Oleh: Adi Susilo, Ketua Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya
JATIMTIMES - Air adalah salah satu kebutuhan dasar kehidupan di Bumi, karena semua makhluk hidup membutuhkannya untuk bertahan hidup. Di Indonesia, seringkali air melimpah selama musim hujan; sebaliknya, beberapa daerah mungkin menghadapi kekeringan dan masalah pasokan air selama musim kemarau yang panjang.
Baca Juga : Megawati Titip Pesan kepada Wali Kota Blitar, Istana Gebang Harus Menjadi Pusat Edukasi Bung Karno
Kekeringan ini dapat sedikit diatasi jika suatu daerah memiliki akses ke sumber air tanah. Air tanah merupakan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memasok air untuk proses industri, pertanian, dan penggunaan domestik. Oleh karena itu, air tanah memainkan peran penting dalam pembangunan daerah, khususnya di daerah dengan iklim kering dan tropis, di mana sumber daya air permukaan sangat terbatas (Chandra dkk., 2010).
Di daerah Malang Raya, khususnya Kabupaten Malang, dan lebih tepatnya di Malang Selatan, dimana daerahnya di dominasi dengan batuan gamping/karst, pada musim penghujan, air juga melimpah. Namun sebaliknya, pada saat musim kemarau, beberapa daerah kekurangan air, yang mengakibatkan harus ada bantuan air bersih, baik oleh pemerintah, ataupun oleh relawan.
Air bersih yang disalurkan, biasanya adalah air bersih yang dikirimkan melalui mobil tanki air. Ketika air datang, maka masyarakat berkumpul, dan mendapatkan air tersebut, dengan jerigen jerigen yang telah mereka persiapkan. Hal ini terus menerus berlangsung, yaitu setiap pergantian musim, dari musim hujan ke musim kemarau. Padahal, daerah gamping/karst, secara umum, bisa mempunyai cadangan air yang bisa jadi melimpah. Bukan hanya pada mata air yang keluar, namun pada daerah karst ini sangat berpotensi terjadinya sungai bawah tanah, seperti pada gambar satu berikut.

Gambar 1. Ilustrasi Proses Karstifikasi (Harjito, 2014)
Kalau melihat gambar tersebut, mestinya pada daerah karst yang kering saat musim kemarau, dan dijumpai adanya mata air, Sungai bawah tanah mesti ada di daerah tersebut.
Terdapat suatu daerah, yaitu di daerah Druju, Sumbermanjing Wetan, Dimana ada suatu sumur penduduk yang tidak pernah kering. Bahkan, diambil sampai banyakpun (pompa), sumur masih tetap ada airnya. Ternyata, sumur tersebut, terindikasi ada pada jalur Sungai bawah tanah. Penduduk mencoba menggali sumur di sekitar daerah sumur tersebut, tapi ternyata tidak memberikan hasil seperti sumur yang pertama tersebut.
Masyarakat selama ini sebetulnya sudah faham, bahwa air tanah akan ada pada kedalaman tertentu, dan mengikuti naik atau turun, seperti lapisan yang dihuni oleh air tersebut. Untuk daerah batuan sedimen yang berasal dari gunung api, hal ini adalah benar, seratus persen. Namun untuk daerah gamping/karst, hal tersebut tidak selamanya benar. Adanya Sungai bawah tanah pada suatu daerah, Adalah karena terjadi yang disebut sebagai proses Karstifikasi (proses pembentukan kawasan karst didominasi dengan adanya peroses pelarutan).
Seperti pada gambar 1 di atas, aliran air yang mengalir, semakin lama akan semakin menggerus, yang akan mengakibatkan rongga untuk mengalirkan air semakin besar. Begitu rongga semakin besar, maka volume juga akan semakin besar. Sehingga, Adalah sangat perlu dicari/dideteksi aliran tersebut.
Daerah Malang bagian Selatan yang lainnya, ternyata juga seperti hal di atas. Adanya istilah “Sumuran”, dimana air yang terjadi pada sumur tersebut, akan mengalir ke laut Selatan. Pada dasarnya, ini juga merupakan Sungai bawah laut. Oleh karena itu, Adalah sangat penting untuk bisa mencari/mendeteksi arah aliran Sungai bawah tanah tersebut dengan sebuah metode alat, yang dinamakan ADMT (Audio Frequency Magneto Telluric). Untuk proses selanjutnya, akan di paparkan pada tulisan selanjutnya

Alat ini, bekerja berdasarkan pancaran gelombang elektromagnetik. Adapun hasil dari pengukuran, Adalah sebagai berikut:

Terdeteksi bahwa potensi air tanah terdapat pada kedalaman 70 meter sampai 90 meter.
Penulis: Prof. Ir. Adi Susilo, PhD.
• Ketua Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya
• Ketua Program Studi Teknik Geofisika, Universitas Brawijaya
• Ketua 1 PP ASASI (Akademisi dan Saintis Indonesia).
