JATIMTIMES - Pada penghujung abad ke-13, Singhasari berdiri sebagai kekuatan dominan di Jawa Timur, sebuah kerajaan yang oleh Kertanagara, rajanya yang terakhir, dijadikan pusat perluasan wilayah sekaligus laboratorium sosial-religius yang berani. Ia menyalakan obor ambisi politik dan spiritual yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Di bawah panji Tantrayana dan Siwa-Buddha, ia berusaha menyatukan bukan hanya Nusantara secara politis, tapi juga melalui sinkretisme agama. Namun di tengah euforia imperium dan keberhasilan ekspansi, satu suara oposisi perlahan menguat—suara yang datang dari pinggiran kekuasaan, dari Madura dan Lumajang, dari sosok yang tak kalah ambisius: Arya Wiraraja.
Baca Juga : Peringatan Harlah Pancasila di Kota Blitar: Emil Dardak Gaungkan Pendidikan Karakter Berbasis Pancasila
Konflik keduanya bukan semata persoalan tahta. Ia juga menyimpan gesekan keimanan, perbedaan doktrinal, dan kepahitan akibat dikhianati. Benturan ini menjadi sumbu yang meledakkan Singhasari dari dalam, membuka jalan bagi lahirnya kerajaan baru: Majapahit.
Kertanagara: Raja dengan Visi Imperium dan Penyatuan Agama
Kertanagara memegang tampuk kekuasaan Singhasari sekitar tahun 1268 M. Ia tampil sebagai seorang penguasa dengan pandangan ke depan yang luar biasa untuk zamannya. Dalam banyak sumber klasik seperti Pararaton dan Negarakertagama, ia dikenang sebagai pemimpin religius yang menyatukan dua ajaran besar: Hindu-Siwa dan Buddha-Tantrayana.
Gelar Bhatara Siwa-Buddha bukan hanya gelar keagamaan, melainkan manifestasi dari ideologi negara yang menyatukan keberagaman spiritual masyarakatnya. Dalam naskah Negarakertagama, ia digelari Sri Jnanabajreswara, dewa raja yang tercerahkan. Ia membangun ikonografi agama dalam bentuk arca Mahakshobhya—yang kini dikenal sebagai Jaka Dolog—sebuah simbol sinkretisme keagamaan yang dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Belanda pada 1817 dari situs Kandang Gajah.
Namun, visi keagamaan ini tak berhenti di Jawa. Ia meluaskan pengaruhnya hingga ke Sumatra melalui Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 M, dengan tujuan menundukkan Sriwijaya. Melalui pernikahan diplomatik antara adik perempuannya dengan Raja Champa, ia juga menjalin hubungan ke Asia Tenggara daratan. Dalam ekspansi itu, wilayah kekuasaannya menjangkau Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, bahkan hingga Gurun di Kepulauan Maluku.
Lumajang dan Munculnya Arya Wiraraja
Di sisi lain wilayah Singhasari, Lumajang berkembang sebagai pusat otonom penting di bawah kekuasaan Nararya Kirana, putri dari Sri Jayawisynuwarddhana. Ia dinobatkan sebagai penguasa Lamajang pada tahun 1255 M, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Mulamalurung. Putranya, Arya Wiraraja, kelak menjadi salah satu pejabat utama Kerajaan Singhasari dengan menjabat sebagai Demung. Menariknya, Nararya Kirana merupakan saudari dari Kertanegara, sehingga hubungan antara Kertanegara dan Arya Wiraraja adalah paman dan keponakan.
Namun, perbedaan prinsip segera mencuat. Sumber sejarah lokal dan penelitian arkeologis menunjukkan bahwa Lumajang telah mengenal ajaran Islam sejak akhir abad ke-12. Arya Wiraraja diyakini sebagai penganut Islam awal yang berseberangan secara teologis dengan Kertanagara yang mendewakan Tantrayana.
Ketegangan meningkat saat Kertanagara memaksakan ekspansi spiritual ke Sumatra dengan mengirim arca Paduka Amoghapasa ke Dharmasraya sebagai bentuk superioritas agama dan kekuasaan. Arya Wiraraja, yang tidak menyetujui arah politik-religius ini, didegradasi dari jabatan Demung dan diasingkan ke Madura sebagai Adipati.
Retak dan Pengkhianatan: Antara Agama dan Politik
Konflik antara Kertanagara dan Arya Wiraraja tak bisa dilihat sebagai pertikaian pribadi semata. Ia adalah manifestasi dari gesekan dua visi dunia: satu berbasis sinkretisme dan ekspansi imperium, lainnya berbasis ortodoksi Islam dan pemeliharaan identitas daerah.
Penurunan jabatan Arya Wiraraja juga memiliki dimensi spiritual. Kertanagara disebut memperlakukan utusan Tiongkok Muslim, Meng Ki, secara kasar—suatu pertanda sikapnya terhadap Islam. Dalam lingkungan yang semakin eksklusif dan dekaden—dengan ritual mabuk-mabukan dalam pesta agama—Arya Wiraraja merasa tersingkir dan marah.
Pu Sina, patih Madura, turut memperkeruh suasana. Ia merasa tidak dihargai dan memandang Raja Kertanagara terlalu arogan. Bersama Jayakatwang, Adipati Gelang-Gelang, ketiganya menyusun konspirasi besar. Tahun 1292, saat pasukan Singasari banyak berada di luar negeri dalam Ekspedisi Pamalayu, Jayakatwang menyerang ibu kota.
