JATIMTIMES - Panen perdana hasil bumi di lahan milik warga RW 12 Joyosuko, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, menjadi momentum yang tidak ingin dilewatkan begitu saja. Hasil panen tersebut justru menjadi pemantik warga untuk menggelar Festival Pasca Panen sebagai bentuk rasa syukur sekaligus perayaan bersama.
Festival yang digelar mulai Kamis 17 September 2026 hingga Sabtu 19 September 2026 tersebut merupakan kali pertama diselenggarakan warga RW 12 Joyosuko. Kegiatan ini juga dirangkai dengan peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca Juga : Terjadi 146 Gempa Bumi di Pertengahan September, Sebagian Dirasakan di Jatim dan Sekitarnya
Ketua pelaksana Festival Pasca Panen RW 12 Joyosuko, Erfan Farid, mengatakan gagasan kegiatan berawal dari hasil panen jeruk yang untuk kali pertama dinikmati warga. Bagi masyarakat setempat, panen perdana tersebut menjadi momen penting yang layak disyukuri bersama.
"Wilayah RT ada lahan jeruk milik warga. Hasil ini pertama panen, sehingga kami adakan kegiatan ini untuk mewujudkan rasa syukur," ujar Erfan.
Menurut dia, rasa syukur tersebut kemudian tidak hanya diwujudkan melalui prosesi sederhana. Warga memilih mengemasnya dalam sebuah festival agar momentum panen dapat dirasakan lebih luas, sekaligus menjadi ruang pertemuan dan kebersamaan masyarakat di lingkungan RW 12 Joyosuko.
"Kami kemas dalam bentuk festival dan hasil ini dapat dirasakan oleh berbagai elemen masyarakat hingga UMKM. Kami juga tonjolkan seni dan budaya dalam acara ini," katanya.
Panen perdana itu pun menjadi lebih dari sekadar hasil pertanian warga. Festival diharapkan dapat menjadi wadah untuk memperkuat kembali semangat gotong royong dan interaksi antarwarga yang mulai terkikis oleh kesibukan kehidupan sehari-hari.
Selain menjadi bentuk rasa syukur, festival tersebut juga dirancang sebagai hiburan bagi masyarakat. Pada pembukaan, warga menghadirkan prosesi tumpengan, fire dance, tari remo hingga iringan musik khas reog.
Baca Juga : Eri Cahyadi Muncul di Bursa Pilgub Jatim, PDIP Sebut Punya Banyak Stok Kader
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut nantinya pada hari kedua dengan pertunjukan musik jazz yang dibawakan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM). Warga juga menghadirkan dangdut jadul yang secara khusus dipersembahkan oleh masyarakat RW 12 Joyosuko sendiri.
Nuansa seni dan budaya sengaja mendapat porsi dalam festival tersebut. Warga ingin kesenian lokal dan hiburan tempo dulu tetap memiliki ruang, sekaligus dapat dikenalkan kepada anak-anak dan generasi muda.
Pada hari terakhir atau hari ketiga, rangkaian Festival Pasca Panen akan ditutup dengan pertunjukan Bantengan yang dimulai pukul 18.00 WIB. Kesenian tersebut menjadi salah satu bagian yang diharapkan mampu menjaga keberadaan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Di sisi lain, festival juga membuka ruang bagi pelaku UMKM warga untuk memperkenalkan produk mereka. Kehadiran UMKM diharapkan membuat kegiatan tidak hanya memberikan hiburan, tetapi turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Erfan berharap Festival Pasca Panen yang lahir dari momentum panen perdana tersebut dapat terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Ia melihat kegiatan ini bukan sekadar perayaan, melainkan wadah untuk menjaga kebersamaan, gotong royong dan tradisi warga.
"Harapan kami kegiatan ini akan berjalan setiap tahun, karena bentuk wadah kebersamaan dan semangat gotong royong warga. Karena budaya saat ingin juga sudah cukup pudar," pungkasnya.