JATIMTIMES - Bukan pesta pernikahan, bukan pula festival. Di Toraja, Sulawesi Selatan, sebuah upacara kematian bisa menghabiskan biaya hingga miliaran rupiah.
Tradisi tersebut dikenal dengan nama Rambu Solo’, upacara pemakaman adat masyarakat Toraja yang digelar sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi orang yang telah meninggal.
Baca Juga : Sejumlah Pejabat Polresta Banyuwangi Berganti Posisi
Besarnya biaya menjadi salah satu hal yang membuat Rambu Solo’ menarik perhatian. Dalam pelaksanaannya, keluarga tidak hanya menyiapkan berbagai rangkaian ritual, tetapi juga harus menyediakan hewan kurban, terutama babi dan kerbau.
Momentum tersebut dibagikan langsung konten kreator Nur Azizah dan Khamila Djibran yang menyaksikan langsung prosesi Rambu Solo’ di Lempo Batu Tumonga, Toraja. Mereka menyebut biaya pelaksanaan upacara ini bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.
“Untuk proses pemakaman adat, biasanya warga bisa menghabiskan ratusan juta hingga 1,5 miliar,” ucap Nur Azizah.
Angka tersebut tidak lepas dari kebutuhan selama upacara, termasuk penyembelihan hewan kurban. Terdapat penyembelihan babi hingga kerbau.b“Semakin tinggi stratanya, biasanya akan semakin mahal,” imbuh Nur Azizah.
Artinya, besarnya biaya Rambu Solo’ tidak hanya ditentukan oleh lamanya acara, tetapi juga tingkatan atau status sosial keluarga yang melaksanakan upacara. Dalam sejumlah pelaksanaan, rangkaian Rambu Solo’ sendiri dapat berlangsung selama beberapa hari.
“Untuk prosesi adatnya biasanya menghabiskan waktu tiga sampai tujuh hari,” ungkapnya.
Namun, mahalnya biaya tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa pemakaman tidak selalu dilakukan segera setelah seseorang meninggal.
Semetara itu, konten kreator Khamila Djibran menjelaskan bahwa keluarga membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pelaksanaan upacara. “Upacara ini membutuhkan banyak persiapan dan biaya, sehingga waktunya bergantung pada keputusan dan kesiapan keluarga,” terangnya.
Bahkan, ada keluarga yang baru melaksanakan Rambu Solo’ beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun setelah seseorang meninggal.
“Ada yang melaksanakannya beberapa bulan kemudian. Bahkan ada yang baru mengadakannya bertahun-tahun setelah seseorang meninggal,” tambahnya.
Baca Juga : 4 Drakor Terbaru yang Cocok Ditonton Akhir Pekan, Ada Made in Korea 2 hingga The Scandal
Selama masa menunggu tersebut, jenazah tetap berada di rumah keluarga. Dalam budaya Toraja, jenazah dapat diperlakukan layaknya orang yang sedang sakit dan tetap menjadi bagian dari keseharian keluarga.
“Mereka masih dianggap sebagai orang yang sedang sakit sehingga tetap diberi makan dan minum. Seperti masih menjadi bagian dari keseharian keluarga,” ucap Khamila.
Setelah keluarga siap, barulah rangkaian Rambu Solo’ dilaksanakan. Salah satu prosesi yang terlihat adalah Ma’Pasonglo’, saat jenazah diarak dari Tongkonan menuju lakkian, tempat peti jenazah ditempatkan selama rangkaian upacara berlangsung.
Sebelumnya, prosesi dapat diawali dengan Ma’Badong, berupa tarian dan nyanyian duka yang dilakukan bersama-sama.
Bagi masyarakat Toraja, Rambu Solo’ bukan sekadar ritual pemakaman. Di balik biaya yang sangat besar, terdapat nilai penghormatan kepada orang yang meninggal, hubungan keluarga, status sosial, serta gotong royong masyarakat.
Bagi Khamila, tradisi yang awalnya terlihat asing justru memiliki makna mendalam setelah dipahami dari sudut pandang masyarakat Toraja.
“Awalnya mungkin terasa asing buat kita, tapi setelah memahami cara pandang masyarakat Toraja, aku jadi melihatnya bukan sebagai sesuatu yang menyeramkan, melainkan sebagai salah satu bentuk kasih sayang dan penghormatan terakhir kepada orang yang mereka cintai,” katanya.
Rambu Solo’ pun menunjukkan bahwa bagi masyarakat Toraja, kematian bukan sekadar akhir kehidupan, tetapi juga sebuah proses penghormatan yang melibatkan keluarga, masyarakat, tradisi, dan biaya yang tidak sedikit.
