Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Kenapa Ada Rebo Wekasan? Ini Sejarah, Makna, dan Tujuan Tradisi Rabu Terakhir Bulan Safar

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

12 - Aug - 2026, 10:01

Placeholder
Ilustrasi rebo wekasan. (Foto: ChatGPT)

JATIMTIMES - Rebo Wekasan 2026 jatuh pada Rabu, 12 Agustus 2026. Tradisi yang juga dikenal dengan sebutan Rabu Wekasan atau Rebo Pungkasan ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat di Jawa, Sunda, dan Madura.

Rebo Wekasan biasanya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat. Salah satu tujuan yang paling dikenal adalah memanjatkan doa untuk memohon perlindungan dari berbagai marabahaya atau yang sering disebut sebagai tolak bala.

Baca Juga : Tak Hanya Indonesia, Ini 20 Negara yang Rayakan Hari Kemerdekaan pada Agustus

Lantas, apa sebenarnya makna Rebo Wekasan dan bagaimana sejarah munculnya tradisi tersebut?

Pengertian Rebo Wekasan

Dilansir dari situs Desa Suci Kabupaten Gresik, istilah Rebo Wekasan berasal dari bahasa Jawa. Kata "Rebo" berarti Rabu, sedangkan "Wekasan" memiliki arti pungkasan atau akhir.

Dengan demikian, Rebo Wekasan secara bahasa berarti Rabu terakhir. Dalam tradisi masyarakat, istilah tersebut merujuk pada Rabu terakhir di bulan Safar, yaitu bulan kedua dalam kalender Hijriah.

Pelaksanaan Rebo Wekasan tidak bergantung pada hari pasaran maupun neptu tertentu. Tradisi ini berkembang sebagai bagian dari budaya masyarakat dan bentuknya dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Kenapa Rebo Wekasan Dilakukan?

Rebo Wekasan berkembang dari kepercayaan masyarakat yang menganggap Rabu terakhir di bulan Safar sebagai waktu yang berkaitan dengan datangnya penyakit atau marabahaya.

Karena itu, masyarakat kemudian melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memohon keselamatan. Beberapa di antaranya berupa doa, salat sunah, dan sedekah.

Tradisi tersebut kemudian menjadi bagian dari akulturasi budaya Islam dan Jawa. Rebo Wekasan banyak berkembang di wilayah pesisir yang dikenal memiliki hubungan kuat dengan perkembangan Islam sejak masa lalu.

Selain sebagai ikhtiar memohon perlindungan, pelaksanaan Rebo Wekasan juga dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Sejarah Rebo Wekasan

Sejarah Rebo Wekasan tidak terlepas dari perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat Jawa, Rabu terakhir bulan Safar dianggap sebagai hari yang memiliki kaitan dengan kesialan atau marabahaya.

Dalam sumber dari Desa Suci Kabupaten Gresik, terdapat pula cerita yang menghubungkan tradisi tersebut dengan kabar rencana penjajahan Belanda di Jawa pada bulan Safar tahun 1602.

Masyarakat disebut melakukan serangkaian ritual sebagai bentuk penolakan terhadap ancaman tersebut. Seiring berjalannya waktu, ritual tersebut berkembang menjadi tradisi yang dikenal sebagai Rebo Wekasan.

Ada pula pandangan dari Abdul Hamid Quds yang menyebut bahwa terdapat 32.000 bala yang diturunkan Allah ke bumi pada Rabu terakhir setiap tahun di bulan Safar.

Meski demikian, berbagai kisah dan keyakinan mengenai Rebo Wekasan merupakan bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat. Pemaknaan dan tata cara pelaksanaannya pun dapat berbeda di setiap daerah.

Baca Juga : BPJS Kesehatan Klarifikasi Soal Selisih Rp 44 Triliun yang Dipertanyakan Warganet, Berikan Penjelasan ke Jatimtimes

Kaitannya dengan Wali Songo

Perkembangan Rebo Wekasan juga kerap dikaitkan dengan penyebaran Islam di Jawa. Salah satu tokoh yang disebut dalam cerita masyarakat adalah Sunan Giri.

Menurut kepercayaan masyarakat Desa Suci, Kabupaten Gresik, Sunan Giri pernah memberikan petunjuk mengenai sumber air ketika masyarakat mengalami kekeringan. Ia kemudian berpesan agar masyarakat mengadakan upacara adat Rebo Wekasan.

Cerita tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu bagian dari sejarah tradisi Rebo Wekasan di wilayah tersebut.

Tujuan Pelaksanaan Rebo Wekasan

Secara umum, Rebo Wekasan dilakukan dengan beberapa tujuan, di antaranya:

• Memohon perlindungan dari marabahaya atau tolak bala.

• Memanjatkan doa kepada Allah SWT.

• Mengungkapkan rasa syukur.

• Mempererat kebersamaan masyarakat.

• Melestarikan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, Rebo Wekasan tidak hanya menjadi tradisi budaya, tetapi juga menggambarkan proses akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang berkembang di masyarakat Indonesia.


Topik

Serba Serbi rebo wekasan rebo pungkasan wali songo sejarah rebo wekasan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya