarah agar tidak membongkar pernyataannya itu, sebab dalam pandangan agama, semua muslim adalah bersaudara.
Meski dihiasi pakaian indah dan didandani oleh pelayan istana, hati Sarah diliputi kegelisahan. Ia tidak ingin berpisah dari suaminya dan takut akan niat buruk sang raja. Sarah pun bersujud, berdoa penuh air mata memohon perlindungan Allah.
Doanya dikabulkan. Setiap kali Fir’aun mencoba menyentuhnya, tangannya tiba-tiba lumpuh. Fir’aun memohon agar Sarah berdoa melepaskannya, berjanji tidak akan mengganggu lagi. Namun janji itu diingkari hingga tiga kali. Pada akhirnya, Fir’aun menyerah, bahkan ketakutan. Ia menuduh Sarah sebagai makhluk halus, lalu memerintahkan agar ia dipulangkan.
Baca Juga : Dimeriahkan 3 Masyarakat Adat, JFC 2025 Perpaduan Fashion dan Budaya Nusantara
Sebagai gantinya, Fir’aun memberikan seorang budak wanita cantik bernama Siti Hajar kepada Sarah. Saat bertemu kembali, Sarah menceritakan kepada Nabi Ibrahim bahwa Allah telah melindunginya dari tipu daya raja kafir itu.
Kisah Sarah tercatat dalam Al-Qur’an dan menjadi teladan bagi seluruh wanita sepanjang zaman. Ia bukan hanya simbol kecantikan, tetapi juga lambang keteguhan iman, kesetiaan pada suami, dan kekuatan doa. Dalam dirinya, kecantikan sejati berpadu dengan kemuliaan akhlak.
