JATIMTIMES - Berbicara tentang gangguan kesehatan pada ibu hamil, salah satunya yang sering kambuh adalah asma. Saat hamil, ibu yang memiliki asma kemungkinan akan sering mengalami sesak napas. Asma yang kambuh dapat mempengaruhi kesehatan ibu serta janin. Jika mengalami asma, disarankan untuk bumil agar segera mendapatkan pengobatan untuk menghindari resiko lainnya. Prevalensi asma pada ibu hamil berkisar antara 3–12% di seluruh dunia.
PAFI dengan alamat website https://pafitunggal.org adalah salah satu organisasi kesehatan terbesar di Indonesia, yang sangat peduli dengan kesehatan masyarakat. Persatuan Ahli Farmasi Indonesia berusaha dalam meningkatkan profesionalisme anggotanya. Hal ini bertujuan agar dapat selalu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas terutama distribusi obat-obatan.
Baca Juga : 5 Khasiat Daun Katuk untuk Produksi ASI yang Jarang Kamu Ketahui
Organisasi kesehatan PAFI aktif dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyebab asma sering kambuh pada ibu hamil, serta rekomendasi obat yang bisa dikonsumsi bagi penderitanya.
Apa saja faktor penyebab terjadinya asma sering kambuh pada ibu hamil?
Pada umumnya, asma merupakan penyakit kronis yang ditandai oleh peradangan saluran napas yang menyebabkan penyempitan dan hipereaktivitas bronkus. Kondisi ini mengakibatkan gejala berulang seperti mengi (suara napas mengi), sesak napas, batuk, dan dada terasa berat, terutama pada malam atau dini hari. Saluran pernapasan pada penderita asma lebih sensitif dan mudah bereaksi terhadap berbagai pemicu seperti debu, bulu binatang, udara dingin, infeksi virus, dan zat kimia. Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya asma sering kambuh pada ibu hamil yang perlu diperhatikan meliputi:
1. Adanya perubahan hormon selama kehamilan
Peningkatan hormon progesteron dan estrogen (estradiol) selama kehamilan mempengaruhi sistem pernapasan dan imun tubuh. Progesteron dapat meningkatkan sensitivitas pusat pernapasan di otak sehingga menyebabkan hiperventilasi ringan, yang pada sebagian ibu dapat memperburuk gejala asma.Hormon-hormon ini juga berperan dalam mengubah respons inflamasi di saluran napas, menyebabkan peningkatan produksi lendir dan pembengkakan jaringan saluran napas. Hal ini membuat saluran napas menjadi lebih sempit dan mudah mengalami penyempitan saat terpapar pemicu.
2. Tekanan mekanis dari janin dan organ dalam
Seiring bertambahnya usia kehamilan, rahim yang membesar menekan diafragma ke atas, mengurangi ruang paru-paru untuk mengembang secara optimal. Posisi paru-paru yang berubah ini menyebabkan penurunan kapasitas vital paru (vital capacity) dan volume cadangan ekspirasi, sehingga kapasitas pernapasan menurun. Tekanan ini juga meningkatkan kerja pernapasan dan dapat memicu sesak napas serta memperburuk gejala asma, terutama pada trimester kedua dan ketiga kehamilan.
3. Perubahan sistem imun dan respons inflamasi
Kehamilan menyebabkan adaptasi sistem imun agar tubuh ibu tidak menolak janin yang secara genetik sebagian asing. Pergeseran ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan dan memperburuk inflamasi kronis di saluran napas pada penderita asma. Beberapa penelitian dari PAFI menunjukkan bahwa jenis kelamin janin juga dapat mempengaruhi risiko kambuh asma; misalnya, ibu dengan janin perempuan cenderung mengalami eksaserbasi asma lebih sering dibanding janin laki-laki.
4. Stres dan faktor psikologis
Kehamilan seringkali disertai dengan perubahan emosional dan psikologis, seperti kecemasan, stres, dan depresi. Stres kronis dapat meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang mempengaruhi sistem imun dan meningkatkan respons inflamasi. Stres juga dapat memperburuk gejala asma melalui mekanisme neuroimun dan meningkatkan risiko kambuh.
5. Faktor genetik dan riwayat asma sebelumnya
Riwayat asma yang sudah ada sebelum kehamilan merupakan faktor risiko utama kambuhnya asma selama kehamilan. Faktor genetik juga berperan dalam menentukan tingkat keparahan dan respons terhadap pengobatan.
Apa saja obat yang tepat untuk mengobati asma yang sering kambuh pada ibu hamil?
PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai penyebab utama dari asma yang sering kambuh pada bumil. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi gejala asma pada bumil serta membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:
Baca Juga : 5 Cara Aman Konsumsi Jahe untuk Morning Sickness Berdasarkan Penelitian Medis
1. Salbutamol dan albuterol
Obat ini digunakan sebagai reliever untuk meredakan gejala akut asma. FDA mengkategorikan salbutamol sebagai kategori C, artinya boleh digunakan jika manfaatnya melebihi risiko pada janin. Penggunaan inhaler bronkodilator ini dianggap aman selama kehamilan dan sangat dianjurkan untuk menghindari serangan asma berat.
2. Kortikosteroid inhalasi
Salah satu kortikosteroid inhalasi seperti budesonide, merupakan pilihan utama untuk pengendalian asma jangka panjang pada ibu hamil. Kortikosteroid ini membantu mengurangi inflamasi saluran napas dan mencegah kambuhnya asma. Penggunaan budesonide inhalasi selama kehamilan telah terbukti aman dan lebih disarankan dibandingkan kortikosteroid oral karena efek sistemiknya lebih rendah.
3. Obat antileukotrien
Obat ini seperti montelukast juga dapat digunakan untuk mengontrol gejala asma, meskipun penggunaannya kurang umum dibanding inhaler bronkodilator dan kortikosteroid inhalasi. Penggunaan montelukast harus dengan persetujuan apoteker.
4. Obat oral
Obat oral seperti prednisone hanya digunakan jika asma sangat berat dan tidak terkendali dengan inhaler, karena obat oral memiliki risiko lebih tinggi terhadap janin. Penggunaan obat oral harus sangat hati-hati dan di bawah pengawasan medis ketat.
Selain mengonsumsi obat-obatan, beberapa cara lain untuk mengurangi gejala asma yang sering kambuh pada ibu hamil seperti istirahat yang cukup, atur pola makan serta minum air putih yang banyak agar lebih sehat. Penting untuk selalu berkonsultasi dengan apoteker agar mendapatkan rekomendasi obat serta dosis yang sesuai.
Dapatkan informasi kesehatan serta layanan farmasi gratis dengan mengunjungi pafitunggal.org melalui smartphone Anda.
