JATIMTIMES – Di tengah perjuangan reaktivasi Madrasah Diniyah Mathla’ul Ihsan di Dusun Duwet Selatan, Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, kabar membanggakan datang dari lembaga pendidikan keagamaan tersebut. Empat santri dan santriwati berhasil lulus hafalan Juz Amma atau juz 30, sebuah capaian yang dinilai menjadi simbol kebangkitan madrasah di tengah upaya membangun kembali semangat pendidikan agama di lingkungan masyarakat.
Empat santri yang dinyatakan lulus hafalan juz 30 itu masing-masing Adiba Wahyu Ramadhani, Sabilatul Jannatil Auliyah, Ulfa Riskiandini, dan Bayu Nugraha Pratama. Kelulusan mereka disambut penuh syukur oleh keluarga besar Madrasah Diniyah Mathla’ul Ihsan karena menjadi penanda bahwa madrasah yang tengah bangkit kembali itu mulai menunjukkan hasil pembinaan yang nyata.
Baca Juga : 10 Tahun Pakai Korset Hampir 24 Jam Sehari, Wanita Ini Berhasil Susutkan Pinggang hingga 58 Cm
Ujian hafalan bagi keempat santri tersebut dilaksanakan pada Minggu (21/6/2026) bertempat di Pondok Pesantren Walisongo Situbondo. Dalam pelaksanaannya, para santri diuji secara langsung oleh dewan juri yang terdiri dari ustadz dan ustadzah dari Pondok Pesantren Walisongo Situbondo.
Dalam pelaksanaan tes hafalan Juz Amma tersebut, tercatat sebanyak 113 peserta dari 39 lembaga turut ambil bagian. Data itu menunjukkan tingginya antusiasme lembaga pendidikan keagamaan di Situbondo dan sekitarnya dalam mendorong para santri mengikuti uji hafalan Al-Qur’an, khususnya juz 30.
Pengumuman kelulusan pun dilakukan pada hari yang sama setelah seluruh rangkaian ujian hafalan selesai dilaksanakan. Momen itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para santri, wali santri, pengajar, hingga para alumni yang selama ini ikut mendorong reaktivasi madrasah agar kembali hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Salah satu pengurus Madrasah Mathla’ul Ihsan, Abdul Azis, menyebut keberhasilan empat santri itu bukan sekadar capaian hafalan biasa. Menurut dia, prestasi tersebut memiliki makna lebih besar karena hadir di tengah perjuangan menghidupkan kembali madrasah yang sempat vakum.
“Di tengah perjuangan reaktivasi kembali madrasah ini, kelulusan hafalan Juz Amma oleh empat anak ini menjadi simbol kebangkitan Madrasah Mathla’ul Ihsan. Ini bukan hanya tentang hafalan, tetapi juga tentang semangat menghidupkan lagi madrasah agar tetap menjadi tempat belajar agama bagi anak-anak di lingkungan Duwet dan sekitarnya,” ujar Abdul Azis kepada JATIMTIMES, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, prestasi itu diraih melalui proses pembelajaran yang tidak instan. Setiap hari, santri dan santriwati secara rutin menyetorkan hafalan kepada ustadzah dengan target minimal lima ayat. Setoran hafalan itu terus dilakukan secara bertahap hingga para santri benar-benar menguasai hafalan juz 30 secara utuh.
Menurut Abdul Azis, pola pembinaan harian tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan para santri dalam menyelesaikan hafalan Juz Amma. Selain setoran hafalan, para santri juga terus diberikan bimbingan dan penguatan agar tidak mudah menyerah dalam proses belajar Al-Qur’an.
“Setiap hari anak-anak menyetorkan hafalan minimal lima ayat kepada ustadzah. Dari proses itulah hafalan mereka dibangun sedikit demi sedikit sampai akhirnya mampu menguasai juz 30. Jadi capaian ini lahir dari kedisiplinan, ketekunan, dan pembinaan yang terus dilakukan,” jelasnya.
