JATIMTIMES - Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan menolak pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya yang diagendakan bakal digelar di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026 mendatang. Tuntutan tersebut juga turut disampaikan kepada para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malang pada Selasa (14/4/2026) malam kemarin.
"Kehadiran kami di sini, tentunya karena kami melihat bahwa DPRD adalah sarana yang tepat untuk kemudian menyuarakan aspirasi keluarga korban. Kami menyampaikan tuntutan mutlak agar pertandingan Arema FC versus Persebaya dipindah dari Stadion Kanjuruhan," tegas Pendamping Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Rafi Azzamy, saat ditemui JatimTIMES di DPRD Kabupaten Malang.
Baca Juga : Aksi Kencang Pebalap Astra Honda Taklukkan Podium ARRC Sepang
Diakui Rafi, penolakan agar laga Derby Jawa Timur tidak digelar di Stadion Kanjuruhan tersebut tidak hanya keputusan mutlak dari para keluarga korban. Melainkan juga aspirasi sekaligus tuntutan dari sejumlah pihak yang masih mengingat dan menolak lupa akan Tragedi Kanjuruhan yang telah merenggut sekitar 135 korban jiwa tersebut.
"Sehingga DPRD yang tentunya sebagai salah satu representasi Forkopimda, sebagai salah satu ruang untuk kita menyampaikan pendapat. Tapi ini bukan hanya pendapat, kami sifatnya tuntutan," tegasnya.
Rafi menegaskan, jika tuntutan dari sejumlah pihak terutama para keluarga korban tersebut tidak dihiraukan termasuk oleh Dewan, maka pihaknya bakal berulang-kali mendatangi pihak terkait termasuk Dewan Kabupaten Malang untuk menyuarakan tuntutan tersebut.
"Tuntutan utamanya tentu adalah pindah dari Stadion Kanjuruhan. Laga Arema FC versus Persebaya harus dipindahkan dari Stadion Kanjuruhan," ujar Rafi yang juga sekaligus penulis buku: Mendobrak Kebuntuan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan tersebut.
Penolakan laga Arema FC vs Persebaya digelar di Stadion Kanjuruhan tersebut, dijabarkan Rafi, juga turut mempertimbangkan banyak faktor. Terutama faktor dari sisi keluarga korban yang bahkan hingga kini masih berduka atas peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 2022 tersebut.
"Alasan penolakan itu ada banyak, termasuk untuk menghormati momen yang sama itu. Kita tahu bahwa pertandingan yang sama, dilaksanakan di lokasi yang sama (saat Tragedi Kanjuruhan, red). Apalagi kalau bukan upaya politik kelupaan," ujarnya.
Baca Juga : Perempuan 64 Tahun Asal Gedangsewu Kidul Ditemukan Meninggal di Dapur Rumahnya, Polisi Lakukan Penyelidikan
Rafi kemudian mencontohkan beberapa hal. Misalnya alasan mengenai, kenapa peristiwa Holocaust hingga sekarang masih diingat. "Karena orang-orang Yahudi mengingat betul pembantaian itu. Kenapa hingga saat ini Marsinah dan Munir masih di ingat?, karena kita masih terus mengingat beliau," bebernya.
Atas beberapa pertimbangan itulah, Rafi menegaskan bahwasanya laga Arema FC vs Persebaya yang bakal dilaksanakan di Stadion Kanjuruhan tersebut sebagai upaya politik kelupaan. "Karena tentu jelas, mereka hendak menormalisasi apa-apa yang sudah terjadi di sana (Stadion Kanjuruhan, red)," ujarnya.
Sekedar informasi, usai menyampaikan tuntutannya ke Dewan Kabupaten Malang, puluhan pendamping dan keluarga korban Tragedi Kanjuruhan juga diagendakan ke Polres Malang. Yakni untuk turut menindaklanjuti tuntutannya melalui beberapa agenda lanjutan.
"Keluarga korban masih berduka. Selain duka, kita melihat ada niat jahat di sana. Ada upaya untuk mencari duit dari kuburan saudara-saudara kita Aremania (suporter Arema FC) yang meninggal di sana," pungkasnya.
