JATIMTIMES - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang cukup intens pada awal September 2026. Erupsi berlangsung menerus dan disertai suara gemuruh, lontaran material pijar serta semburan merah menyala yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Badan Geologi melaporkan fenomena tersebut pada 5 September 2026. Erupsi menerus itu menghasilkan aliran lava dan suara gemuruh yang masih terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau Pasauran.
Baca Juga : Ramai Sebaran SO2 Gunung Anak Krakatau Sampai di Malang, Ini Penjelasan BMKG
Anak Krakatau bukan gunung api yang baru aktif dalam beberapa tahun terakhir. Gunung yang berada di kawasan Selat Sunda tersebut merupakan hasil pertumbuhan gunung api baru di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883.
Riwayat aktivitasnya pun cukup panjang. Sejak muncul ke permukaan laut, Anak Krakatau berulang kali mengalami fase erupsi, mulai dari letusan kecil hingga aktivitas yang berlangsung hampir setiap hari.
Salah satu peristiwa terbesarnya terjadi pada 2018 ketika longsoran tubuh gunung memicu tsunami di pesisir Banten dan Lampung.
Berikut perjalanan panjang Gunung Anak Krakatau dari sejarah Krakatau 1883 hingga erupsi terbaru pada 2026, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber:
Krakatau 1883, Awal dari Lahirnya Anak Krakatau
Sejarah Anak Krakatau tidak bisa dipisahkan dari letusan besar Krakatau pada 1883. Kala itu, kawasan Krakatau terdiri atas beberapa kerucut gunung api, termasuk Rakata, Danan dan Perbuwatan. Aktivitas vulkanik meningkat pada 1883 dan mencapai puncaknya pada 26-27 Agustus.
Letusan tersebut menjadi salah satu erupsi gunung api terbesar dalam sejarah modern. Material vulkanik terlontar dalam jumlah sangat besar dan sebagian tubuh gunung runtuh sehingga membentuk kaldera di kawasan Selat Sunda.
Tsunami yang menyertai letusan menghantam pesisir Jawa dan Sumatra. BNPB mencatat tsunami pada 1883 mencapai ketinggian sekitar 40 meter di sejumlah lokasi, sementara jumlah korban jiwa tercatat lebih dari 36 ribu orang.
Letusan besar tersebut belum melibatkan Anak Krakatau karena gunung tersebut memang belum terbentuk. Namun, kaldera yang tercipta dari kehancuran Krakatau kemudian menjadi tempat tumbuhnya gunung api baru.
Beberapa dekade setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan kaldera. Publikasi Badan Geologi mencatat aktivitas pembentukan Anak Krakatau dimulai melalui erupsi bawah laut pada akhir 1927.
Material vulkanik kemudian terus menumpuk hingga membentuk tubuh gunung yang akhirnya muncul di atas permukaan laut pada periode 1928-1929.
Proses tersebut membuat Anak Krakatau menjadi gunung api yang relatif muda jika dibandingkan dengan gunung-gunung api lain di Indonesia.
Pertumbuhan tubuh gunung terus berlangsung akibat penumpukan material hasil erupsi. Karena itu, bentuk dan ketinggian Anak Krakatau terus berubah dari waktu ke waktu.
Puluhan Erupsi Terjadi pada 1931-1960
Setelah muncul sebagai pulau gunung api, aktivitas Anak Krakatau berlangsung cukup tinggi.
Berdasarkan publikasi Badan Geologi, sekitar 47 kejadian erupsi tercatat sepanjang 1931 hingga 1960. Pada masa tersebut, bentuk kawah juga mengalami perubahan akibat aktivitas vulkanik yang terus berlangsung.
Pada salah satu fase pertumbuhannya, kawah Anak Krakatau berbentuk menyerupai bulan sabit dan terbuka ke arah barat hingga barat daya. Kondisi tersebut memungkinkan air laut masuk ke dalam kawah dan membentuk danau kawah.
Danau itu kemudian menghilang setelah tertutup endapan material hasil letusan.
Erupsi Hampir Setiap Hari pada 1992-2001
Aktivitas Anak Krakatau kembali memasuki fase panjang pada awal 1990-an.
Peningkatan kegempaan terjadi menjelang erupsi pada November 1992. Lebih dari 400 gempa vulkanik tercatat dalam sekitar 10 jam sebelum aktivitas erupsi meningkat.
Setelah itu, Anak Krakatau memasuki periode aktivitas yang sangat sering. Penelitian yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Geoscience mencatat erupsi berlangsung hampir setiap hari sejak November 1992 hingga Juni 2001. Pada periode tertentu, jarak antarletusan bahkan hanya sekitar 15 menit.
