Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Wali Kota Malang Soroti Potensi Festival Kampung Klasik VBT Jadi Kampung Tematik

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Nurlayla Ratri

27 - Aug - 2026, 10:52

Placeholder
Salah satu kreasi warga VBT yang menampilkan rumah dari Suku Samin pada Festival Kampung Klasik (foto: Hendra Saputra/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Festival Kampung Klasik yang digelar warga RW XI Villa Bukit Tidar (VBT), Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, kembali menjadi ruang kreatif untuk memperkenalkan keragaman budaya sekaligus menggerakkan perekonomian warga.

Festival yang berlangsung pada 26-29 Agustus 2026 tersebut mendapat perhatian dari Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. Menurutnya, Festival Kampung Klasik memiliki karakter berbeda dibandingkan kegiatan peringatan kemerdekaan pada umumnya.

Baca Juga : Pelajar Asal Kota Malang Tewas Tertabrak Kereta Api di Pakisaji

"Ya, ini kebetulan Kampung Klasik ini kan berbeda, ya, dengan event-event dalam rangka 17-an, Agustusan, atau dalam rangka yang lain. Nah, ini Kampung Klasik mempunyai ciri khas sendiri karena sudah berapa tahun melaksanakan Kampung Klasik ini. Dan ini saya lihat bisa jadi daya tarik," ujar Wahyu.

Ia menilai kekhasan yang ditawarkan Festival Kampung Klasik berpotensi menjadi magnet bagi masyarakat dari luar kawasan. Karena itu, Wahyu meminta Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang ikut memperkuat promosi kegiatan tersebut.

"Terkait dengan event, saya minta nanti memang dari Disporapar tadi untuk bisa memberikan satu semacam promosi dan lain-lain agar orang-orang itu datang. Nah, apabila nanti mereka datang tidak hanya dari ini, itu bisa jadi satu event yang masuk dalam kalender tahunan," katanya.

Wahyu juga membuka peluang Festival Kampung Klasik dikembangkan sebagai salah satu kampung tematik. Menurutnya, setiap kampung memiliki kearifan lokal dan karakter masing-masing sehingga kegiatan yang digelar tidak harus dibuat seragam. "Bisa jadi salah satu kampung tematik," tegasnya.

Ia melihat konsep Festival Kampung Klasik memiliki nilai edukasi yang kuat. Pengunjung tidak hanya disuguhi kuliner dan produk UMKM, tetapi juga diajak mengenal berbagai kebudayaan melalui anjungan yang dibuat warga.

"Bagus sekali. Tadi saya sampaikan berbeda karena tiap tahun kan mereka mempunyai tema, dan tadi yang berbeda juga terkait dengan anjungan-anjungannya. Ini ada pengetahuan, ya. Orang-orang datang tidak hanya sekadar mungkin makan kuliner dari UMKM, tetapi juga ada tampilan berbeda dan ini juga bisa menjadi satu pembelajaran tersendiri agar orang-orang itu tahu bahwa, oh dari tadi Kampung Osing, dari Bondowoso, Madura, ya, ini Mojokerto, tadi saya lihat itu, inilah seperti ini," kata Wahyu.

Sementara itu, Ketua RW XI VBT Pardiman menjelaskan Festival Kampung Klasik merupakan bagian dari rangkaian kegiatan warga dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Rangkaian kegiatan diawali jalan sehat, dilanjutkan bari'an pada malam 16 Agustus. Warga berkumpul di Jalan Poros Tengah sepanjang kurang lebih 200 meter dengan membawa tumpeng dan encek. Setelah itu, pada 17 Agustus digelar upacara bendera dan lomba kebersihan lingkungan antarrukun tetangga yang dikemas dengan tajuk RT Berkelas.

Puncak rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan melalui Festival Kampung Klasik pada 26-29 Agustus 2026.

Pardiman mengatakan festival tersebut tidak sekadar menjadi hiburan tahunan. Di balik pelaksanaannya terdapat sejumlah misi yang ingin terus diwariskan kepada warga, terutama generasi muda.

"Festival Kampung Klasik ini sebenarnya memang kita upayakan untuk terus bertahan karena ada misi sebenarnya yang kita emban. Jadi, dari misi pendidikan, kita berupaya bagaimana kita bisa mengedukasi masyarakat, mengedukasi terutama kaum remaja dan juga anak-anak untuk bagaimana menjaga lingkungan. Jadi, menjaga lingkungan, menjaga budaya," ujarnya.

Misi berikutnya adalah nasionalisme. Nilai tersebut ditanamkan melalui berbagai kegiatan warga, mulai dari bari'an hingga upacara bendera.

