Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Mengenal Cocoghen, Tradisi Unik Masyarakat Madura Menyambut Bulan Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

13 - Aug - 2026, 16:56

Placeholder
Penampakan buah-buahan yang menjadi suguhan di tradisi Cocoghen. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Bulan Rabiul Awal menjadi salah satu bulan yang istimewa bagi umat Islam. Bulan ini identik dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang biasanya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan tradisi di sejumlah daerah.

Di Madura, Jawa Timur, masyarakat memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Rabiul Awal. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Cocoghen atau Cocokan.

Baca Juga : Mahasiswa FPIK Universitas Brawijaya Gencarkan Gerakan Gemar Makan Ikan dan Budidaya Mandiri di Desa Sumberpetung Kalipare

Apa Itu Tradisi Cocoghen?

Cocoghen berasal dari kata dalam bahasa Madura yang berarti mencocokkan. Tradisi ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Madura dalam memastikan datangnya malam pertama bulan Rabiul Awal.

Ketika diyakini telah memasuki 1 Rabiul Awal, masyarakat akan berbondong-bondong membawa berbagai makanan dan buah-buahan ke masjid atau tempat ibadah di sekitar lingkungan mereka.

Hantaran tersebut kemudian digunakan dalam kegiatan doa bersama dan pembacaan Maulid Al-Barzanji sebagai bentuk rasa syukur sekaligus menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Buah-buahan Jadi Bagian Penting Cocoghen

Salah satu hal yang membuat Cocoghen menarik adalah banyaknya buah-buahan yang dibawa masyarakat sebagai bagian dari hantaran.

Konon, masyarakat Madura memiliki kepercayaan bahwa pada masa kelahiran Nabi Muhammad SAW, buah-buahan yang sebelumnya jarang atau tidak berbuah tiba-tiba menghasilkan buah.

Karena itu, buah-buahan kemudian menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi Cocoghen.

Masyarakat juga meyakini bahwa memperbanyak selawat, bersedekah dan berbagi makanan pada bulan Maulid dapat menjadi jalan untuk mendapatkan keberkahan serta kelapangan rezeki.

Cocoghen Hanya Dilakukan pada 1 Rabiul Awal

Berbeda dengan rangkaian peringatan Maulid Nabi yang berlangsung sepanjang bulan Rabiul Awal, Cocoghen secara khusus dilakukan pada 1 Rabiul Awal.

Tradisi ini menjadi penanda sekaligus bentuk sukacita masyarakat dalam menyambut datangnya bulan yang dianggap istimewa tersebut.

Berbagai hidangan disiapkan oleh warga, mulai dari buah-buahan, nasi, lauk-pauk, sayuran hingga makanan lainnya. Setelah dikumpulkan, makanan tersebut dibawa ke masjid untuk didoakan bersama sebelum kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Ada Tradisi Memperebutkan Isi Nampan

Cocoghen juga memiliki bagian yang paling dinantikan anak-anak. Berbagai makanan dan buah yang dibawa warga akan dikumpulkan dalam sebuah nampan.

Baca Juga : Heboh Festival Balon Wonosobo Malah Diisi Program Prabowo: Rusak Kena Politik? 

Setelah rangkaian doa bersama selesai, isi nampan tersebut kemudian diperebutkan oleh anak-anak. Suasana ini membuat pelaksanaan Cocoghen terasa semakin meriah dan menjadi salah satu kenangan yang melekat bagi masyarakat Madura.

Bagi anak-anak, momen tersebut tentu menjadi bagian yang menyenangkan. Sementara bagi masyarakat, kegiatan ini menjadi cara untuk mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Maulid Nabi di Madura Berlanjut hingga 12 Rabiul Awal

Setelah Cocoghen pada 1 Rabiul Awal, kegiatan masyarakat Madura dalam memperingati bulan Maulid masih berlanjut.

Setiap rumah biasanya dapat menggelar acara Maulid secara bergantian. Warga akan berkumpul di rumah yang menjadi tempat pelaksanaan, kemudian membaca selawat, Maulid Al-Barzanji dan melakukan doa bersama.

Puncak peringatan Maulid Nabi secara umum berlangsung pada 12 Rabiul Awal, yang secara tradisi dikenal sebagai tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Madura, peringatan tersebut dikenal dengan sebutan Muludan.

Selain memiliki nilai keagamaan, rangkaian tradisi Maulid Nabi di Madura juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan sosial.

Warga yang setiap hari memiliki kesibukan masing-masing memiliki kesempatan untuk berkumpul, berbincang dan saling berbagi makanan. Kebiasaan tersebut membuat hubungan antarwarga semakin dekat dan silaturahmi tetap terjaga.

Di sisi lain, kegiatan doa bersama dan pembacaan selawat menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mengenang dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

Cocoghen pun bukan sekadar tradisi menyambut bulan Maulid. Di dalamnya terdapat semangat berbagi, bersedekah, berselawat, berkumpul bersama serta menjaga warisan budaya masyarakat Madura agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya tradisi di madura cocokan cocoghen rabiul awal maulid nabi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri