JATIMTIMES - Aktivitas gempa bumi kembali meningkat di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 118 aktivitas gempa bumi sejak 11 Agustus hingga 17 September 2026 pukul 08.00 WIB.
Gempa-gempa tersebut memiliki magnitudo relatif kecil, yakni berkisar M1,0 hingga M3,4. Dari jumlah itu, sebanyak 13 gempa dirasakan warga di Pangalengan, Talegong, Cisewu dan sekitarnya dengan intensitas II-III MMI.
Baca Juga : Wujudkan Kota Tangguh, Pemkot Surabaya Latih Warga Hadapi Potensi Sesar Aktif
Fenomena tersebut kembali menjadi sorotan setelah aktivitas gempa meningkat di kawasan Pangalengan sejak Rabu (16/9/2026). BMKG mencatat Kabupaten Bandung diguncang 42 kali gempa sejak Rabu hingga Kamis pagi (16-17/9/2026). Gempa paling anyar terjadi pagi ini dengan magnitudo (M) 2,6.
Lantas, apa sebenarnya yang terjadi di kawasan selatan Kabupaten Bandung?
BMKG dalam rilis resminya pada Kamis (17/9/2026) menjelaskan gempa yang terjadi di kawasan tersebut merupakan gempa dangkal. Hasil analisis menunjukkan episenter gempa membentuk pola kelurusan barat daya-timur laut.
Lokasi gempa berada sekitar 5-8 kilometer di sebelah barat Sesar Garsela Segmen Kendang dan di sebelah utara Sesar Garsela Segmen Kencana. Secara tektonik, rangkaian gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar lokal.
Keberadaan jaringan seismograf di Jawa Barat membantu BMKG mendeteksi gempa-gempa bermagnitudo kecil dengan cukup baik, termasuk aktivitas seismik yang bersumber dari pergerakan patahan aktif di daratan Jawa Barat.
Salah satu gempa yang tercatat pada Kamis (17/9) terjadi pukul 04.59 WIB. Gempa berkekuatan M2,6 itu berpusat di darat pada koordinat 7,22 Lintang Selatan dan 107,60 Bujur Timur dengan kedalaman 3 kilometer.
Episenter gempa berada sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dan dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan serta Kertasari.
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 06.21 WIB, gempa M2,7 kembali terjadi. Pusatnya berada di kedalaman 4 kilometer, sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung. Guncangan dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan, Talegong dan Cisewu.
Sementara itu, pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan rentetan gempa di Pangalengan dapat dikategorikan sebagai earthquake swarm atau gempa swarm.
Fenomena ini merupakan rangkaian gempa yang terjadi berulang kali dalam suatu wilayah dan periode tertentu tanpa satu gempa utama atau mainshock yang dominan.
"Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap," kata Daryono, dikutip dari Instagram pribadinya, Kamis (17/9/2026).
Kawasan Pangalengan dan sekitarnya sebelumnya mencatat sedikitnya 42 kali gempa sejak Rabu (16/9/2026). Sejumlah gempa dalam rangkaian tersebut dirasakan warga.
Menurut Daryono, keberadaan gempa swarm tidak bisa langsung ditafsirkan sebagai tanda pasti akan terjadi gempa besar. Fenomena tersebut harus dianalisis dengan melihat sejumlah parameter, seperti persebaran episenter, kedalaman gempa, mekanisme sumber, perpindahan aktivitas, serta perubahan aktivitas secara temporal dan spasial.
Dengan kata lain, banyaknya gempa dalam satu rangkaian saja belum cukup untuk menyimpulkan bagaimana perkembangan aktivitas seismik berikutnya.
Salah satu hal yang kerap membuat masyarakat khawatir adalah ketika gempa dengan magnitudo kecil tetap terasa cukup jelas.
Daryono menjelaskan kuat atau tidaknya guncangan yang dirasakan masyarakat tidak hanya bergantung pada magnitudo gempa dan jarak dari sumbernya. Kondisi geologi setempat juga memiliki pengaruh.
Baca Juga : Cara Cek Kualitas Udara Hari Ini dari HP, Bisa Pakai Google Maps
Lapisan sedimen atau material vulkanik yang relatif lunak, misalnya, dapat memperkuat gelombang seismik pada frekuensi tertentu melalui proses amplifikasi. Karena itu, dua wilayah yang memiliki jarak hampir sama dari sumber gempa belum tentu merasakan guncangan dengan kekuatan yang sama.
Faktor lain adalah kedalaman sumber gempa. Gempa dangkal dapat menghasilkan guncangan yang terasa di permukaan meskipun magnitudonya tidak besar karena energi dilepaskan relatif dekat dengan permukaan.
Hal itu terlihat dalam aktivitas terbaru Pangalengan. Gempa M2,6 pada Kamis pagi memiliki kedalaman hanya 3 kilometer dan dirasakan dengan intensitas III MMI di Pangalengan dan Kertasari.
Lebih lanjut, Daryono menjelaskan Pangalengan berada di bagian selatan Jawa Barat, kawasan yang memiliki kondisi deformasi kerak bumi cukup kompleks.
Wilayah tersebut berdekatan dengan sistem Sesar Garsela atau Garut Selatan, salah satu struktur sesar aktif yang telah diketahui memiliki aktivitas seismik.
Secara regional, keberadaan sesar-sesar aktif di daratan Jawa Barat tidak terlepas dari dinamika tektonik akibat konvergensi Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia atau Sunda di selatan Pulau Jawa.
Interaksi lempeng tersebut menyebabkan akumulasi dan redistribusi tegangan di dalam kerak bumi. Sebagian tegangan kemudian dapat dilepaskan melalui pergerakan pada bidang sesar aktif.
Karena itu, rangkaian gempa dangkal di Pangalengan perlu dipahami dalam konteks sistem tektonik Jawa Barat yang kompleks, bukan sebagai kejadian yang berdiri sendiri.
Daryono memaparkan aktivitas swarm perlu dipantau, tetapi tidak semestinya direspons dengan kepanikan.
Pada lingkungan tektonik tertentu, gempa swarm dapat berkaitan dengan proses pergeseran pada sesar. Di lingkungan vulkanik atau hidrotermal, swarm juga dapat memiliki mekanisme berbeda.
Karena itu, perkembangan aktivitas tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jumlah gempa. Data mengenai kedalaman, lokasi episenter, mekanisme sumber serta pola perubahan aktivitas perlu terus diamati.
"Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap," ujar Daryono.
