Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Opini

Gus dan Ning Karbitan: Ketika Popularitas Mengalahkan Keilmuan

Penulis : Dr H Ahmad Fahrur Rozi - Editor : Redaksi

16 - Jun - 2026, 14:49

Placeholder
Ketua MUI Bidang Pesantren sekaligus Ketua PBNU Bidang Keagamaan Dr H Ahmad Fahrur Rozi.

Oleh:  Dr H Ahmad Fahrur Rozi (ketua MUI Bidang Pesantren sekaligus ketua PBNU Bidang Keagamaan)

Sebagai orang yang lebih dari tiga dekade berkhidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan pesantren, saya melihat ada fenomena yang perlu menjadi perhatian bersama. Bukan untuk menghakimi siapa pun, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas bimbingan keagamaan yang diterima masyarakat.

Baca Juga : Mengenang Heroisme Shahabiyah, Garda Kemanusiaan dan Pertahanan Umat

Di era media sosial, menjadi terkenal jauh lebih mudah daripada menjadi alim. Seseorang bisa memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat, tetapi membangun kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan kekayaan ruhani tetap memerlukan proses panjang yang tidak bisa dipercepat oleh algoritma.

Karena itu, kita mulai melihat munculnya fenomena “gus”, ustaz dan “ning” karbitan. Ada yang dikenal luas bukan karena kapasitas keilmuan, melainkan karena kemampuan membangun citra, membuat konten lucu yang menarik, atau tampil berbeda dari yang lain. Bahkan ada yang baru beberapa tahun meninggalkan dunia hiburan, artis panggung, atau media sosial, lalu tiba-tiba tampil sebagai penceramah, tokoh agama dan dijadikan rujukan oleh masyarakat.

Tentu kita bersyukur jika ada orang yang berhijrah dan mendekat kepada agama. Hijrah adalah sesuatu yang mulia. Namun menjadi pribadi yang saleh berbeda dengan menjadi pembimbing umat. Menjadi pendakwah, nyai, atau tokoh agama memerlukan bekal ilmu yang cukup, adab yang kokoh, kedalaman spiritual, serta tanggung jawab moral yang besar.

Dalam tradisi pesantren, seorang gus dihormati bukan semata karena ia putra kiai. Seorang ning dihargai bukan karena ia berasal dari keluarga pesantren. Penghormatan itu lahir karena ilmu, akhlak, kesederhanaan, ketekunan beribadah, dan kesediaan terus belajar sepanjang hayat.

Yang membuat prihatin adalah ketika sebagian masyarakat lebih mudah terpikat oleh penampilan daripada isi, oleh retorika daripada ilmu, oleh viralitas daripada kapasitas. Akibatnya, yang ramai dianggap benar, yang terkenal dianggap alim, dan yang banyak ditonton dianggap layak dijadikan rujukan.

Padahal para ulama besar yang kita hormati hari ini tidak dibentuk oleh kamera dan panggung. Mereka dibentuk oleh kitab-kitab yang dipelajari bertahun-tahun, oleh pengabdian kepada guru, oleh munajat di sepertiga malam, oleh kesabaran menjaga adab, dan oleh kerendahan hati yang semakin dalam seiring bertambahnya ilmu.

Baca Juga : Oknum Pengasuh Ponpes di Bululawang Jadi Tersangka Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Santriwati

Masyarakat perlu lebih cermat dalam memilih panutan. Jangan hanya melihat jumlah pengikutnya, tetapi lihat siapa gurunya, apa keilmuannya, bagaimana ibadahnya, bagaimana adabnya, dan bagaimana jejak pengabdiannya kepada umat.

Sebab agama adalah urusan yang terlalu mulia untuk diserahkan kepada mereka yang hanya mengandalkan popularitas. Umat membutuhkan pembimbing yang berilmu, berakhlak, dan takut kepada Allah, bukan sekadar figur yang pandai menarik perhatian.

Nasab memang bisa menghadirkan penghormatan, dan popularitas bisa menghadirkan ketenaran. Namun hanya ilmu, adab, dan keikhlasan yang akan menghadirkan keberkahan.

“Di pesantren, kemuliaan tidak diukur dari seberapa terkenal seseorang, tetapi dari seberapa dalam ilmunya, seberapa baik adabnya, dan seberapa tulus pengabdiannya kepada umat.”


Topik

Opini Opini



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Dr H Ahmad Fahrur Rozi

Editor

Redaksi