JATIMTIMES – Transformasi gaya belanja masyarakat menuju ekosistem nirtunai (cashless) memicu lonjakan drastis pada perputaran uang digital di wilayah Kota Batu. Sepanjang tahun berjalan ini, nilai akumulatif transaksi menggunakan instrumen Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Bumi Kota Wisata sukses menembus angka Rp 287 miliar.
Ledakan volume transaksi tersebut didominasi oleh pergerakan roda bisnis sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kini kian adaptif terhadap sistem pembayaran instan. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Malang memotret tren eskalasi positif ini sebagai indikator kuat pulihnya daya beli masyarakat pasca-pandemi.
“Hingga April, tercatat ada 686.744 tenant pengguna di Kota Batu. Angka ini melonjak 58 ribu tenant hanya dalam rentang satu bulan terakhir sejak Maret,” beber Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Indra Kuspriyadi, belum lama ini.
Menurut dia, data tersebut menunjukkan ekspansi infrastruktur alat bayar digital di lapangan cukup tinggi. BI mencatat perputaran uang via QRIS secara konsisten berada di atas angka Rp 80 miliar setiap bulannya.
Dari nilai itu, sekitar 85 persennya mutlak disumbang oleh UMKM sektor wisata. Capaian ini melesat lebih dari dua kali lipat jika disandingkan dengan performa sepanjang tahun 2025 yang mengumpulkan nilai kumulatif Rp 114 miliar dari 11,8 juta kali transaksi.
Meski angka makro di sektor pariwisata terlihat sangat menjanjikan, euforia digitalisasi ini nyatanya masih merangkak lambat di area pasar tradisional.
Baca Juga : Satu Tahun Kepemimpinan Nanik-Suyatni: Gerak Bersama OPD, Hasilkan Solusi Nyata bagi Warga Magetan
Kuatnya kultur transaksi tunai peninggalan masa lalu serta keberadaan titik minim sinyal (blank spot) internet di beberapa sudut desa menjadi tembok penghambat utama penetrasi teknologi.
"Tapi kami tetap optimistis perluasan jaringan instrumen pembayaran digital ini akan merata seiring komitmen pembenahan infrastruktur telekomunikasi terpadu," imbuhnya.