Kertanagara, yang tak siap dan dikelilingi oleh pengikutnya yang setia tapi mabuk kekuasaan, tewas terbunuh di istananya sendiri. Dengan kematian ini, berakhirlah era Singhasari.
Pengasingan dan Rekonsiliasi: Arya Wiraraja dan Raden Wijaya
Setelah kejatuhan Singhasari, menantu Kertanagara, Raden Wijaya, menjadi buronan. Ia melarikan diri ke Terung dan kemudian menuju Madura dengan bantuan Kepala Desa Kudadu. Di sinilah peran Arya Wiraraja memasuki babak baru. Meski pernah berseteru dengan mertuanya, ia menyambut Raden Wijaya dengan tangan terbuka.
Perjanjian dibuat: jika berhasil menggulingkan Jayakatwang, kekuasaan akan dibagi dua. Arya Wiraraja mengirim putranya, Wirondaya, ke Kediri untuk menyampaikan kesediaan Raden Wijaya mengabdi kepada Jayakatwang. Jayakatwang, merasa di atas angin, memberikan hutan Tarik sebagai hadiah. Dari hutan inilah, cikal bakal Majapahit bermula.
Baca Juga : Marak Judi Sabung Ayam di Surabaya, DPRD Jatim Dukung Aparat Tindak Tegas
Penamaan "Majapahit" lahir dari pengalaman menemukan buah maja pahit di tengah rimba. Dengan dukungan Arya Wiraraja, pemukiman baru itu segera berkembang menjadi pusat kekuatan baru.
Majapahit tidak lahir dalam sekejap. Raden Wijaya menyusun kekuatan di balik bayang-bayang pengabdian. Saat pasukan Mongol dari Dinasti Yuan mendarat di Jawa untuk menghukum Kertanagara karena penghinaan terhadap utusan Kubilai Khan, Raden Wijaya memanfaatkan momentum ini untuk menjatuhkan Jayakatwang.
Setelah Jayakatwang tewas, Raden Wijaya justru berbalik melawan Mongol dan mengusir mereka dari Jawa. Maka berdirilah Majapahit pada tahun 1293. Meski janji pembagian wilayah dengan Arya Wiraraja tidak sepenuhnya dipenuhi, peran strategis sang Adipati Madura tak bisa dipungkiri. Ia adalah kingmaker dari balik layar.
Akhir Sebuah Zaman, Awal Sebuah Dinasti
Kisah ini adalah narasi tentang dua tokoh besar yang sama-sama memiliki ambisi besar, namun berangkat dari latar kepercayaan dan tujuan yang berbeda. Kertanagara adalah arsitek kerajaan besar yang gugur oleh visinya sendiri. Arya Wiraraja adalah pemimpin lokal yang menjadi kunci lahirnya dinasti besar berikutnya.
Singasari runtuh bukan karena kekalahan di medan perang luar, tetapi karena perpecahan dalam. Agama, ambisi, dan pengkhianatan berpadu dalam drama sejarah yang membentuk fondasi lahirnya Majapahit. Dalam setiap prasasti dan kidung yang tercatat, benturan dua tokoh ini adalah cermin kompleksitas kekuasaan di Nusantara.
Dalam diri Kertanagara, kita temukan gagasan universalitas dan penyatuan. Dalam diri Arya Wiraraja, kita dapati perlawanan berbasis prinsip dan identitas. Dan di antara keduanya, sejarah Jawa berubah selamanya.
Pada 1292, saat Kertanagara sedang menjalani ritual spiritual, Jayakatwang melancarkan serangan mendadak ke ibu kota Tumapel. Kertanagara terbunuh tanpa sempat mengangkat senjata. Singhasari runtuh.
Namun sejarah tidak berhenti. Raden Wijaya, menantu Kertanagara, melarikan diri ke Madura dan justru meminta perlindungan dari Arya Wiraraja—tokoh yang sebelumnya disingkirkan oleh ayah mertuanya. Ironi sejarah terjadi: dari tangan mantan musuh itulah lahir aliansi yang akan membentuk kerajaan baru—Majapahit.
Dengan strategi diplomatik cerdas, Arya Wiraraja mengirim putranya, Wirondaya, ke Kediri dan berhasil meyakinkan Jayakatwang untuk memberi hutan Tarik kepada Raden Wijaya. Di situlah Majapahit lahir, bermula dari penderitaan dan pengkhianatan.
Kertanagara mungkin wafat dalam kekalahan, tetapi gagasannya tidak ikut terkubur. Penyatuan kepulauan, integrasi agama besar di Jawa, serta peran aktif kerajaan Jawa dalam konstelasi geopolitik Asia, semuanya menjadi dasar bagi kejayaan Majapahit di bawah Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Historiografi Jawa merekam Kertanagara dalam dua wajah: sebagai raja agung dan sebagai pemimpin kontroversial. Ia dikritik karena praktik tantrik yang ekstrem, tetapi juga dipuja sebagai pelopor ide penyatuan Nusantara.
Penolakan Arya Wiraraja, meski dicatat sebagai pengkhianatan oleh narasi resmi, justru menjadi pemantik bangkitnya kekuatan baru. Majapahit tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari benturan pandangan dan kompromi kekuasaan.
Kisah Kertanagara dan Arya Wiraraja menyingkap realitas politik Nusantara: bahwa perbedaan keyakinan dan pandangan bisa menjadi pangkal kehancuran, sekaligus benih kebangkitan. Dari Singhasari ke Majapahit, dari darah ke dharma, sejarah Nusantara terus bergerak, dipandu bukan oleh satu ideologi tunggal, tetapi oleh dinamika, perlawanan, dan daya hidup yang terus menyala.