Periode panjang tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Anak Krakatau merupakan gunung api yang sangat aktif.
Aktivitas Kembali Meningkat pada 2007-2009
Memasuki 2007, aktivitas Anak Krakatau kembali mengalami peningkatan. Kegempaan bertambah dan erupsi disertai lontaran material pijar serta abu vulkanik.
Aktivitas tersebut membuat kawasan sekitar gunung harus dibatasi. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati pusat aktivitas dalam radius tertentu karena adanya ancaman lontaran material vulkanik.
Erupsi masih berlangsung pada 2008 dan 2009. Pada periode tersebut, suara letusan dan aktivitas lava kembali menjadi bagian dari catatan pemantauan Anak Krakatau.
Ribuan Gempa dan Abu Vulkanik pada 2011-2012
Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas pada akhir 2011.
Baca Juga : Masalah Dasar Perkotaan Dibahas di P-APBD 2026, Dewan Minta Anggaran Tak Salah Arah
Kegempaan vulkanik meningkat drastis dan status aktivitas sempat dinaikkan menjadi Level III atau Siaga. Catatan kegempaan menunjukkan aktivitas seismik yang sangat tinggi selama periode tersebut.
Pada 2012, erupsi kembali menghasilkan lontaran lava dan abu vulkanik. Material abu yang terbawa angin bahkan mencapai wilayah Lampung.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa meskipun tidak selalu menghasilkan letusan besar, aktivitas Anak Krakatau terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Tsunami 2018, Peristiwa Paling Mematikan
Catatan sejarah Anak Krakatau memasuki babak paling kelam pada 22 Desember 2018.
Setelah mengalami erupsi selama beberapa bulan, sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh dan longsor ke laut. Material gunung yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami yang menerjang kawasan pesisir Selat Sunda.
BNPB menjelaskan tsunami tersebut berkaitan dengan longsoran tubuh Anak Krakatau. Peristiwa itu berbeda dengan tsunami yang dipicu gempa tektonik sehingga masyarakat tidak mendapatkan peringatan dari gempa besar sebelumnya.
Data BNPB mencatat 437 orang meninggal dunia. Dalam pembaruan data per 5 Januari 2019, tercatat 9.061 orang luka-luka, 10 orang hilang dan 16.198 orang mengungsi. Bencana tersebut berdampak luas terhadap wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa 2018 kemudian menjadi salah satu contoh penting mengenai potensi tsunami yang dapat dipicu aktivitas gunung api dan longsoran material ke laut.
Aktivitas Anak Krakatau tidak berhenti setelah tsunami 2018.
Erupsi masih tercatat pada tahun-tahun berikutnya. Badan Geologi juga mencatat erupsi pada 25 September 2019, yang terekam pada seismogram meskipun tinggi kolom abu tidak teramati.
Pada Februari 2022, aktivitas kembali meningkat. Badan Geologi mencatat sembilan kali letusan pada 4 Februari dengan kolom abu sekitar 800-1.000 meter di atas puncak. Saat itu masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
Aktivitas vulkanik juga berlanjut hingga 2023 sebelum kembali memasuki periode yang relatif lebih tenang.
Kembali Aktif pada Juli 2026
Aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat pada Juli 2026.
Badan Geologi mencatat erupsi pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak. Aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian erupsi Anak Krakatau pada 2026.
Status aktivitas kemudian berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan dan nelayan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi sesuai rekomendasi Badan Geologi.
Erupsi Menerus September 2026
Aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat pada awal September 2026.
Badan Geologi melaporkan erupsi menerus disertai suara gemuruh dan semburan merah menyala. Fenomena tersebut menyerupai lava fountain, yakni material pijar yang menyembur dari kawah dan dapat diikuti aliran lava.
Aktivitas ini juga berdampak pada wilayah di sekitar Selat Sunda. Suara dentuman dan getaran dilaporkan terdengar atau terasa di sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat dan Lampung.
Pada fase terbaru tersebut, Badan Geologi menyatakan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi saat itu, tubuh gunung belum berpotensi runtuh dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski begitu, perubahan morfologi dan aktivitas gunung tetap dipantau secara intensif.
Hingga laporan Badan Geologi 5 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dan tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi.
Demikian perjalanan dan dampak meletusnya Gunung Anak Krakatau dari 1883 hingga September 2026 ini. Bagi wilayah yang terdampak abu vulkanik, diimbau untuk mengenakan masker saat berkegiatan di luar ruangan demi kesehatan.
