JATIMTIMES - Masa depan sepak bola Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang bermain di level tim nasional hari ini. Persoalan yang jauh lebih panjang justru berada di lapisan paling bawah, ketika anak-anak mulai mengenal bola, belajar mengambil keputusan di lapangan hingga mendapatkan pembinaan yang tepat sesuai usia.
Di tengah kebutuhan tersebut, Aji Santoso International Football Academy (Asifa) Malang membuka kelas baru untuk kategori usia 9-10 tahun. Langkah ini menarik jika dilihat bukan sekadar sebagai penambahan kelas sekolah sepak bola, melainkan bagian dari persoalan besar regenerasi pemain Indonesia.
Baca Juga : Dinkes Kabupaten Malang Percepat CKG, Puskesmas Diminta Perluas Jangkauan Pemeriksaan
Sebab, Indonesia memiliki basis anak dan pencinta sepak bola yang sangat besar, tetapi tantangannya adalah bagaimana minat tersebut berubah menjadi proses pembinaan yang terukur dan berkelanjutan.
FIFA mencatat perkembangan sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mulai mendapat dukungan lebih besar melalui program pengembangan akar rumput. Program FIFA Football for Schools telah diterapkan di seluruh 38 provinsi Indonesia, sementara FIFA Talent Development Scheme yang dijalankan bersama PSSI telah mendorong penguatan jalur identifikasi dan pengembangan pemain muda.
PSSI bahkan kini memiliki platform All-Scout yang membuka akses identifikasi talenta pemain Indonesia usia 13-18 tahun. Sistem tersebut menilai pemain melalui empat aspek, yakni psikologis atau sosial, taktik, teknik dan fisik.
Artinya, pembinaan usia dini semakin sulit dipandang sebagai aktivitas olahraga semata. Ada kebutuhan untuk membangun jalur yang menghubungkan pemain sejak grassroot hingga level elite.
FIFA juga mencatat PSSI telah mengidentifikasi 34 Regional Technical Director melalui program Talent Development Scheme sejak 2022. Mereka diarahkan untuk menangani pengembangan grassroot, pemain muda, identifikasi talenta hingga pengembangan pelatih.
Di titik inilah pembinaan pemain usia 9-10 tahun menjadi penting. Anak-anak pada fase tersebut belum semestinya hanya dikejar untuk menjadi juara turnamen. Mereka membutuhkan lingkungan yang membuat sepak bola menyenangkan, sekaligus mengenalkan teknik dasar, pemahaman permainan dan karakter secara bertahap.
Direktur Operasional Asifa, Nuzul Kifli, mengatakan pembukaan kelas baru tersebut ditujukan untuk memperluas akses pembinaan. Khususnya bagi anak-anak di Malang dan sekitarnya.
"Kelas baru kami buat untuk membuka ruang selebar mungkin untuk warga Malang dan sekitarnya terutama untuk bisa berkembang. Karena usia sedini mungkin anak-anak harus dikenalkan bagaimana main bola yang baik. Supaya lebih senang dan enjoy bermain sepak bola sebelum spesialisasi," ujar Nuzul Kifli.
Asifa sendiri menerapkan sistem pembinaan berjenjang dengan metode latihan yang dirancang secara profesional. Kelas usia 9-10 tahun tersebut diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi pemain muda sebelum mereka melangkah ke jenjang pembinaan berikutnya.
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah akses. Tidak semua anak yang memiliki kemampuan sepak bola berasal dari keluarga yang mampu membiayai perjalanan pembinaan dalam jangka panjang.
Karena itu, Asifa juga membuka peluang beasiswa bagi pemain yang dinilai memiliki kemampuan sesuai standar yang ditetapkan tim scouting.
"Untuk beasiswa terbuka bagi seluruh talenta muda. Kami ada ambang batas tertentu kompetensi pemain yang jika lolos dari standar tersebut kami berikan beasiswa olahraga untuk pemain yang layak," imbuhnya.
Baca Juga : Blitar Patria 10K Dibanjiri Runner: Mas Ibin Dorong Sport Tourism, Dokter Tirta Sebut Salah Satu Terbaik
Skema semacam ini menjadi penting karena perjalanan seorang pemain dari usia dini menuju level profesional bukan proses singkat. Dibutuhkan latihan bertahun-tahun, kompetisi yang sesuai usia, pelatih berkualitas serta kesempatan untuk terus dinilai dan dikembangkan.
Indonesia sebenarnya mulai membangun fondasi untuk kebutuhan tersebut. FIFA menyebut National Training Centre PSSI di Ibu Kota Nusantara memiliki luas 34,52 hektare dan mendapat dukungan pendanaan FIFA Forward sebesar 5,4 juta dolar AS, ditambah investasi pemerintah Indonesia. Fasilitas tersebut diarahkan antara lain untuk kegiatan pemusatan latihan, pengembangan teknis dan aktivitas grassroot.
Namun, infrastruktur di level nasional tetap membutuhkan ekosistem pembinaan di daerah. Sebab, pusat latihan nasional tidak akan banyak berarti jika pasokan pemain berkualitas dari level grassroot tidak terus mengalir.
Asifa menyebut animo terhadap kelas baru tersebut sudah terlihat. Hingga kini terdapat 44 siswa yang telah mendaftar dan jumlah itu masih ditargetkan bertambah.
"Targetnya kita sebanyak banyaknya, sejauh ini ada 44 siswa yang sudah mendaftar, dan bakal terus bertambah. Sekarang ini anak mau olahraga itu barang mahal, banyak yang lari ke olahraga virtual. Kami harap dengan kelas ini dapat membangun generasi muda yang kuat dan sportif dengan olahraga," pungkasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menyoroti tantangan lain yang mulai muncul dalam pembinaan generasi muda. Ketika aktivitas fisik berhadapan dengan semakin kuatnya daya tarik dunia digital, sepak bola grassroots dituntut bukan hanya menghasilkan pemain, tetapi juga menyediakan ruang aktivitas fisik yang sehat bagi anak-anak.
Jika pembinaan dimulai dengan benar sejak usia dini, manfaatnya tidak berhenti pada lahirnya seorang pesepak bola profesional. Lebih jauh, sistem tersebut dapat menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas generasi olahraga Indonesia.
Sebab, pemain yang kelak memperkuat klub profesional maupun tim nasional tidak lahir secara instan ketika memasuki usia senior. Mereka dibentuk dari lapangan-lapangan kecil, sekolah sepak bola, kompetisi usia muda, pelatih dan lingkungan yang menemani proses tersebut selama bertahun-tahun.
