Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Pakar Soroti Fenomena Bunuh Diri Pelajar di Kota Malang, Akumulasi Masalah Jadi Pemicu

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

05 - Jun - 2026, 16:09

Placeholder
Ilustrasi gantung diri (foto: istimewa)

JATIMTIMES - Fenomena bunuh diri yang dilakukan seorang pelajar di Kota Malang memantik keprihatinan mendalam dari kalangan pemerhati kesehatan mental. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh melalui kolaborasi keluarga, sekolah, hingga lingkungan pertemanan.

Ketua Indonesia Sehat Jiwa Yayasan Mahargijono Schützenberger Indonesia, Sofia Ambarini, mengatakan gangguan kesehatan mental pada remaja saat ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah tingginya tekanan akademik dan ketatnya persaingan yang harus dihadapi pelajar.

Baca Juga : Penumpang Pesawat dan Kereta Api di Jatim Turun pada April 2026, Angkutan Laut Melonjak

"Kompetisi di antara anak-anak sekarang sangat tinggi, lalu tuntutan akademik mereka juga tinggi ditambah tuntutan dari orang tua misalnya harus masuk sekolah ternama atau tuntutan dari guru. Hal ini mengakibatkan anak-anak mengalami burnout (kelelahan mental), yang jika dibiarkan tanpa penanganan akan menjadi depresi," ujarnya, Jum'at (5/6/2026).

Menurut Sofia, depresi yang tidak mendapatkan penanganan dapat berkembang menjadi perilaku menyakiti diri sendiri hingga muncul keinginan mengakhiri hidup. Ia menegaskan, kasus bunuh diri pada pelajar umumnya bukan dipicu oleh satu persoalan tunggal, melainkan akumulasi berbagai tekanan yang berlangsung dalam waktu lama.

"Biasanya ada akumulasi dari faktor lain seperti masalah yang menumpuk, tidak ada yang mengerti, merasa sendirian hingga akhirnya merasa menjadi beban bagi orang lain. Jadi, pemicunya jarang sekali karena satu faktor tunggal melainkan akumulasi. Sehingga dalam kasus yang terjadi di Kota Malang, kemungkinan dia merasa seperti itu," ungkapnya.

Lebih jauh, Sofia menyoroti karakter generasi muda saat ini yang kerap disebut sebagai generasi stroberi. Kemudahan akses teknologi dan derasnya arus media sosial dinilai membuat banyak anak terbiasa dengan segala sesuatu yang serba instan.

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kerentanan psikologis remaja. Mereka dinilai lebih mudah terpengaruh, kerap membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di dunia maya, serta memiliki daya tahan yang lebih rendah saat menghadapi tantangan kehidupan nyata.

"Terbentuknya karakter generasi stroberi ini, salah satunya karena paparan dunia digital yang tidak diawasi dengan baik. Mereka dihadapkan banyak pilihan yang serba instan, sehingga menjadi kurang terbiasa untuk mendalami suatu pilihan atau mempelajari sesuatu secara lebih mendalam," terangnya.

Karena itu, Sofia mendorong sekolah untuk menjadi ruang aman bagi para siswa. Tidak hanya guru Bimbingan Konseling (BK), seluruh tenaga pendidik diharapkan mampu membangun kedekatan dan menjadi tempat yang nyaman bagi siswa untuk berbagi persoalan yang mereka hadapi.

Sebagai langkah konkret, Indonesia Sehat Jiwa telah mengembangkan program pendampingan berbasis teman sebaya atau Peer Buddy. Program tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian pelajar terhadap kondisi psikologis teman-teman di sekitarnya.

Baca Juga : Soroti Pemberitaan Kasus di Kampus PNJ, AJI Desak Media Hentikan Berita yang Picu Persekusi Minoritas Gender

"Kami memiliki jaringan Peer Buddy yang telah tersebar di sebanyak 40 sekolah dengan merangkul sekitar 200 anak. Jika mereka menemukan adanya indikasi perubahan perilaku yang tidak biasa pada temannya seperti murung atau melamun, mereka diharapkan dapat langsung melaporkannya ke kami," bebernya.

Selain sekolah, keluarga juga memiliki peran yang sangat penting dalam mendeteksi dini gangguan kesehatan mental pada anak. Orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku yang muncul secara tiba-tiba.

"Apabila terjadi perubahan perilaku secara mendadak, seperti tidak pernah tidur siang lalu tiba-tiba tidur lama atau malah tidak bisa tidur sama sekali, dan yang tadinya suka makanan apa mendadak tidak suka. Kalau mengetahui seperti itu, dekati dan berikan perhatian untuk ditemani," tambahnya.

Sofia menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental remaja tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan ekosistem yang saling mendukung antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial agar anak-anak memiliki ruang aman untuk menyampaikan masalah yang mereka hadapi.

"Semuanya harus menjadi satu kesatuan ekosistem yang berjalan beriringan dalam membangun lingkungan aman. Dengan begitu, anak-anak bisa berbicara dengan leluasa dan tidak mengalami keputusasaan saat mereka menghadapi suatu kendala atau permasalahan hidup," tandasnya.


Topik

Peristiwa Bunuh Diri siswa bunuh diri pendampingan psikologis gantung diri psikologis pelajar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Sri Kurnia Mahiruni