Abdul Azis menambahkan, setelah dinyatakan lulus hafalan juz 30, keempat santri tersebut tidak akan berhenti sampai di sana. Mereka akan melanjutkan proses belajar ke juz berikutnya, yakni juz 29, dan seterusnya hingga diharapkan mampu menghafal Al-Qur’an secara lebih sempurna.
“Kelanjutannya, santri dan santriwati yang lulus ini akan masuk ke hafalan juz 29, lalu berlanjut sampai hafal secara sempurna. Mereka juga terus diberi motivasi agar tetap semangat dan konsisten mencapai target hafalan,” imbuhnya.
Ia berharap capaian empat santri itu bisa menjadi pemantik semangat bagi santri lainnya untuk lebih rajin belajar di madrasah dan bersemangat menghafal Al-Qur’an. Tidak hanya itu, prestasi tersebut juga diharapkan mampu menjadi contoh positif bagi anak-anak di lingkungan sekitar bahwa belajar agama dan menghafal Al-Qur’an bisa dimulai dari madrasah di desa.
Baca Juga : Belajar dari Alam, Strategi MTsN 2 Kota Malang Bentuk Siswa Olimpiade Berdaya Saing
“Harapannya, santri yang lain bisa menjadikan prestasi ini sebagai contoh. Semoga mereka semakin semangat belajar di madrasah dan termotivasi untuk ikut menghafal Al-Qur’an,” kata Abdul Azis.
Lebih jauh, ia juga berharap keberhasilan ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Madrasah Diniyah Mathla’ul Ihsan. Dengan lahirnya prestasi hafalan Al-Qur’an, masyarakat diharapkan semakin tertarik mempercayakan pendidikan agama anak-anaknya kepada madrasah tersebut.
“Kami juga berharap masyarakat semakin tertarik dan percaya untuk menitipkan pendidikan agama anak-anaknya di Madrasah Mathla’ul Ihsan, dengan harapan anak-anak mereka juga bisa memiliki prestasi hafalan Al-Qur’an seperti ini,” ujarnya.
Dukungan terhadap kebangkitan Madrasah Diniyah Mathla’ul Ihsan juga datang dari Pemerintah Desa Duwet. Kepala Desa Duwet Adi Chandra Karisma disebut memberikan dukungan terhadap upaya menghidupkan kembali madrasah sebagai salah satu pusat pendidikan keagamaan di desa.
Dukungan dari pemerintah desa dinilai menjadi energi tambahan bagi pengelola madrasah untuk terus melanjutkan pembinaan santri. Sinergi antara pengurus madrasah, alumni, tokoh agama, wali santri, dan pemerintah desa diyakini menjadi modal penting agar Mathla’ul Ihsan bisa terus berkembang dan kembali menjadi tempat pendidikan agama yang diminati masyarakat.
Keberhasilan empat santri menuntaskan hafalan Juz Amma pun menjadi kabar menggembirakan bagi warga Dusun Duwet Selatan. Di tengah tantangan zaman dan derasnya arus modernisasi, capaian itu menunjukkan bahwa semangat belajar Al-Qur’an di tingkat desa tetap hidup dan bahkan mulai bangkit kembali.
Bagi masyarakat sekitar, prestasi tersebut bukan hanya kebanggaan bagi keluarga para santri, tetapi juga menjadi harapan baru bagi masa depan madrasah. Dari ruang belajar sederhana di desa, Madrasah Mathla’ul Ihsan mulai menegaskan kembali perannya dalam mencetak generasi Qurani yang berilmu, beriman, dan berakhlakul karimah.
Momentum kelulusan hafalan Juz Amma ini pun diharapkan menjadi titik awal lahirnya lebih banyak santri penghafal Al-Qur’an dari Desa Duwet, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, dukungan masyarakat, dan semangat kebersamaan, Madrasah Mathla’ul Ihsan ingin terus tumbuh sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang mampu melahirkan generasi unggul sekaligus menjadi kebanggaan warga.