"Jadi, dari misi nasionalisme, kita memang berusaha untuk menanamkan karakter begitu kepada warga masyarakat dan juga anak-anak dan remaja di lingkungan kita melalui beberapa kegiatan tentunya. Ada kegiatan syukuran yang bari'an itu, juga ada penanaman nasionalisme, termasuk upacara," jelas Pardiman.

Festival ini juga membawa misi ekonomi dengan melibatkan pelaku UMKM. Tahun ini tercatat sekitar 95 UMKM ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, baik berasal dari Malang Raya maupun warga internal VBT.

Pardiman menyebut perputaran ekonomi selama pelaksanaan festival tahun sebelumnya mencapai sekitar Rp350 juta.

Baca Juga : Dedikasi PLN di Momen Hari Pelanggan Nasional, Sukseskan Launching & Groundbreaking Program PLTS 100 GWp

"Wah, ini kalau perputaran ekonomi, kami pernah mengkalkulasi ya untuk tahun lalu, itu bisa sampai di angka 350-an juta," katanya.

"Selama 4 hari. Artinya perputaran ekonomi itu hasil penjualan yang diperoleh oleh masing-masing UMKM, ya. Karena UMKM yang terlibat juga cukup besar. Malam hari ini kira-kira kemarin saya diberikan laporannya panitia itu 95 UMKM," sambungnya.

Selain pendidikan, nasionalisme dan ekonomi, festival tersebut juga membawa misi budaya. Hal itu diwujudkan melalui pertunjukan budaya serta anjungan yang merepresentasikan berbagai wilayah dan karakter budaya.

Tema Festival Kampung Klasik sendiri selalu berubah setiap tahun. Namun, misi utamanya tetap sama. Tahun ini warga mengangkat tema Jawa Timuran dengan menghadirkan 18 anjungan yang menampilkan keragaman budaya Jawa Timur.

"Temanya berubah-ubah, artinya berbeda-beda. Tetapi tema itu kita merujuk kepada anjungan, rujukan utamanya kepada anjungan. Misi yang kita emban sama, tetapi tema kita lebih kepada anjungan," kata Pardiman.

"Tahun ini kita mengusung tema Jawa Timuran. Semua anjungan kita mengambil tema Jawa Timuran mulai dari Timur, Madura, kemudian Pandalungan, kemudian Osing, kemudian ada budaya Arek, Mataraman, kemudian Bawean, Kangean. Itu kita pajang semua. Ada 18 RT, sehingga sebenarnya ada 18 anjungan tentunya nanti, begitu," imbuhnya.

Menariknya, geliat Festival Kampung Klasik tidak hanya menjangkau masyarakat sekitar. Pada pelaksanaan tahun lalu, festival tersebut bahkan dikunjungi sejumlah wisatawan dari luar negeri.

"Tahun lalu juga ada beberapa tamu dari Eropa yang kebetulan melancong ke Malang, mampir ke Festival Kampung Klasik," ungkap Pardiman.

Tahun ini jangkauan internasional kembali diperluas. Warga Jepang, Malaysia dan Singapura dijadwalkan ikut mengisi pameran budaya melalui booth atau stan khusus.

"Untuk tahun ini ada satu mata kegiatan yang nanti insya Allah bentuknya pameran budaya yang akan diisi oleh warga dari Jepang, Malaysia, dan Singapura yang akan mengisi pameran budaya di area Kampung Klasik ini," katanya.

"Ya itu Jepang, kemudian Malaysia, dari Singapura juga. Kita buatkan satu booth atau stand begitu, yang kemudian mereka akan menampilkan atau memamerkan, memperkenalkan budaya mereka melalui karya-karya tentunya," lanjutnya.

Ke depan, warga VBT berkomitmen mempertahankan Festival Kampung Klasik sebagai agenda tahunan dengan tema yang terus diperbarui. Lokasi pelaksanaan juga akan dievaluasi bersama, termasuk kemungkinan berpindah ke wilayah lain di lingkungan VBT.

"Tahun berikutnya tentu kami akan mempertahankan ini dengan mengusung tema yang berbeda. Mengusung tema yang berbeda, dan juga nanti terkait dengan venue, biasanya itu diputuskan secara bersama-sama. Apakah tetap di sini atau menggeser ke tempat lain, misalnya di jalan poros atau di wilayah RT yang lain. Tahun ini ada di sini, di poros bawah ini, istilahnya begitu," pungkas Pardiman.


Topik

Peristiwa kota malang vbt festival kampung klasik



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Nurlayla Ratri