JATIMTIMES - Di balik semangkuk bubur hangat yang menggoda selera, tersimpan kisah adaptasi rasa dan perjuangan hidup. Itulah yang tercermin dari Bubur Ayam Cak Dopink, racikan khas Jakarta yang dimodifikasi oleh Ludiyono agar akrab di lidah masyarakat Jawa Timur.
Dibuka sejak enam bulan lalu di kawasan Jalan Teluk Jandrawasi 107, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, usaha kuliner ini perlahan mencuri perhatian. Bubur yang biasanya menjadi menu sarapan favorit di ibukota, kini dikemas dengan sentuhan lokal agar bisa diterima di tengah budaya makan pagi ala Jawa Timur yang lebih identik dengan nasi pecel atau rawon.

“Awalnya saya jualan roti goreng dan cakwe. Tapi karena harga minyak naik, untungnya makin tipis. Akhirnya saya putuskan coba bikin bubur yang disukai keluarga. Ternyata cocok juga,” kenang Ludiyono Owner Bubur Ayam Cak Dopink saat ditemui belum lama ini.
Langkah ini bukan tanpa pertimbangan. Ia menyadari bahwa selera masyarakat di daerah berbeda. Maka dari itu, kuah bubur Jakarta yang cenderung ringan pun ia olah ulang, lebih kental, lebih berbumbu, dan kaya rempah. “Kuahnya saya bikin lebih pekat, lebih tajam rasa bumbunya. Tapi tetap fleksibel, bisa dinikmati pakai kuah atau tanpa kuah, tergantung selera,” jelasnya.
Bubur Ayam Cak Dopink memang hanya menyediakan satu varian rasa, tetapi racikan bumbu rempah dan gurihnya kuah menjadi keunikan tersendiri. Toppingnya pun khas: mulai dari sate usus, sate telur puyuh, hingga sate rempelo ati yang bisa dipilih sesuai selera pelanggan.

Tak hanya rasa, Ludiyono juga memperhatikan aspek kemasan. Ia menggunakan bowl ramah lingkungan, bukan styrofoam. Logo dan stiker produk juga mulai dirancang untuk memperkuat branding, terutama di platform online yang kini mulai ia jajaki meski masih terbatas pada 2–3 pesanan per hari.
Meski baru berjalan setengah tahun, respon pasar terbilang positif. “Alhamdulillah, rata-rata kalau Sabtu dan Minggu bisa sampai 30 porsi. Hari biasa 20-an porsi,” ungkapnya. Pelanggan utamanya justru berasal dari kalangan dewasa dan orang tua yang masih punya selera terhadap bubur, meski di Jawa Timur bubur bukan menu umum.
“Kalau di Jakarta kan sarapan bubur itu biasa. Tapi di sini masih banyak yang menganggap bubur itu makanan orang sakit atau lansia. Nah, itu tantangannya, bagaimana memperkenalkan bubur sebagai makanan nikmat yang bisa dinikmati siapa saja,” kata Ludiyono.

Menariknya, Ludiyono sebenarnya bukan pendatang baru di dunia wirausaha. Sebelum pandemi, ia menjalankan usaha kerajinan pasir laut dan membina banyak pengrajin, bahkan menjangkau pasar luar Jawa. Namun COVID-19 membuat usahanya terhenti. Dari sanalah ia mulai mengarahkan fokus ke kuliner.
Baca Juga : Targetkan Jadi Lumbung Swasembada Pangan Nasional, HKTI Jatim Lantik 38 Pengurus Daerah
Kini, meski masih tergolong baru, Bubur Ayam Cak Dopink mulai punya tempat di hati pelanggan. Ia pun berharap, cita rasa khas bubur Jakarta versi Jawa Timur ini bisa menambah warna baru dalam pilihan kuliner sarapan di Kota Malang.

Bubur Ayam Cak Dopink menjadi pilihan sarapan bagi masyarakat yang ingin menikmati bubur khas Jakarta dengan cita rasa yang disesuaikan lidah Jawa Timur. Kedai Bubur Ayam Cak Dopink ini buka setiap pagi mulai pukul 05.30 hingga habis.
"Biasanya habis sekitar pukul 10.00 WIB. Makanya pembeli disarankan datang lebih awal agar tidak kehabisan," pungkasnya.
