JATIMTIMES - Sejumlah suporter Arema FC yang mengatasnamakan Aremania Bergerak berkomitmen bakal menjaga kondusifitas. Termasuk pada laga antara Arema FC vs Persebaya Surabaya yang diagendakan bakal digelar di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026 mendatang.
Komitmen tersebut turut disampaikan oleh massa Aremania Bergerak saat menggelar aksi di Polres Malang pada Kamis (16/4/2026). "Tuntutan hari ini poinnya itu, kami inginnya di tanggal 28 (April 2026) pertandingan Arema versus Persebaya tetap harus dilaksanakan di (Stadion, red) Kanjuruhan," tegas Juru Bicara Aremania Bergerak Dedi Arisandi, saat ditemui JatimTIMES disela-sela aksi.
Baca Juga : 11 Pengembang Perumahan Serahkan PSU ke Pemkot Batu, Total Nilai Aset Tembus Rp 741 Miliar
Aksi yang dilakukan oleh Aremania Bergerak tersebut dilatarbelakangi adanya rapat koordinasi (rakor) yang telah digelar di Polres Malang kemarin, Rabu (15/4/2026). Di mana, dalam rakor tersebut turut membahas ihwal pertandingan antara Arema FC vs Persebaya yang diagendakan di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026.
Hasil dari rakor yang saat itu juga turut dihadiri oleh sejumlah pihak tanpa terkecuali para jajaran Forkopimda Kabupaten Malang tersebut, mengerucut bahwa pertandingan Arema FC vs Persebaya dinilai belum siap untuk digelar di Stadion Kanjuruhan dengan berbagai pertimbangan. Sehingga, hingga saat ini pihak kepolisian juga belum memberikan rekomendasi apapun terkait pertandingan tersebut.
Hasil dari rakor itulah yang kemudian memicu beragam pro dan kontra. Tanpa terkecuali dari Aremania Bergerak yang kemudian menggelar aksi di Polres Malang pada hari ini, Kamis (16/4/2026)
"Kalau Polres (Malang, red) ingin melakukan mitigasi, tolong kami juga dilibatkan, supaya kami tahu. Jangan sampai nanti sudah keluar statement, ternyata kita tahu kalau: oh yang dimintai mitigasi gak peduli tentang suporter, gak terjun di dunia suporter, gak tahu bal-balan (sepakbola). Kok tiba-tiba men-judge kami tidak siap," bebernya.
Sebaliknya, disampaikan Dedi, selama beberapa tahun belakangan ini para suporter Aremania Bergerak sudah belajar dan terus instrospeksi. Sehingga Aremania Bergerak menyayangkan hasil rakor yang menyebut jika pertandingan Arema FC vs Persebaya belum siap digelar di Stadion Kanjuruhan.
"Makanya kami di sini tadi meminta klarifikasi. Instrumen apa yang menjadi nilai mitigasi terhadap orang-orang yang diundang (rakor, red) kemarin," ujarnya.
Meski menyayangkan hasil rakor, namun, diutarakan Dedi, pihaknya tetap menghargai pendapat jajaran Forkopimda Kabupaten Malang yang turut diundang dalam rakor. Namun, pihaknya tetap meminta agar elemen suporter Arema FC turut dilibatkan dalam memutuskan terkait laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan.
"Kalau Forkopimda jelas, mereka punya alat untuk mencari indikator. Sedangkan orang-orang yang tidak punya kapasitas, dianggap tokoh saja, apa yang menjadi penilaiannya sehingga menyatakan kita belum siap. Kan kita nggak dilibatkan, berarti nggak fair," ujarnya.
Padahal, menurut Dedi mewakili Aremania Bergerak, suporter Arema FC merupakan stakeholder utama terkait pertandingan Arema FC vs Persebaya. Sehingga perlu dilibatkan dalam mengambil keputusan terkait laga yang diagendakan bakal digelar di Stadion Kanjuruhan tersebut.
"Kan Aremania itu stakeholder utamanya dalam hal ini. Kalau pemangku wilayah itukan sesuatu yang normatif," tuturnya.
Dedi kemudian menjabarkan beberapa pertimbangan terkait, kenapa laga Arema FC vs Persebaya harus digelar di Stadion Kanjuruhan. Di antaranya ialah untuk mengobati luka pasca Tragedi Kanjuruhan yang telah merenggut sekitar 135 korban jiwa dalam insiden yang terjadi pada 1 Oktober 2022 silam.
"Pertimbangan untuk setuju di Kanjuruhan (karena, red) bagi kami itu mengobati luka. Kalau ngomong trauma healing, inilah trauma healing yang paling bagus. Sebetulnya banyak dari teman-teman ini (Aremania Bergerak) yang merupakan korban hidup. Kalau ini ditunda-ditunda, akan menjadi trauma baru, trauma yang berkepanjangan," bebernya.
Baca Juga : Aremania Bergerak Minta Laga Arema Vs Persebaya Digelar di Stadion Kanjuruhan
Dijabarkan Dedi, Aremania Bergerak yang hari ini menggelar aksi di Polres Malang tersebut terdiri dari berbagai elemen suporter Arema FC. Tanpa terkecuali dari para korban maupun keluarga korban Tragedi Kanjuruhan.
"Kalau kami tidak melakukan ini (aksi, red), semakin membuat tidak kondusif. Kami ini hanya bereaksi atas sebuah aksi, jangan di marjinalkan," tegasnya.
Di sisi lain, mewakili Aremania Bergerak, Dedi mengaku tetap menghormati aspirasi termasuk dari keluarga korban yang menolak laga Arema FC vs Persebaya digelar di Stadion Kanjuruhan. Namun, pihaknya menyebut bahwasanya tidak semua keluarga korban berkehendak yang sama. Ada juga yang ingin pertandingan Derby Jawa Timur tersebut digelar di Stadion Kanjuruhan.
"Keluarga korban itu banyak dan tidak semua keluarga korban yang sudah berkomunikasi dengan kami berkehendak yang sama, jadi banyak yang mendukung," ujarnya.
Dedi juga mengaku turut menghormati treatment yang dilakukan oleh semua pihak mulai dari unsur pemerintah, lembaga swasta, hingga Arema FC dan kepolisian pasca Tragedi Kanjuruhan. Atas dasar itulah, Aremania Bergerak berkomitmen akan menjaga kondusifitas bilamana pertandingan Arema FC vs Persebaya dapat digelar di Stadion Kanjuruhan.
"Kami akan melakukan secara teknis. Kami berusaha untuk melakukan itu (komitmen kondusifitas, red) secara teknis," imbuhnya.
Teknis kondusifitas tersebut, dijabarkan Dedi, juga turut meliputi kesepakatan antara suporter Arema FC dengan pihak terkait dalam membantu keamanan. Komitmen tersebut juga turut ditujukan sebagai upaya deteksi dini agar pertandingan tetap berjalan kondusif.
"Kami akan melakukan penguatan-penguatan ataupun solidaritas pengamanan secara swakarsa dari suporter membantu kepolisian, karena kalau pengamanan kan sudah domain (kewenangan, red) yang menjadi urusannya polisi," tuturnya.
Dedi menyebut, Aremania Bergerak sebagai suporter tuan rumah juga akan berkomitmen untuk menjadi pendukung sepakbola yang bermartabat dan terus berbenah. "Jadi tolong jangan direcoki, jangan di justice bahwa kita ini masih belum berubah atau belum siap, kita ini siap. Kalau saat ini kami menjamin 100 persen nggak terjadi apa-apa itu sombong namanya, tapi yang jelas kami mau berupaya, mau berusaha," pungkasnya.
